![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
Suatu pagi di sebuah kamar yang di dominasi oleh warna putih dan dipenuhi dengan banyak jendela dari kaca, seorang gadis terbangun dari tidur karena sang mentari yang telah mengintip masuk dari celah gordennya.
" Selamat pagi, nona " Ucap seorang kepala pelayan yang kini mulai membuka satu demi satu gorden yang menghalangi cahaya mentari pagi.
" Nggh... " Gadis itu melenguh pelan. Mengernyit sembari mencoba membuka mata perlahan, menyesuaikan cahaya mentari yang masuk ke matanya. Hingga iris merah senada rubby menunjukkan rupa-nya.
" Selamat pagi, Lucy.... " Ucap gadis itu masih mengantuk.
Si pelayan hanya membalas dengan senyum hangat dan ramah, gadis itu perlahan turun dari kasur dan bersiap untuk melangkah ke kamar mandi. Sayangnya baru saja gadis itu menurunkan kakinya ke lantai dan sebuah teriakan sudah dia dapati dari luar kamarnya.
" NANA BODOH, CEPAT BANGUN !" Teriak seseorang dari seberang kamarnya.
" Urgh.. BERISIK ! " Balas gadis itu berteriak setengah kesal. Seperti hari-hari biasa, walau mentari baru saja terbit keributan sudah di mulai di rumah ini.
" Haahhh.... tuan muda / noda muda. Tolong segera bersiap!!!" Pinta kedua kepala pelayan yang sudah bosan dengan pertengkaran tuan dan nonanya.
Tidak pernah sehari pun keduanya absen dari pertengkaran, sebenarnya kedua pelayannya itu juga heran. Padahal keduanya bisa sangat akur, tapi entah kenapa kedua majikannya memilih untuk selalu bertengkar. Sang tuan dan nona segera beranjak ke kamar mandi, dan selang beberapa lama hingga gadis tadi turun dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, dimana para pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
" Selamat pagi, Nona Nathalia!" Sapa para pelayan begitu sang gadis mendudukkan tubuh nya ke kursi.
" Selamat menikamati sarapan anda, nona muda ! " ujar sang kepala pelayan, Luciffer
" Thanks, Lucy! " ujar Nana memberikan senyum riang-nya pada sang kepala pelayan. Lucy, itu adalah panggilan yang diberikan Nana pada Luciffer.
.
.
.
Tidak lama setelah Nana mulai menyantap sarapannya, seorang pemuda tampan turun dari lantai atas dan berjalan ke arah meja makan. Seorang yang dari parasnya bisa menarik hati jutaan kaum hawa, memiliki paras yang sama persis dengan Nathalia hanya gender keduanya yang berbeda.
" Silahkan tuan muda! " Ujar kepala pelayan wanita yang sedari tadi berdiri disamping tuannya.
" hm... " Jawab pemuda itu dingin dan singkat, seakan tak acuh dengan ucapan sang pelayan.
Keduanya menyantap sarapan dengan tenang dan khidmat, hingga secara tidak sengaja manik kedua nya bersitatap. Membuat kedua nya mulai saling menggenggam erat sendok ditangannya, seakan genderang perang telah dibunyikan. Nathalia yang memulai serangan terlebih dahulu.
“ Apa kamu lihat - lihat!? “ Protes sang gadis kesal.
“ Heiii ! lihat dulu sebelum bicara, siapa yang sebenarnya melihat siapa ! “ Balas si pemuda tidak terima dengan protes dari si cantik di hadapannya.
“ Tuan muda / Nona muda!! “ Peringat kedua kepala pelayan yang masih setia berdiri di belakang kedua-nya.
“ Urgh.... “ si cantik dan pemuda itu mengeram pelan, kemudian memilih diam dan segera menyantap habis sarapan mereka, tidak ingin mendengar ceramah di pagi hari yang indah ini.
Tidak lama setelah pertengkaran itu, keduanya tengah asik menikmati sarapan. Dering ponsel membuat keduanya harus berhenti dari kegiatannya, Nana menatap pelayannya. Sedang yang ditatap, Luciffer maah nampak menatap bingung pada ponsel miliknya.
DRRRRR DRRRRR
DRRRRR
__ADS_1
“ Nyonya besar ? “ Gumam si kepala pelayan yang langsung menjawab telfon yang dari sang majikan, baru saja panggil di jawab dan wajah kepala pelayan itu memucat untuk sesaat, kemudian menoleh dan menatap kedua tuan nya yang masih asik menyantap sarapan.
“ Tuan muda dan nona muda !! “ Seru kepala pelayan sembari mempertegas suaranya, Nathalia menghela nafas sedangkan pemuda tadi berdecak kesal. seakan keduanya langsung mengerti dengan apa yang dihadapi oleh sang pelayan.
“ Hahh....., padahal sudah ku bilang untuk tidak usah menelfon ! “ rutuk pemuda itu kesal.
“Apa kalian sudah siap ..?” Tanya kepala pelayan pada tuan dan nona nya.
“ Hm, sambungkan..“ Jawab Nathalia malas.
Tidak lama kemudian panggilannya disambungkan, menampilkan seorang wanita paruh baya yang masih nampak begitu muda. Membuat siapapun yang melihatnya pasti terkejut jika wanita cantik itu sudah beranak tiga, bahkan anak-anaknya sudah remaja.
___________________________________________________________________________________________
* Selamat pagi...., sayang! * Ujar wanita di telfon menyapa si cantik dan pemuda itu.
* Hhaah..., ma! Kan aku sudah bilang untuk tidak usah menelfon! * Protes Nana merajuk.
* Cih,Nana bodoh ! Apa kamu tidak rindu dengan ibumu ini ?* Tanya wanita itu kesal, padahal mereka baru berpisah kemarin. Nana ingat dengan jelas bagaimana ibunya tidak rela melepas kepergiannya di bandara.
* Hahhh..., baiklah Nyonya Yukki! Jadi, apa yang harus kami lakukan hari ini ?” Tanya pemuda itu to the point, tidak ingin berbasa basi terlalu lama dengan sang ibu yang pasti akan membuat mereka terlambat berangkat ke sekolah.
* Ah..! Kuro sudah ada disini ya ...!? * Ujar sang ibu terkejut mendengar suara si pemuda
* Hahh.., aku sudah disini sejak tadi. Hanya saja kami menjawab panggilan video dengan ponsel, karenanya aku tidak terlihat ! * Jelas sang pemuda yang di panggil Kuro.
* Ahahaha....maaf-maaf. baiklah Kuro, aku ingin kalian berdua pergi ke SMA terbaik di sana dan aku ingin kalian mengurus perusahaan disana! * Ujar sang ibu memberi titah pada kedua anak nya
* Baiklah, Ma. Aku menyerah, akan kami lakukan !" Balas Nana lelah, padahal dalam hati-nya mengeluh. Seharusnya kepindahannya kemari membuantnya bisa bebas sejenak dari tumpukan kertas-kertas yang selalu minta di tatap sepanjang hari.
* Baiklah! Kuserahkan semuanya pada kalian, jaga diri kalian baik-baik ya! * Ujar sang ibu lembut, sebuah senyum terukir indah diwajah nya. membuat Nana dan Kuro ikut melukis senyumnya.
* Ma, tenanglah. Kak Kuro ada disini! semua akan baik-baik saja, Kak Kuro akan menjagaku ! * Balas Nana lembut, mencoba menenangkan sang ibu.
* hm, tenang saja. Beritahu Papa, semua akan baik-baik saja! Kami akan saling menjaga disini !* Sambung Kuro dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.
* Haha..., baiklah! Kalau begitu Mama tutup telfonnya ya!?" Ucap sang ibu sembari melambaikan tangannya.
* Bye-bye * Balas kedua nya sebelum layar ponsel mereka kembali ke beranda.
____________________________________________________________________________________________
Panggilan di putuskan sepihak oleh sang ibu, membuat keduanya bisa bernafas lega sekarang. menjawab panggilan dari sang ibu sama seperti mendapat ultimatum dari musuh, benar-benar membuat Nana dan Kuro kehabisan tenaga di pagi hari yang indah ini.
“ Hah, baiklah ! Sekarang saatnya pergi ..” Ajak Kuro pada sang adik.
“ Hm, oh ya kak! Jangan mempermalukan aku nanti ! “Ujar Nana sinis, dia tidak mau hari pertama nya di kacaukan oleh sang kakak.
“ Hah....., tenang saja! Aku akan menguasai sekolah itu dalam waktu 3 hari ! “ Ucap Kuro bangga, menyombongkan kemampuan berkelahi-nya.
“ Hm, aku yakin akan hal itu. Aku percaya padamu kak! “ Jawab Nana santai.
__ADS_1
Keduanya beranjak dari meja makan, merapikan seragam sekolah mereka sejeak sebelum berjalan menuju ke garasi rumah nya. Melangkahkan kaki menuju salah satu mobil yang terparkir di sana, keduanya memilih pergi dengan ferrari Callifornia T keluaran terbaru menuju ke sekolah yang telah di pilih sang ibu untuk keduanya.
Sepanjang jalan Nana sudah disibukkan dengan telfon dari sekertarisnya, sedang Kuro menfokuskan dirinya pada jalanan. Butuh waktu 45 menit bagi mereka untuk tiba di sekolah, laju mobil dengan perlahan di turunkan. Setibanya di depan gerbang masuk sekolah, Kuro mulai memperlambat laju mobilnya dan mengarahkan kemudinya ke area parkir yang tersedia.
" Jadi ini? SMA Royal...." Gumam Kuro begitu mereka memasuki gerbang sekolah, nampak bangunan sekolah yang moderen dan mewah di hadapannya.
" Ternyata tidak buruk juga " Sahut Nana mengedarkan pandangannya ke sekitar.
" Ayo kita pergi " Ajak Kuro sembari membukakan pintu untuk adik kesayangannya, Nana melangkahkan kaki nya keluar.
" Oh ya, apa kamu yakin dengan penampilan ini? " Tanya Kuro sekali lagi sembari memperhatikan penampilan sang adik dari atas ke bawah.
" Hm, lebih menyenangkan seperti ini !" Jawab Nana santai.
" Hahhhh...., baiklah aku tidak akan ikut campur dengan ini okay! " Kuro menghela nafas lelah, sudah terbiasa dengan perilaku aneh sang adik.
" Hm, tenang saja! aku bisa menjaga diriku sendiri!" Ujar Nana percaya diri.
" Hm..." Hanya deheman singkat yang di berikan Kuro sebagai respon, bagaimanapun dirinya khawatir dengan keselamatan sang adik.
Kedua nya mulai melangkahkan kaki nya masuk ke gedung, membawa diri mereka menuju ke arah ruang kepala sekolah yang bahkan diri mereka sendiri tidak tahu dimana letaknya. Sepanjang perjalanan keduanya terus saja berbincang dengan ramah ( dimata orang lain, padahal sedang sibuk bertengkar karena hal sepele lainnya_-) dan tanpa mereka sadari kedua nya malah tersesat entah kemana.
" Hm, kita tersesat?" Tanya Kuro menatap sekeliling, lorong benar-benar sepi. Sepertinya semua murid sudah masuk ke kelas saat ini.
" Kalau begitu, kanan atau kiri?" Tanya Nana menatap lorong disampingnya.
" baiklah..."
" 1"
" 2"
" 3" Begitu Kuro selesai menghitung kedua nya berucap.
" Kiri/Kiri" Ujar keduanya bersamaan.
" Pfft, ahahahhahaa"
" Hahahahhahaa" Keduanya tertawa bersamaan.
" Sudah-sudah, ayo!" Ajak Nana menarik lengan sang kakak yang masih tertawa.
Kaki nya dilangkahkan begitu saja mengikuti intuisi mereka, hingga beberapa lama keduanya berhenti di depan ruang yang mereka cari-cari sedari tadi.
" Ah, ketemu!" Ujar Kuro menatap pintu bertuliskan kepala sekolah di samping kanan nya.
" Ayo masuk!" ucap Nana sembari mengetuk pintu itu dengan perlahan.
TOK
TOK
__ADS_1
pintu diketuk dengan perlahan, sembari menanti jawaban dari sang pemilik.
" masuk "