![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
" APA?" Teriak Alan dan James yang baru saja membuka mata dengan sempurna, mereka dikejutkan lagi oleh perkataan Louis.
" Hahhh, kalau sudah tahu cepat bantu aku!" Ucap Ryoma memberi titah, Louis segera mengambil kunci mobil dan
memanaskan mobil.
" Hei jangan lupa bawa dompet dan ponsel kalian!" Ucap Ryoma mengingatkan dan James langsung mengambil
dompetnya.
" Alan hubungi tuan muda!" Ryoma memberi titah, hal ini membuat Mereka bertiga jengkel namun, dalam kondisi seperti ini menurutinya akan membuat semuanya lebih baik.
" Cih, kenapa kau yang memberi perintah?" Gumam James yang menyuarakan protesnya.
" Kalau kau masih punya tenaga untuk bicara, sebaiknya kau gunakan untuk mempercepat langkahmu!" Sahut Alan yang berjalan tidak jauh di depan James.
" Berisik!" Ketus James yang membuat Alan terkekeh puas.
.
.
.
Ryoma segera membawa Nana menuju ke parkiran basement, tempat dimana Louis telah menunggu mereka ber-empat. Saat ini mereka berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Ryoma memeluk erat Nana guna memberikannya kehangatan. Perjalanan berlangsug cukup lama, hingg mereka tiba dirumah sakit dan membuat keributan, bagaimanapun Nana adalah yang paling penting jadi, mereka tidak begitu peduli dengan apa yang mereka lakukan.
Suster segera membawa brangkar dan Nana dibawa menuju ke salah satu kamar VVIP yang ada disana, tidak lama setelahnya dokter masuk dan memeriksa keadaannya. Sementara itu ke-empat pria tampan itu kini tengah khawatir, mau bagaimana lagi? Nana sudah bagaikan jiwa mereka sendiri, jika terjadi sesuatu dengan Nana, maka mereka tidak bisa memaafkan diri mereka sendiri.
" Ah, Dokter! bagaimana keadaan Nana?" Tanya Alan yang melihat dokter keluar dari ruangan segera memberikan
segudang pertanyaan.
" Nona baik-baik saja, dia hanya terkena demam ringan!" Jawab dokter itu dengan tenang, hal ini membuat mereka berempat lega.
" Kalau begitu bisakah kami membawanya kembali?" Tanya James yang sudah tidak tahan dengan bau obat yang memenuhi ruangan.
" Hm, kalian boleh membawanya pulang!" Jawab dokter itu dengan tenang,selang beberapa lama setelah kepergian dokter itu Kuro tiba disana.
.
.
__ADS_1
.
" Dimana Nana?" Tanya Kuro panik. Pemuda itu terlihat sangat kacau, rasanya seperti dia telah melakukan marathon 100Km menuju rumah sakit.
" Dia ada didalam!" Jawab James dengan tenang.
" Lalu bagaimana keadaannya?" Tanya Kuro yang masih mencoba mengatur nafasnya yang menderu berantakan
setelah berlari dari basement.
" Tidak apa-apa, hanya demam ringan!" Jawab Louis yang baru keluar dan mengendong Nana dalam pelukannya.
" Ah, Nana!" Kuro terkejut melihat adik tercintanya itu tengah terlelap dipelukan Louis, wajahnya terlihat begitu pucat, tubuhnya begitu lemah, rasanya dada Kuro sesak.
" Kenapa dia begini?" Tanya Kuro sembari menatap ke-empat pria yang ada disana dengan tatapan yang teramat
dalam.
" ITU KARENA KAMI!!!" Jawab mereka ber-empat secara bersamaan, Kuro sedikit terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut mereka. Ia kira Nana begadang semalam lagi karena pekerjaan.
" Hahh, kalau begitu kalian akan mendapat hukuman!" Ucap Kuro menunjukkan smirknya, tanda senyum licik penuh makna itu membuat mereka berempat sedikit terkejut.
" KAMI AKAN MENERIMANYA!" Jawab mereka kompak bersamaan, membuat Kuro makin mengembangkan senyumnya.
" Eh, ta..tapi kami harus membawanya kemana?" Tanya Alan bingung dimana mereka bisa merawat Nana, tidak
mungkin mereka membawanya menuju ke markas. Hal ini mungkin membuat semua anggotanya panik.
" Aku tidak peduli, kalian bisa memesan hotel atau membawanya ke markas!" Ujar Kuro mencium kening sang adik kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Oi, tuan muda sialan! Kemari kamu!!"Teriak Louis yang kesal dengan sikap seenaknya dari Kuro.
"...."
Kuro hanya diam dan melambai membelakangi mereka sembari berjalan menjauh. Terbesit sedikit ke khawatiran dihatinya, namun dia masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada menjaga Nana. Dia harus mengurus seluruh anggota keluarga Yuuki dan Rose, juga megurus masalah perushaan yang harus ia selesaikan sendiri.
" Hahhh, jadi kemana kita akan membawa Nona?" Alan mengeluh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
" Kita tidak mungkin membawanya ke hotel, terlalu berbahaya!" James menyela, ia tidak ingin ada penyerangan di tempat yang merepotkan seperti hotel.
" Hm, tapi apa mungkin kita merawatnya di markas?" Ucap Ryoma mengingat kalau markas itu sangat berisik, setiap hari seluruh bawahannya harus berlatih, dan kadang akan ada uji coba senjata baru yang sangat berisik. Pasti Nana akan merasa terganggu.
__ADS_1
" Haahhhh..., sudalah! Kita bawa saja ke tempatku" Ucap Louis menyerah dengan pikirannya. Lebih baik dia mengorbankan apartemen kesayangannya untuk nonanya itu dari pada masalah ini menjadi lebih parah.
" Kalau begitu, ayo cepat!" Ucap Ryoma menyeret Louis yang tengah menggendong Nana.
Mereka bergegas pergi menuju ke appartemen milik Louis, setibanya diparkiran basement apartemen, Louis masih membawa Nana di pelukannya menuju ke kamar appartemennya.
" Louis, apa passwordnya?" Tanya Alan yang tiba didepan pintu lebih dulu dari yang lainnya.
" 272326" Teriak Louis yang berjalan dengan terburu-buru sambil menggendong Nana.
TIT TIT TIT ...PIP..
Pintu terbuka, Alan dan James langsung masuk dan pergi menuju ke dapur. Alan membuat bubur untuk Nana dan
James mengambil sewadah air dan handuk untuk mengompres Nana. sedangkan Louis dan Ryoma membawanya masuk ke kamar Louis. Hanya ada satu kamar di appartemen ini, jadi Lousi terpaksa menyerahkan kamarnya demi kebaikan sang Nona.
" Cepat baringkan Nona!" Ucap Ryoma yang membuat Louis berdecak kesal, pasalnya sejak tadi ia yang menggendong Nana dan Ryoma hanya memberi perintah.
" Iya-iya!" Ketus Louis yang segera membaringkan Nana ke atas ranjang.
" Aku membawakan kompres!" Ucap James masuk dan memberikan kompres untuk Nana. Ryoma segera mengambil handuk dan memerasnya, kemudian ia letakkan pada dahi Nana.
" Hahh, ini melelahkan!" Keluh Ryoma merebahkan dirinya ke sofa yang ada di dalam kamar Louis, Louis bergumam kesal mendengar perkataan Ryoma.
" Urgh..maaf merepotkan kalian.." Lirih Nana membuka matanya, terdengar jelas suaranya sangat lemah. Gadis itu menatap langit-langit kamar Louis, plafon putih dengan kombinasi cat hitam dan putih menghiasi dinding ruangan tersebut. Benar-benar sederhana, sama seperti Louis.
" Ah, maaf membangunkanmu" Ucap Ryoma berjalan menuju ranjang kemudian mengusap surai perak kemerahan itu dengan lembut.
" ..." Nana menggeleng pelan, dia menatap sekitarnya.Seperti tengah mencari sesuatu disana.
" Dimana Kakak?" Tanyanya lemah, dia menatap Ryoma dengan pandangan kebingungan dan berharap Ryoma akan memberitahunya bahwa sang kakak tengah membuatkan makanan untuknya, atau tengah mengeluh di kamar mandi dan alasan lain yang akan membuatnya tertawa..
" Dia... tidak disini , ada hal lain yang perlu dikerjakan Tuan muda Kuro!" Jawab Ryoma hanya bisa tersenyum dan mengusap lembut kepala pemilik perak kemerahan itu.
" aku-.../ aku bawakan bubur!" Ucap Alan memotong kata-kata Nana, Pemuda itu langsung masuk dan membawa bubur itu pada Nana.
" Nonaku, saatnya makan!" Ucap Alan duduk di tepi ranjang, Alan meminta Ryoma untuk membantu Nana duduk.
" Ehm.." Nana menggeleng, dia hanya ingin kakaknya sekarang. Ya, sejak dulu memang hanya Kuro yang selalu
menjaga dan merawatnya ketika sakit, kalaupun Kuro ada masalah mendadak paling tidak dia akan membuatkan bubur untuknya.
__ADS_1
" Sayang... setidaknya makanlah dulu!"