![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
" Ayo kita keluar.." Ajak Nana ragu, dia melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu dengan perlahan.
" Tidak..mungkin..." Ucap Nana dan Kuro terkejut mendapati sosok yang kini tergeletak tidak sadarkan diri di jalan, beruntung orang itu nampaknya tidak mengalami cedera berat.
" Kita bahas itu nanti, sekarang ayo bawa dia ke rumah sakit !" Ucap Kuro yang mengangkat tubuh sosok itu dan memapahnya ke mobil, sedangkan Nana membukakan pintu belakang mobilnya. Kuro melajukan mobilnya ke rumah sakit, dalam perjalanan keduanya termenung dalam diam. Kuro sesekali melirik pada kaca spion untuk memeriksa korban, sedang Nana benar-benar larut dalam pikirannya hingga tanpa terasa mereka tiba di rumah sakit. Nana segera berlari keluar dan memanggil perawat sedang Kuro memapah korban mereka keluar.
" Dokter ! Suster !" Teriak Nana begitu masuk membuat keterkejutan para staf yang berjaga, hingga mereka mendapati Kuro bersama sosok korban yang masih dipapah membuat kegaduhan, para perawat langsung dengan sigap mengambil brangkar dan menangani sosok tersebut.
" Ah, cepat bantu dia!" Seru salah seorang perawat kepada rekan-rekannya dengan panik.
" Apa yang terjadi dengan-nya ?" Tanya suster itu sembari memeriksa tanda vital sang korban.
" Dia tiba-tiba berlari ke jalan dan tidak sengaja tertabrak mobil kami !" Ujar Nana panik.
" Baiklah kalian urus administrasinya, kami akan merawatnya" Ucap dokter yang baru tiba disana mencoba menenangkan situasi.
" Baik !" Jawab Kuro, keduanya pergi untuk mengurus administrasi. Saat sudah selesai keduanya duduk di kursi tunggu yang ada disebelah ruang UGD, sedari tadi Nana tidak bisa berhenti memikirkan berbagai skenario yang mungkin sedang dialami oleh mereka saat ini.
" Kak.." Lirih Nana memanggil Kuro, walau begitu Nana tidak menatap sang kakak bahkan bisa dibilang dirinya tengah menatap kosong pada dinding dihadapannya.
"..." Tanpa banyak bicara Kuro memeluk Nana erat, membawa gadis itu ke pelukannya. Berusaha supaya sang adik merasa tenang dan aman.
" Tenanglah, kita akan memastikannya!" Ucap Kuro menenangkan Nana yang gemetar.
" Hm.." Nana berdehem singkat, mengeratkan pelukannya pada sang kakak
" Ayo pulang terlebih dahulu, kau butuh istirahat " Ajak Kuro, sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan sosok itu sendiri disana, tapi dia sadar kalau tubuh adiknya juga sedang tidak baik jadi Kuro mengutamakan sang adik.
.
.
.
" Selamat datang, tuan muda ! nona muda !" Sambut Luciffer dan Himawari bagitu keduanya tiba di mansion
" Apa kalian ingin makan sesuatu ?" Tanya Himawari pada keduanya, Nana menggeleng pelan. Wajahnya nampak lesu dan pucat, hal ini tentu membuat Luciffer khawatir.
" Tidak, aku mau tidur..." Jawab Nana lesu, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.
" Hhaah.." Kuro menghela nafas lelah, melepas jas miliknya dan memberikannya pada Himawari.
" Luciffer, bawakan teh chamomile untuknya " Perintah Kuro pada Luciffer
" Baik, tuan !" Jawab Luciffer yang bergegas pergi menuju dapur
" Hima, ambilkan laptopku !" Pinta Kuro pada pelayan-nya.
" baik tuan !" Jawab Himawari yang segera mengambil laptop Kuro, sementara itu Kuro duduk disofa dan meremat rambutnya. Entah apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi, ini benar-benar membuatnya gila.
__ADS_1
" Bagaimana mungkin ini terjadi ?" Tanya Kuro sembari berpikir, dia memutar otaknya begitu lama akan tetapi tidak ada satupun jawaban yang dia dapati.
" Sudah 10 tahun kami mencari, lalu kenapa ? Kenapa sekarang tiba-tiba dia kembali?" Kuro bergumam pelan, kedua tangan disatukan menopang dagu, memasang pose berfikir ekstra.
" Silahkan, tuan !" Ucap Himawari memberikan laptop Kuro
" Ah, thanks" Jawab Kuro sedikit terkejut dengan kedatangan Himawari, sepertinya dia terlalu sibuk berfikir sampai tidak menyadari keadaan disekitarnya.
Kuro membuka laptopnya, hal pertama yang dia lakukan kali ini adalah memeriksa TKP. Kuro mulai memeriksa kamera pengawas disekitar tempat itu dan menyelidikan apakah orang itu sering berada disekitar sana akhir-akhir ini. Kuro juga tidak lupa mencari data dan latar belakang sosok tadi, hingga setelah cukup lama waktu berjalan dan akhirnya Kuro mendapati apa yang dia cari.
" Mungkinkah.... ?" Gumam Kuro yang tidak percaya akan apa yang dia temukan
" Aku harus memberitahu Nana !" Ucap Kuro yang bangkit dan segera berlari ke kamar Nana.
DRAPP
DRAP DRAPP...
Suara langkah kaki Kuro yang tengah berlari menaiki tangga...
" NANA, CEPAT BUKA PINTUNYA !" Teriak Kuro dari tangga membuat Nana yang tengah beristirahat dikamarnya merasa terganggu.
" APASIH ? BERISIK !" Teriak Nana yang membuka pintu dan mendapati kakaknya yang tengah mengatur nafasnya didepan pintu, membuat Nana menatapnya heran.
" Hah.. ahh... hahh... hhaa.." Kuro kehabisan nafas setelah berlari, jadi dia masih mencoba mengatur nafasnya.
" Eh, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nana khawatir mendapati kondisi sang kakak yang nampak kacau
" Ada apa ?" Tanya Nana bingung, gadis itu menutup pintu dan melangkah masuk ke dalam kemudian menghempaskan tubuhnya ke sisi ranjang
" Lihat ini !" Ucap Kuro menunjukkan hasil penyelidikannya, Nana menggeser tubuhnya mendekat pada sang kakak agar bisa melihat apa yang ingin ditunjukkan Kuro di laptopnya.
" Ray..mond.. ?" Ucap Nana terputus, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ditemukan oleh Kuro.
" Ba-bagaimana bisa? Kenapa ini terjadi ?" Tanya Nana yang masih sangat terkejut akan apa yang ditemukan Kuro, semua yang terjadi tidak bisa di cerna oleh otaknya.
" Aku tidak tahu, tapi jika ini memang takdir ? Kita harus mempercayainya!" Ujar Kuro mencoba menyakinkan sang adik, Nana masih diam tak mampu mencerna apapun saat ini. Otaknya berputar, walau begitu dia tidak bisa menarik kesimpulan apapun.
" Besok aku tidak masuk, aku akan memeriksanya sendiri" Ucap Nana yang membuat Kuro menghela nafas dan mengembangkan senyumnya.
" Aku mengerti, sekarang istirahatlah " Ucap Kuro lembut.
" Hm, aku sudah tidur tadi ! Kamu saja yang mengganggu tidurku !" Ketus Nana menarik Kuro untuk bangkit dari ranjangnya kemudian mendorong sang kakak keluar dari kamar.
Keesokan harinya, pagi yang indah seperti biasa begitu pula agenda pagi di kediaman ini, semua berjalan dengan begitu normal dan dimulai dengan...
TOK TOK
" Permisi, tuan muda ! "
__ADS_1
" Permisi, nona muda !"
Seperti biasa setiap pagi dimulai dengan Himawari dan Luciffer yang membangunkan kedua tuannya
KRIETTT...
Suara pintu kamar Natalia terbuka menampilkan sosoknya yang sudah rapi dengan pakaian santai dan senyum indah diwajahnya.
" Eh, nona! anda sudah bangun ?" Ucap Luciffer terkejut mendapati Nana telah terbangun sepagi itu, biasanya Nana bangun lebih siang dari Kuro karena dia harus mengurus masalah perusahaan juga masalah lainnya yang membuatnya begadang semalaman. Atau mengatasi trauma dan nightmare yang terkadang mengganggu malamnya, membuatnya tak mendapat istirahat yang cukup sehingga terpaksa bangun lebih lambat.
" Uhm, Lucy bisa antar aku ke rumah sakit ?" Tanya Nana pada sang pelayan
" RUMAH SAKIT? APA ANDA BAIK-BAIK SAJA NONA ? "
" APA ANDA SAKIT ? "
"SAYA AKAN SEGERA MEMANGGIL DOKTER UNTUK ANDA ! " Ujar Luciffer yang panik karena dilanda oleh kekhawatirannya
" Haha, aku baik-baik saja. Ada seseorang yang harus ku temui di rumah sakit " Jawab Nana menenangkan, sedangkan Luciffer menghela nafas lega.
" Baik, saya akan segera menyiapkan mobil ! " Ujar Luciffer yang langsung beranjak pergi ke bawah menyiapkan mobil untuk mengantar Nana ke rumah sakit
" Urgh, keributan apa yang terjadi pagi ini ?" Gerutu Kuro yang baru bangun dari tidurnya, dia keluar dari kamar masih dengan kaos dan boxernya, juga air liur yang masih ada disudut bibirnya. Nana terkekeh mendapati sang kakak yang nampak lelah setelah begadang semalaman mengantikan pekerjannya.
" Selamat pagi, kak " Sapa Nana lembut, tak lupa memberikan kecupan selamat pagi di pipi sang kakak. Membuat Kuro yang sebelumnya setengah sadar langsung membuka mata karena terkejut dengan sang adik yang tiba-tiba mencium pipi-nya.
" Kau ? Apa kau demam Nana?" Tanya Kuro bingung, dia masih belum benar-benar sadar. Bahkan jiwanya yang ditarik masuk dalam sekejap tak mampu memproses apa yang terjadi
" Tidak apa, hanya Lucy yang sedang terburu-buru" Jawab Nana seadanya
Sementara Nana dan Kuro bercengkrama, Himawari yang berdiri didepan pintu sedari tadi tengah terkejut mendapati kedua kakak beradik itu akur pagi ini. Bahkan kepala pelayan wanita itu benar-benar membeku saking terkejutnya, bukan hanya keduanya yang akur tapi juga Nathalia yang mencium pipi Kuro membuatnya semakin membisu.
AH???, APA AKU TIDAK SALAH DENGAR ? NONA NATALIA MEMANGGIL TUAN MUDA DENGAN SEBUTAN KAKAK ?- batin Himawari yang terkejut dengan keanehan yang terjadi pagi ini, tidak biasanya Nana memanggil kuro dengan sebutan Kakak tanpa adanya maksud tersembunyi
" Oh, Himawari ? Apa yang kamu lakukan disini ?" Tanya Kuro yang mendapati kepala pelayannya ada disana, masih berdiri sembari terpatung dan melamun.
" Himawari..."
" Himawari !"
" HIMAWARI ! " Kuro memanggil pelayannya beberapa kali akan tetapi tidak mendapati jawaban hingga akhirnya Kuro terpaksa menaikkan nada suaranya, membuat wanita berkepala 4 itu tersadar dari lamunannya.
" Ah, tuan muda ? Apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya Hima yang baru sadar dari lamunannya.
" Sedang apa kamu disini ?" Tanya Kuro lagi, kali ini suaranya terdengar lelah bahkan Kuro nampak memijat pelipisnya.
" Ah, itu.. saya mau membangunkan anda !" Jawab Hima linglung
" Aku sudah bangun, sekarang cepat siapkan sarapan !" Titah kuro pada Himawari
__ADS_1
" Eh, baik tuan ! " Jawab Hima bergegas pergi dan menyiapkan sarapan, meninggalkan Kuro dan Nana yang masih berdiri didepan pintu.
"Aku berangkat dulu "