![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
" Kak.." Nana melirik pada kuro sekilas
SRATT.....
Dengan cepat Kuro mulai menyalak korek dan membakar kontrak nya, dari belakang terlihat beberapa tulisan perjanjian yang merugikan pihak mereka. Sedang presdir anthonio membeku saking terkejutnya.
" Ah ? Ba-bagaimana bisa ?" Gumam Anthonio terkejut mendapati mereka mengetahui trik kotornya, padahal sudah banyak orang yang berhasil ia tipu selama ini. Lalu bagaimana si kembar bisa mengetahui trik kotornya?
TOK
TOK
Tiba-tiba sebuah ketukan membuat semua orang mengalihkan atensi mereka, Nana menghela nafas lelah karena mengetahui siapa sosok yang mengetuk pintu itu.
" Hhah, masuklah kak !" Ucap Nana memberi izin pada si pengetuk pintu
" Jadi ada perlu apa sayang ?" Tanya Mike, si pelaku pengetuk pintu yang kini berjalan masuk sembari melonggarkan dasi di kerah lehernya.
" M-Mike!!? B-b-bagaimana bisa !?" Teriak Anthonio terkejut mendapati sosok Mike yang masih hidup
" Hm, jadi kamu masih mengingatku ya ?" Tanya Mike memandang rendah pada sosok Anthonio yang kini terduduk di lantai dengan wajah terkejut.
" Ah !" Anthonio terkejut bukan main, dia bahkan sempat gemetar ketakutan
" Hahh, sayang apa gunanya kamu menemui sampah sepertinya?" Tanya Mike pada Nana dan Kuro. Sedang keduanya hanya menatap malas pada Mike, kalau bukan untuk membantu Mike membalas dendam pasti keduanya tidak sudi bertemu dengan sampah seperti presdir Anthonio.
" Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang" Ajak Mike yang diangguki oleh si kembar,
Nana, Mike dan Kuro berjalan pergi meninggalkan sosok Anthonio yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Seingatnya Mike sudah dia singkirkan, tapi kenapa sosoknya kembali lagi ke dunia ini? Ini adalah pertanyaan sekaligus ancaman besar baginya.
" Ah, senangnya!" Ucap Mike lega.
" Apa kakak akan mengambil alih Jinx Corporation ?" Tanya Nana pada Mike.
" Hm, tidak " Jawab Mike dengan santai-nya
" Eh, kenapa ?" Tanya Nana bingung, bukankah balas dendam ini untuk menghancurkan keluarga Jinx dan mengambil alih perusahaannya?
" Yah, Jinx corporation sudah bukan hak ku, selain itu aku sudah membuang nama Jinx sejak saat itu" Ujar Mike santai, matanya menerawang ke masa lalu. Mengingat seberapa keras perjuangannya dulu.
" Hm, rasanya teringat masa lalu !"Uucap Kuro yang mendapati Mike memutar balik ingatannya.
" Yah, aku masih ingat! waktu itu kamu yang menyelamatkanku !" Sahut Mike sembari memasang senyum iblis, mengingat sosok Kuro yang begitu muda dan polos saat itu. Juga sosoknya yang lebih baik dan tidak semenyebalkan yang sekarang.
" Hm, aku malas mengakuinya tapi aku menyesal menyelamatkanmu " Sarkas Kuro memalingkan wajahnya ke sisi lain
" What!!!" Ucap Mike terkejut, dan pastinya kesal, tapi dia tahu kalau makhluk yang satu ini benar-benar sulit mengungkapkan ekspresi didepan publik.
" Hm, thanks mike !" Ucap Kuro sembari mengukir senyum tipis, bahkan sangat tipis sampai kau butuh kaca pembesar untuk melihat sudut bibirnya yang ditarik.
" Bodoh ! Aku yang seharusnya berterimakasih " Gerutu Mike kesal, dia iri dengan kedua bersaudara itu. Keduanya nampak begitu keren dimatanya. Sang penyelamat dan yang diselematkan, rasa kagum dan hormat tidak akan pernah menghilang dari diri Mike untuk keduanya.
" Hm, tenang saja ! Aku pasti akan menjadi raja didunia hiburan !" Seru Mike penuh rasa percaya diri.
" Haha, aku percaya pada kakak " Nana tersenyum lembut, membuat Mike ikut tersenyum.
__ADS_1
" Oh ya kak, maaf kami harus pergi " Ucap Nana sedikit menyesal, masih ada urusan lain yang harus mereka kerjakan.
" Eh, kalian akan pergi ?" Tanya Mike sedih, padahal mereka baru berbincang sejenak tapi keduanya harus pergi sekarang.
" Hm, ada janji yang harus kami tepati " Ujar Nana dengan senyum lebar terukir tapi Mike menyadari satu hal, itu bukan senyum yang tulus.
" Hm, sampai jumpa lagi sayang !" Ucap Mike sembari memeluk Nana, Nana balas memeluk tubuh pria itu dengan erat.
" Sampai jumpa Kuro !" Ucap Mike mengukir senyum kecil
" Hahhh..., ini" Ujar Kuro sembari melempar sesuatu padanya, Mike tentu saja langsung refleks menangkapnya.
" Eh, ini ?" Mike terkejut mendapati benda yang dilempar oleh Kuro. Itu adalah kontrak pertama yang dia dapat dengan kerja kerasnya, dan Nana yang saat itu memberikan kontrak itu padanya.
" Ini kontrak pertamaku..., dan ini ?" Gumam Mike bingung mendapati sebuah kontrak baru, film itu tengah menjadi perbincangan yang sangat panas saat ini, dan Mike juga sedang berusaha mendapatkan kontrak kerja sama dengan produsernya.
" Jangan menyerah bodoh !" Ujar Kuro melambai sambil berjalan pergi
" Hah...anak itu selalu saja, walau dari belakang tetap saja terlihat keren !" Ucap Mike iri, tapi bagaimanapun dia harus berterimakasih pada kedua bersaudara itu. Tanpa keduanya keberadaanya bukan apa-apa, mungkin dia masih akan menjadi gelandangan ditepi jalan jika keduanya tidak menolongnya saat itu.
Kuro dan Nana pergi meninggalkan sosok Mike yang tengah menatap kepergian keduanya. Kini Nana dan Kuro sudah berada dimobil, mereka berniat menjauh dari sana menuju ke suatu tempat yang membuat mereka kesal terutama Nana.
" Apa kamu yakin Nana ?" Tanya Kuro khawatir
" Hm, tenang saja ! Aku ingin melepas perasaan ini" Jawab Nana tersenyum lembut, sudah lelah dengan semua ketidak pastian yang ada. lelah menggantungkan harapan, dan sudah muak dengan setiap peluang.
" Hah, baiklah " Kuro menginjak pedal gasnya, melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan mereka.
.
.
.
Setelah menempuh jarak beberapa puluh kilo dan memakan waktu puluhan menit. Kini keduanya tiba di tempat tujuan. Bukan sebuah gedung yang megah dimana sebuah pesta diadakan, atau restoran mewah tempat mereka biasa bertemu dengan klien. Tapi kali ini keduanya turun dan berjalan masuk ke sebuah pemakaman, Nana menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya erat. Dia akan melepskan semua bebannya saat ini juga.
" Disana ya ?" Gumam Nana yang kini tertunduk, matanya menatap tanah dibawahnya dengan nanar. Tempat seseorang yang harusnya saat ini tengah bercanda ria bersama mereka, akan tetapi kini...sosok itu terbujur kaku dalam tanah
" Iya " Jawab Kuro dingin
TAK
TAK TAK...
Suara langkah kaki Nana yang memakai *healls* terdengar sangat jelas\, keduanya terus berjalan hingga
tiba di salah satu makam yang ada disana. Nana memandang gundukan tanah dibawahnya, dengan nisan di ujung gundukan itu. Tertulis nama seseorang yang membuat hati Nana teriris pedih.
" Haaahhh..." Nana menghembuskan nafas panjang, sebelum membuka suara
" Senang bertemu denganmu, Raymond.... " Ucap Nana lirih, terdengar jelas dari suaranya yang bergetar menahan tangis.
" Maaf membuatmu menunggu selama ini..."
" Apa kamu tahu, selama ini..."
__ADS_1
" Selama ini aku masih tidak percaya...."
" Dan aku menunggu! "
" Terus menerus menunggu!"
" Dan tanpa ku sadari, aku sudah menunggu selama 10 tahun ! "
" Tetapi..."
" Tapi kenapa?.... ,Kenapa?..., "
" RAYMOND !!!!" Teriaknya didepan makam itu, Kuro yang melihat sang adik yang hancur membuat sudut
hatinya berdenyut sakit. Kesedihan yang Nana rasakan juga dia rasakan, kehilangan sosok yang begitu dicintai memang menyakitkan.
Tak bisa dipungkiri Kuro juga merasakannya, bukan hanya karena kembarannya bersedih hati. Tapi juga karena sosok yang terbujur di bawah sana telah mengecewakannya, telah menghancurkan hatinya, memberikannya luka dan penderitaan yang tidak bisa ia ucap. Walau begitu, Nana jauh lebih menderita. Sosok itu telah menghancurkan dan merenggut semua yang Nana miliki, membuat amarah dan dendam tercipta dalam hati sang kakak.
" Urgh...maaf ! " Ucap Nana yang tengah menghapus air matanya, gadis itu sadar kalau yang telah dia lakukan itu sia-sia. Berbicara dengan sebuah nisan benar-benar menunjukkan rasa putus asa-nya.
" Ray ! Aku harap kamu tenang disana, dan aku.. tidak akan pernah melupakanmu... " Ucap Nana lirih, terdapat nada penyesalan dan kerinduan disana. Kuro mengepalkan tangannya sebelum mengulurkan lengannya untuk menepuk punggung sang adik.
" Nana..." Kuro menepuk punggung Nana dari belakang
" Ah, aku mau berdoa dulu !" Ucap Nana sendu, Kuro mengangguk sebagai jawaban.
" Aku akan menunggumu dimobil " Sahut Kuro melangkah pergi.
" Hm..."
Setelah beberapa lama berdoa. Akhirnya Nana menguatkan hati dan tubuhnya, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja jika melupakan sosok itu. Hingga dia berhasil membawa tubuhnya beranjak bangkit dari sana.
" Maaf , aku harus pergi.." Lirihnya mulai berbalik
" Percayalah, aku selalu mengharap kamu kembali"
" Karena, sampai saat ini aku tidak percaya akan kematianmu " Ucap Nana lembut, mendongak menatap langit penuh bintang malam itu. Orang bilang kalau orang yang sudah pergi akan berubah menjadi bintang di langit, dan Nana tengah bertanya apa sosok 'Raymond' juga telah menjadi bintang diatas sana?
Nana kemudian melangkah pergi menghampiri sosok sang kakak yang sudah menantinya, Kuro masih berdiri diluar. Bersandar pada mobil mewahnya, kedua tangannya disilangkan dan kepalanya masih menatap lurus pada sang adik yang nampak kacau.
" Ayo pergi !" Ajak Kuro menarik Nana dan membukakan pintu untuk sang adik.
" Hm.." Nana hanya bisa tersenyum pasi, melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Kuro melajukan mobilnya kembali ke rumah, saat diperjalanan tiba-tiba Nana mendapati seseorang yang melintas
dengan sembarangan ditengah jalan. Sedangkan Kuro yang sepertinya belum menyadari hal itu, sehingga laju mobilnya tetap dipercepat.
" Kuro, AWAS!!!!!" Teriak Nana panik.
" AH! " Kuro yang sadar dengan apa yang ada didepan mereka langsung memutar kemudi menghindari bahaya, membuat mobilnya menghantam pembatas jalan. Sudah dipastikan bagian depan mobil mereka akan penyok
" Ah...hah...hahhh....!" Nana yang masih sangat terkejut mencoba mengatur nafasnya, kemudian menoleh pada sang kakak yang juga nampak sama terkejutnya.
" Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nana pada Kuro yang masih terdiam.
__ADS_1
" Hm..." Kuro mengangguk pelan, walau ekspresi keterkejutan masih jelas terukir di wajah sang kakak.
" Ayo kita keluar.."