![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
" Iya-iya, aku mengerti!" Ucap Nana
Kuro mengantar Nana hingga ke kamarnya, setelah Nana mengusir Kuro pergi dari kamar si cantik. Nana melangkah pergi ke kamaar mandi begitu pula Kuro yang membilas tubuhnya dan mengerikan tubuh mereka yang basah setelah masuk ke kolam. Beberapa lama setelah Nana selesai mandi, Luciffer datang dan mengetuk pintu kamar Nana
" Permisi..." Ucap Lucifer meminta izin, Nana yang tengah berbaring diatas ranjang langsung beranjak bangun dan menjawab.
" Masuklah !" Jawab Nana memberi izin pada pelayannya.
" Nona, dokter sudah datang" Ucap Lucifer memberitahu Nana dari daun pintu.
" Persilahkan dia masuk " Balas Nana lemah, gadis itu seakan kehilangan seluruh tenaganya begitu dia terjatuh ke kolam tadi.
" Baik! " Jawab Lucifer yang beranjak pergi dari kamar Nana dan memanggil sang dokter untuk masuk.
Luciffer membuka jalan bagi sosok di belakangnya untuk masuk, seorang pria berkepala 3 yang sudah melanjutkan jejak sang ayah sebagai dokter pribadi keluarga Yuuki. Ah salah, tepatnya dokter pribadi Nathalia semenjak 4 tahun yang lalu.
" Silahkan Dokter Hakku !" Ucap Lucifer mempersilahkan sang dokter untuk masuk ke dalam.
" Permisi..." Ucap Dokter Hakku
" Kak Hakku!" Seru Nana mendapati keberadaan Hakku di kamarnya, gadis itu menatap pria itu penuh binar. Melupakan semua rasa sakit dan takutnya sesaat, seakan seluruh lelahnya hilang begitu mendapati sosok pria dihadapannya itu.
" Hm, apa lagi yang kamu lakukan ? " Tanya Hakku lelah, seingatnya terakhir kali mereka bertemu adalah 3 hari yang lalu karena Nana tiba-tiba menggila.
" Ah, kali ini bukan aku ! Anak-anak itu menjahiliku dan mendorongku ke kolam !" Jawab Nana dengan manja, gadis itu benar-benar melupakan semua hal.
" Hahhhh..." Hakku menghela nafas lelah, mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang kemudian membuka tas peralatannya.
" Kemarikan lenganmu !" Titah Hakku menyuntikan antibiotik agar Nana tidak terkena demam
" Argh...."Erang Nana saat jarum suntik itu menembus kulitnya.
" Siapa suruh kamu tidak menurut ! " Gerutu Hakku yang melanjutkan pemeriksaan, setelah beberapa lama Hakku menyimpan barang-barangnya kembali ke tas.
" Hehe..." Nana hanya membalas dengan cengiran tanpa rasa bersalah.
" Bagaimana perasaanmu ?" Tanya Hakku sedikit khawatir, walau begitu wajahnya masih sama datarnya seperti sebelumnya.
" Hm, aku baik-baik saja. Hanya saja tadi... aku mengingat hal itu, aku melihat bayang-bayang dirinya. Seorang lelaki kira-kira usianya 20-an, tingginya 180 dan memiliki proporsi tubuh ideal..." Ucap Nana dengan tubuh yang gemetar, bahkan Hakku bisa mendapati bola mata gadis itu bergerak gelisah.
" Lalu apa ada yang lain lagi ?" Tambah Hakku kembali menyelidik.
" Aku melihat.... lambang pistol yang disilangkan dibalakangnya ada Red Corn Poppy" Lirih Nana
" Ha, Red Corn Poppy ?" Gumam Hakku tidak mengerti
" Apa ada hal lain ?" Tanya Hakku lagi
" Tidak ada, aku tidak bisa mengingatnya." Jawab Nana lesu.
" Baiklah, ingat untuk meminum obatmu !" Peringat Hakku sembari menatap Nana tajam, bagaimanapun gadis ini sangat sulit jika diminta minum obat.
" Hm..., aku tahu! " Balas Nana mengantar Hakku keluar dari kamar. Tidak lama setelah Hakku pergi, datang seorang masuk ke kamar Nana.
" Permisi..." Ucap sosok itu sembari mengetuk pintu kamar Nana.
__ADS_1
" Masuklah !" Balas Nana singkat
" Nona muda, saya membawakan bubur untuk anda " Ucap Himawari membawa senampan bubur di tangannya.
" Letakkan saja disana" Jawab Nana santai.
" Baik " Himawari meletakkan bubur dimeja kemudian melangkah pergi dari kamar Nana
" Hima ! " Panggil Nana membuat kepala pelayan wanita itu berhenti sejenak.
" Apa ada yang bisa saya bantu, nona ?" Tanya Himawari menunduk hormat, Nana nampak merogoh sesuatu dari laci meja.
" Ini, berikan padanya !" Ucap Nana melemparkan kalung Kuro yang terjatuh saat menolongnya dikolam.
" Ah, baik Nona " Ucap Himawari undur diri
Setelah Himawari pergi, Nana menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Mencoba memejamkan mata sampai rasa sakit menyerang tubuhnya.
" Urgh..." Nana mencoba bangun dan melangkah kan kakinya berjalan ke kamar mandi.
" Uhuk..uhuk..uhuk...urgh..." Tiba-tiba Nana terbatuk dan muntah, pikirannya tengah melayang dan tubuhnya sudah sangat lemas.
" Urgh...." Nana duduk bersandar di dinding, matanya sudah sangat lelah untuk tetap terjaga. Rasa sakit semakin menjadi pada kepalanya, membuat gadis itu tak mampu bergerak.
Tiba-tiba sebuah suara mengalihkan atensinya, Nana menoleh ke sumber suara itu dan mendapati sosok yang dia kenal berada disana.
" Tenanglah ! Aku disini " Ujar Kuro yang entah bagaimana bisa berada di belakangnya saat ini, memeluk tubuhnya yang terasa semakin melemah.
" Ah..., kamu melihatnya ya..." Lirih Nana, dia menoleh dan mendapati sang kakak yang berada di belakangnya.
Rasa takut terus menyerang Nana, gadis itu terlalu takut mengingat masa lalunya, seluruh tubuhnya gemetaran hingga dia tak kuat berdiri. Tubuh Nana jatuh karena kakinya yang terlalu lemah, dan ini justru membuat Kuro semakin takut dan khawatir.
" Nana!" Kuro yang panik langsung mendudukkan tubuh sang adik di pangkuannya, memeluk pinggang ramping adiknya dan menyandarkan kepala sang adik di bahunya.
" Hei, bukankah sudah kubilang jangan sembarangan masuk " Keluh Nana lemah, gadis itu masih saja berniat bercanda walau kondisinya benar-benar kacau. Hal ini tentu saja membuat sang kakak merasa kesal, seakan kekhawatirannya itu percuma.
" Cih.., jangan banyak bicara ! " Ucap Kuro sembari menggendong Nana ke atas ranjang
" Thanks " Lirih Nana dengan senyum pasi diwajahnya.
" Hm, jangan melihatku begitu ! Aku tidak akan mengasihanimu!" Ucap sang kakak dingin, hal ini malah membuat sebuah senyum mengembang diwajah sang adik.
" Aku tahu, tapi kamu tetap sayang padaku kan " Ledek Nana yang membuat rona tipis muncul di pipi Kuro.
" Hahh.., siapa suruh kamu jadi adikku !" Sahut Kuro tidak kalah pedas.
" Hehe.." Nana terkekeh
" Oh ya, untuk nanti malam lebih baik kita tidak datang " Final Kuro sembari menyelimuti tubuh sang adik.
" Eh, kenapa ?" Tanya Nana sedih, padahal dia sudah menantikan pesta yang akan mereka datangi seharian ini. ya walau tujuan sebenarnya bukan untuk datang ke pesta, tapi Nana menantikan pertemuan mereka dengan seseorang yang penting malam ini.
" Kamu harus istirahat !" Ucap Kuro mutlak.
" Huhh..." Nana mendengus kesal
__ADS_1
" Terserahmu sajalah !" Sambung Nana kesal, dia sangat ingin datang ke pesta itu karena dia ingin menemui salah seorang teman lamanya. Tapi, Kuro melarangnya. Apa lagi kondisinya saat ini juga sedang tidak baik, jadi Nana
mengalah walau dia tidak terima.
" Hahh.... baiklah, kalau kamu begitu ingin maka kita akan pergi !" Ucap Kuro mengalah, tidak mampu melihat senyum di wajah si cantik luntur begitu saja.
" Benarkah??? " Tanya Nana bersemangat, membuat senyum kecil terbit di wajah Kuro.
" Hm.." Sahut Kuro dengan deheman pelan.
" Yay...aku sayang kamu , Kuro ! " Seru Nana sembari memeluk Kuro erat, seakan seluruh tenaganya kembali dalam sekejap layaknya anak kecil yang berhenti merajuk kala sang ibu memberikan permen.
" Urgh..\, sesak !" Ucap Kuro sembari melepas pelukan *cekikan* Nana
" Nah , sekarang kamu tidur dan istirahat ! " Ucap Kuro sembari mengacak puncak kepala sang adik.
" Hmmm.." Dehem Nana kesal karena Kuro mengacak-acak rambutnya
" Haha, aku pergi dulu " Ujar Kuro sambil ke luar dari kamar sang adik.
Nana beristirahat setelah kepergian Kuro, sedang Kuro mempersiapkan segala hal untuk pergi ke pesta nanti malam. Tanpa terasa malam datang dengan cepat, Nana yang sedari tadi tertidur dan beristirahat kini tengah bersiap untuk menghadiri pesta bersama sang kakak.
" Nana ! Cepatlah !" Teriak Kuro dari lantai bawah, pasalnya pemuda itu telah menanti sang adik selama setengah jam lebih dan sang adik belum juga menunjukkan sosok nya.
" Huhh..., tidak perlu teriak-teriak ! " Keluh Nana keluar dari kamarnya
" Ayo pergi !" Ajak Nana begitu dirinya tiba di lantai bawah, nampak sang kakak sudah duduk diatas kap mobil mereka.
" Hm..." Kuro berdehem sambil mematikan poselnya, melirik sang adik sejenak sebelum melangkahkan kakinya.
" Ayo cepat!!!!" Seru Nana
Kuro dan Nana akhirnya pergi dengan sebuah Ferrary berwarna hitam, selama perjalanan Kuro mengomel karena Nana yang masih nampak pucat. Sedang Nana hanya bersikap tak acuh pada sang kakak, setibanya di tempat Pesta......
.
.
.
" Selamat datang Tuan dan Nona !" Sambut para pelayan begitu Nana dan Kuro masuk.
" Eh, lihat ! Siapa mereka ?" Ujar seseorang yang mendapati kehadiran si kembar
" Wah anak itu tampan sekali !"
" Hm, gadis itu juga sangat cantik...."
Baru saja mereka masuk dan satu demi satu ucapan terlontar, saling bersauh untuk keduanya. Mereka disambut dengan pujian dan pandangan kagum dari para tamu. Si kembar hanya mengukir senyum formal, tanpa niatan membalas pujian dari para tamu.
" Tuan muda Yukki ! Nona muda Yukki !" Panggil seseorang yang berada tidak jauh dari keduanya, membuat atensi semua orang tertuju pada sosok itu.
"Ah.., lihat siapa yang datang!" Ucap Kuro sedikit terkejut, Kuro dan Nana berjalan menghampiri pria itu
" Wah Tuan muda dan Nona muda Yukki , kapan kalian tiba ?" tanya sosok itu sembari mengecup punggung tangan Nana, membuat Kuro melayangkan tatapan membunuh pada pria itu.
__ADS_1
" Kami baru tiba kemarin, senang bisa bertemu dengan Raja-nya Film di pesta seperti ini"