![RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]](https://asset.asean.biz.id/re-publish---my-cute-boy-friend---remake--.webp)
" Alan, bisa kamu mengambil cetak biru di laci kantorku di Queen! Paswordnya dua ke kiri, empat ke kanan dan lima ke kiri. " Alan hanya meanggukan kepalanya lemah.
" Alan, Ryoma mulai sekarang kekuasaan Ryu dan Queen akan jatuh ke tangan kalian, dan perintah terakirku untuk kalian adalah...hiduplah dan tolong.... jaga kakakku!" Nana tersenyum, kristal bening mulai turun dan membasahi wajah Kuro. Bahkan diakhir hayatnya, Nana masih memikirkan orang lain.
" Louis..."Ucap Nana menatap ke manik yang ada diatasnya, Louis hanya mengangguk dan memandang wajah indah yang tak kan pernah pudar walau kini memucat.
" Tolong... jaga K7 " Ucap Nana mengulurkan tangannya guna menghapus air mata Louis, Louis hanya mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kata Nana.
" Dan tolong, berhenti menangis. Kalian boleh menangis dalam hati, tapi tidak didepan orang-orang. Kalian adalah tubuh dan jiwaku, jadi bagaimana mungkin seorang Nathlia Yuu menangis didepan umum?" Nana terkekeh ketika mengucap kata-kata itu, sungguh lucu.... Tapi, Nana tidak ingin perpisahan yang menyedihkan.
Mendengar kata-kata Nana tangis mereka pecah, isakan terus keluar dari bibir mereka, buliran air mata telah membentuk anak sungai diwajah mereka.
" Hahh...senang betemu dengan ka..li...an...." Ucap Nana menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Louis, Kuro langsung memeluk
tubuh dingin adiknya. Ryoma dan Alan menangis semakin menjadi, dan Louis. Louis membeku ditempat, ia tidak percaya nonanya tewas dipangkuannya.
.
.
.
10 tahun berlalu
"Papa! Papa! " Panggil seorang gadis kecil yang berlari menuju ke arah pria tinggi dengan rambut perak yang tidak jauh darinya.
" Ada apa, Lia?" Tanya pria itu berjongkok dan menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu, sang gadis menorehkan senyum manis diwajahnya.
" Papa lihat, aku menemukan liontin yang sangat cantik!" Ucap gadis itu menunjukkan sebuah liontin emas dengan corak bunga mawar. Sang ayah sangat mengenal liontin itu, liontin yang
sangat berharga milik seorang pangeran yang kehilangan sang putri.
" Ehh, bukankah ini milik Tris?" Ucap seorang wanita muncul dari belakang pria itu, ia menatap ke arah liontin yang dipegang oleh putrinya.
" Ah, Nana!" Ucap pria itu, ya ia adalah Kuro. Kuro terkejut saat ia membuka liontin itu dan mendapati foto mendiang adik kembarnya disana.
" Ada apa, Pa?" Tanya gadis kecil itu menatap bingung pada ayahnya. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba mimik wajah ayahnya berubah, senyum lembut yang tadi menghiasi wajah sang ayah
kini menghilang.
" Tidak apa, Papa hanya mengingat gadis cantik difoto ini!" Ucap Kuro menunjukkan foto yang ada dalam liontin itu.
" Wah, cantiknya!" gadis kecil itu terpesona dengan kecantikan wanita yang ada difoto itu, sebuah bingkai kecantikan yang sempurna dan senyum yang begitu indah menghiasi lukisan
__ADS_1
sempurna itu.
" Pa, siapa ini?"Tanya gadis itu sembari menatap ke dalam manik mata ayahnya, ada banyak pertanyaan yang terlintas didalam pikirannya.
" Dia.... bibimu" Kuro menorehkan sebuah senyum diwajahnya. Yora dapat merasakan hati Kuro yang tengah teriris kala melihat senyum suaminya.
" Lalu dimana bibi?" Tanya gadis itu penuh rasa penasaran, tiba-tiba kristal bening mengalir dari wajah Kuro membuat gadis kecil itu terkejut.
" Papa apa papa baik-baik saja?" Tanya gadis itu terkejut mendapati air mata mengalir di wajah ayahnya, dia tidak pernah melihat ayah tercintanya ini bersedih. Apalagi sampai meneteskan air mata di wajah tampannya.
" Ah, Papa baik sayang" Ucap Kuro menghapus air mata dan menenangkan dirinya. Dia ingat kalau dia sudah pernah berjanji, dan dia tidak bisa melanggar janjinya.
Nana sekarang aku akan membawa
keponakanmu untuk bertemu dengan mu. -batin Kuro menatap langit
Kuro mengusap surai perak milik anaknya itu dengan lembut. Surai yang selalu di idam-idamkan oleh sang adik kini dimiliki oleh putrinya, dengan mata biru yang sama dengan milik Nana. Rasanya putrinya benar-benar mewarisi seluruh gen keluarga Yuki, bahkan tidak ada satupun dari sang putri yang mirip dengan Yora.
" Ayo kita bertemu dengan bibi!" Ucap Kuro mengangkat tubuhnya kemudian menggendong sang putri kecilnya.
Mereka menaiki setiap anak tangga yang akan membawa mereka ke makam Nana. Setibanya di area makam, mereka mendapati Tris ada disana. Dia tengah berdoa dengan khidmat sampai tak menyadari keberadaan mereka.
" Paman Tris!!"Seru gadis itu turun dari gendongan Kuro kemudian berlari kearah paman kesayangannya itu.
" Ehh, Nathalia!!"Ucap Tris terkejut mendapati gadis kecil itu melompat ke pelukannya.
" Ah, paman sedang mengunjungi seseorang" Jawab Tris sambil menengok ke arah makam Nana.
" Hei, kamu menghilangkan ini!" Kuro melempar Liontin milik Tris yang tadi hilang.
" Ah, thanks!" Ucap Tris menangkap Liontin yang tadi dilempar oleh Kuro, dia membuka Liontin itu dan menatapi Foto Nana. Tunangannya yang tidak akan pernah bisa ia nikahi, gadis cantik yang telah berjanji bahwa mereka akan selalu bersama tapi gadis itu mengingkari.
" Paman, apa kamu mengenal bibi?" Tanya gadis itu menatap ke iris merah milik Tris. Tris terkejut mendengar gadis kecil itu menyebut Nana dengan panggilan bibi, kapan Kuro memberitahu Nathalia soal Nana?
" Apa Nathalia tahu siapa gadis cantik ini?" Tanya Tris menatap lembut ke iris biru shapire yang ada didepannya. Iris cantik yang senada dengan milik mantan kekasihnya itu membuat Tris kembali menyelam dalam ingatan.
" Papa bilang itu bibi, apa paman tahu dimana bibi?" Tanya gadis itu menatap wajah Tris dengan pandangan bingung, dia mengharap sebuah jawaban dari paman tersayangnya itu.
" Ya paman mengenalnya, dia adalah wanita tercantik yang pernah paman lihat! Dia adalah seorang gadis yang sangat kuat, tak kenal takut, gigih, dan seorang pejuang yang berani. Dia
adalah Nathalia Yuu, jiwa dari Tristhan Rose" Jawab Tris menatap makam disebelahnya dengan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
" Nathalia Yuu? Kenapa namanya sama dengan nama Lia?" Tanya gadis itu semakin bingung dengan kata-kata pamannya.
__ADS_1
"Sayang bisa kita berdoa lebih dulu?" Tanya Kuro membawa putri kecilnya itu menuju ke dekat makam Nana. Gadis itu berdoa dengan khidmatnya walau dia tidak tahu siapa yang telah terbaring disana.
" Jadi dimana Bibi sekarang pa?" Tanya Lia penuh penasaran. Gadis itu sudah tidak sabar ingin menanyakan seribu pertanyaan pasa sang ayah.
" Ini makam bibi, hari ini papa ingin mengenalkan Lia pada bibi!" Ucap Kuro yang membuat Lia bingung, kenapa sang papa mengatakan bahwa bibinya adalah sebuah makam? Apa yang bisa ia
mengerti kecuali sang ayah ingin mengatakan kalau bibinya sudah meninggal?
" 1ah, bibi maaf! Lia tidak mengenali bibi! Lia minta maaf, lia telah bersikap tidak sopan pada
bibi!!" Ucap Lia yang membuat Kuro tersenyum kecil, putrinya benar-benar menggemaskan.
Kuro, Yora, dan Tris hanya tersenyun kecil melihat tingkah manis Nathalia. Kuro dan Yora kembali dengan doa mereka,bsetelah selesai mendoakan Nana. Yora membawa Nathalia pergi di ikuti dengan Tris yang mengekori mereka.
" Nana" Panggil Kuro menyentuh ujung makam Nana, dia menatap nanar ke arah nisan itu. Rasa rindu dan kehilangan membuatnya hampir gila.
" Kamu melihatnya bukan, dia adalah putriku. Namanya Nathalia, aneh bukan? Padahal aku tidak pernah mau gadis lain menyandang nama adik kesayanganku. Tapi, apa kamu tahu kenapa aku tetap melakukannya?" Kuro merebahkan dirinya disamping makam Nana, manik matanya menatap langit biru yang begitu indah. Dia selalu teringat akan sang adik kala memandang langit.
" Hahh....Yora yang memaksaku memberinya nama itu. Padahal aku berencana memberi nama Yuko untuk anak manis itu. Apa kamu tahu apa yang dia katakan?" Tanya Kuro menoleh pada makam sang adik, kemudian kembali menghadapkan wajahnya ke langit.
" Dia bilang, dia melihatmu didalam diri gadis kecilku. Yora bilang ada aura hangat dan lembut yang sama seperti aura mu, dan aku akui itu. Gadis kecilku memang sangat mirip sepertimu.
" Kuro tersenyum lembut memandangi langit biru, tiba-tiba butiran bening jatuh dan membasahi wajahnya.
" Ah, maaf! Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku hanya menangis didepanmu kok! " Jelas Kuro
" Nana, aku tahu mungkin ini sudah terlambat. Tapi, kemarin Ryoma, Alan dan Louis memberiku sebuah kertas. Aku sudah membukannya, dan aku sudah membaca pesanmu! Tapi, kenapa setelah 10 tahun dan kamu baru mengizinkannya terbuka? "
" Aku benar-benar putus asa! Aku pikir aku sudah bisa melupakan masa lalu, tapi setelah membaca pesamu, aku ingat. Hidup bukan hanya mengenai diri kita. Aku akan berusaha memperbaikibhubungan kedua keluarga, aku akan kembali ke sana" Kuro menggenggam erat
kepalan tanganya, walau sangat menyakitkan baginya harus kembali ke tempat yang sudah membuangnya tapi, itu adalah permintaan terakhir sang adik tercintanya.
Kuro sudah memikirkan hal ini ribuan kali, dan akhirnya memutuskan untuk melakukan permintaan terakhir adiknya itu. Walau sangat tidak percaya tapi yang dia baca itu benar-benar tulisan tangan milik sang adik.
" Nana, sebelum aku pergi...aku mohon padamu! Seperti kamu yang selalu melindungiku sejak dulu, aku mohon! Tolong...lindungi keluarga kecilku, tolong lindungi Lia ( panggilan yang diberikan Kuro pada putrinya ). Aku mohon padamu...Nana, jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah pergi dariku. Aku....aku sudah cukup kehilangan dirimu, dan kini Lia yang menyandang namamu...dan menjadi cahayaku yang baru."
" Karenannya....lindungi dia. Jangan sampai dia memikul beban yang dulu kita bawa, jangan sampai dia menderita . Jangan sampai dia merasakan rasa sakit ataupun kesedihan. "
" Dia memang sama sepertimu, tapi...dia memiliki sesuatu yang tidak kita punya. Dia lahir dibawah nama Yuu yang memiliki kekuasaan di dunia ini. Dia lahir dengan kekuasaan, nama,
kehormatan, tahta, kekayaan, kecantikan, kecerdasan, dan perlindungan yang luar biasa. Selalu ada ribuan bodyguard yang mengikutinya selalu ada ribuan pelayan yang melayaninya. Selalu ada ratusan dokter yang memastikan kondisi kesehatannya, dia tumbuh dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan keluarga. "
" Ya, walau aku gila kerja tapi, aku selalu meluangkan waktuku untuknya. Aku selalu menyimpan sedikit waktu untuk melihatnya tumbuh dan aku memasang sikap overprotektif yang tidak pernah aku berikan padamu, tapi aku memberikan sikap itu padanya. Aku telah
__ADS_1
memutuskan untuk menjadikan dirinya sosok wanita hebat sepertimu, yang hanya tumbuh dibawah sorot lampu yang sangat terang bukan sinar bulan yang menghangatkan tetapi tidak bisa mencerahkan sang langit. Aku akan membuatnya menjadi matahari yang terus bersinar menyinari langit biru, membawa kehangatan dan kebahagiaan. Tanpa ada kejahatan apapun yang mengikutinya."
" Selamat tinggal, Nana"