RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]

RE PUBLISH : MY CUTE BOY FRIEND [ REMAKE ]
I've sacrificed


__ADS_3

" Aku mengorbankan masa kecilku untuk belajar bisnis dan mengurus perusahaan, itu adalah keinginan keluarga Yuuki!"


" Aku menghabiskan hidupku dibawah bayang-bayang Queen, Apa kamu pikir aku tidak takut? Aku melakukan itu demi melindungi keluarga Yuuki, demi mencari sosok kakak kesayangannku yang dulu hilang, dan mencari kakak iparku yang ditangkap disana."


" Aku terus hidup dalam pelarian bukan karena keinginanku, setiap hari selalu penuh ancaman, setiap hari selalu terjadi perang, aku bahkan masih sempat memikirkan kalian disaat posisiku sendiri tidak menguntungkan!"


" Aku membiarkan nama Yuuki menginjak-injak harga diriku dan aku hanya diam. Ibuku setiap hari mengacuhkanku, ayahku hanya bisa pergi bekerja dipagi dan malam."


" Hanya Kuro, hanya dia yang selalu bersamaku. Hanya dia yang ada untukku, hanya dia harta yang ku miliki. Apa kalian masih belum cukup menghancurkanku? Apa aku belum cukup berkorban demi keluarga Yuuki? "


" Tubuh ini..tubuh ini sudah hancur! Aku sudah mati, hanya bagaikan mayat hidup. Apa kalian masih belum puas!" Ucap Nana melempar sebuah laporan kesehatan terbaru miliknya yang ia dapati berada di meja itu, sepertinya Kuro lupa menyimpannya.


" Ahhh, " Sang ibu terkejut kala membaca laporan itu, disana tertulis Nana mengalami kerusakan jaringan syaraf pada otak yang membuat sistem imunnya rusak, dan dia akan mati tidak lama  lagi.....


Semua orang sangat terkejut mendapati hal itu, Kuro dan yang lain hanya tertunduk dan diam. Mereka tidak ingin mengingat kalau sisa waktu Nana hanya sebentar, ya, sebentar. Itu yang membuat dokter melarang Nana pergi dari rumah sakit, pasalnya kondisi Nana sangat rentan saat ini. Dan gadis itu malah semakin keras kepala dan berniat pulang.


" Sekarang kumohon, kalian pergi dari sini dan biarkan aku hidup dengan damai" Pinta Nana menunjukkan pintu keluar pada mereka, semuanya terdiam. Mereka tidak pernah berpikir Nana yang begitu kuat dan periang akan mengalami hal seperti ini.


" TIDAK! INI BOHONG, LAPORAN INI PALSU!!" Bantah Lisa tidak percaya dengan apa yang dikatakan anak perempuannya itu, ya naluri seorang ibu tidak pernah mau mempercayai bahwa anaknya akan mati.


" Terserah kalian, kalian bisa percaya atau kalian bisa menghiraukannya. Itu hak kalian!" Ucap Nana menatap tajam mata orang-orang yang ada didepannya, tatapan sedingin es dan setajam


elang itu menghipnotis mereka, membuat mereka takut dan tidak berani beranjak


dari sana.


" Nana!!" Pekik Kuro dan Ryoma terkejut, sebuah cairan berwarna merah mengalir keluar dari hidung Nana. Nana hanya terdiam begitu tetesan pertama dari cairan itu menetes ke lantai.


GYUUTT


Tiba-tiba Nana jatuh dan pingsan, dia mungkin


kelelahan. Perubahan emosi sungguh tidak baik bagi kesehatannya, semua orang yang ada disana sangat terkejut mendapati Nana mimisan hanya karena marah. Ini bukan Nana, mereka pasti bermimpi. Akan tetapi Ryoma dan yang lainnya sangat tahu akan hal itu, mereka langsung membawa Nana menuju ke kamarnya, sedangkan Alan masih bersikukuh mengusir tamu tidak diundang itu.


Kuro langsung mengambil tisu dan melipatnya, Louis pergi menelfon dokter dan Ryoma sibuk membersihkan darah yang mengalir ke tubuh Nana. Ini sudah 10 menit dan mimisannya tidak berhenti, tentu saja hal ini mereka semakin khawatir.

__ADS_1


" Bagaimana dengan Nana?" Tanya Alan yang baru selesai dalam acara usir mengusirnya langsung menuju ke kamar Nana


" Darahnya tidak mau berhenti!" Panik Ryoma yang sibuk menganti tisu yang berada dihidung Nana. Mereka semua menjadi sangat khawatir.


Tris yang sejak tadi diam kini juga tengah berdoa berharap kalau Nana baik-baik saja. Ya, hanya pemuda itu yang Alan biarkan untuk tinggal. Bagaimanapun Tris masih tunangan Nana, jadi Alan biarkan ia mengetahui kondisi sang nona.


Beberapa puluh menit berlalu dan dokter pribadi Nana tiba disana, dia memeriksa kondisi Nana yang benar-benar buruk kemudian memberikan obat, memarahi para pemuda itu dan beranjak pergi. Tidak lama  setelah dokter pergi Nana tersadar dari pingsannya.


" Nana!!" Semua orang memeluk erat gadis itu, mereka lega Nana baik-baik saja.


" Apa yang?" Bingung Nana membersihkan tisu yang ada dihidungnya, dia melihat darah disana. Kini dia menyadari apa yang terjadi, dia kelelahan kemudian mimisan dan setelahnya


pingsan.


Nana akhirnya mendapat ceramah panjang lebar dari mereka ber-empat, kini telinganya sudah sakit mendengarnsuara keempat laki-laki itu. Nana hanya diam sambil memainkan ponselnya,


sesekali tidak lupa dia bersandiwara dan akhirnya mendapat pukulan yang mendarat


diatas kepalanya.


pepohonan sudah menggugurkan semua daunnya, sebentar lagi musim dingin tiba.


" Kak" Panggil Nana yang masih memandang ke arah jendela. Dia berpikir, mungkin sisa waktunya hanya sebentar lagi. Musim dingin adalah hal terbesar yang harus dia hadapi, dengan sistem


imun yang sangat lemah seperti itu, dia yakin dia tidak akan bertahan.


" Ada apa?"Tanya Kuro menatap Nana dengan penuh kesedihan, terkadang nampak jelas laki-laki itu mengalirkan air matanya secara tidak sengaja,


" Apa kakak bisa memanggilkan Tris?" Pinta Nana menatap kakak laki-laki kesayangannya itu, dia membuat sebuah senyum simpul di wajahnya. Kuro menyadari maksud senyum itu, pasti akan ada sesuatu yang terjadi kedepannya.


" Hmm, aku akan memanggilnya" Jawab Kuro berjalan pergi menuju ke luar dan memanggil Tris yang ada diruang tamu dengan Ryoma.


" Kenapa kamu mencari Tris?" Tanya Alan tidak mengerti dengan jalan pikiran Nana, bukankah Tris dan Yora yang menjadi penyebab kedatangan Keluarga Yuuki, Amber dan Keluarga Rose menuju ke mansion mereka?


" Ada sesuatu yang harus ku bicarakan dengan Tris" Jawab Nana yang hanya menarik sebuah senyum yang indah. Alan yang melihat senyum itu merasakan sakit yang teramat dalam, hatinya teriris melihat nonanya hancur.

__ADS_1


" Apa kamu akan menghukumnya?" Tanya Louis mulai menatap Nana dengan pandangan yang tidak menyenangkan, raut wajahnya terlihat sangat khwatir, tersirat sedikit kesedihan


dari sana.


" Hmm, sebuah hukuman yang bisa saja membuatnya bunuh diri" Balas Nana kembali menatap ke luar jendela, dia tidak ingin mereka melihat kilauan mutiara dimatanya.


" Tidak apa!" Ucap Louis tiba-tiba saja memeluk Nana dari belakang, Nana yang terkejut dengan hal ini malah menumpahkan air matanya, Alan yang terkejut mendapati Nana menangis kini ikut memeluknya.


Hatinya merasa sakit, mereka tidak ingin melihat Nana yang lemah. Mereka hanya ingin melihat senyum manis Nana, senyum tanpa beban walau ada ribuan rintangan dan halangan yang terlihat jelas didepannya.


Senyum yang selalu hadir walau ia tau bahwa hanya akan ada rasa sakit dan penderitaan di depannya, senyum yang begitu tulus akan cinta dan perhatian, dan senyum penuh kepuasan saat gadis itu bahagia.


Sedangkan itu disisi lain, Tris langsung bergegas pergi menuju ke kamar Nana. dia menjadi sangat khawatir dengan keadaan Nana. Ya, mau bagaimana lagi? Pacarnya pingsan didepan matanya dengan hidung yang terus mengalirkan darah sedangkan dirinya tidak bisa berbuat


apa-apa.


" NANA!!" Panggil Tris yang langsung masuk kedalam kamar Nana. Pintunya tidak dikunci bahkan pintu itu dibiarkan terbuka, jadi ia bisa langsung masuk ke dalam.


" Tris..." Panggil Nana tersenyum pasi mendapati keberadaan tunangannya itu, dia melepas pelukan kedua laki-laki yang ada di depannya kemudian meminta mereka keluar.


" Nana, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Tris mendudukkan dirinya di tepi ranjang king size milik Nana, dia memegang tangan Nana dengan perlahan dan penuh kehati-hatian. Takut tak sengaja menghancurkan tubuh kecil yang rapug dihadapannya.


" Ah, Nana kamu sangat dingin!" Ujar Tris yang melepas tangan si cantik dan berusaha mencari jaket yang ada didalam lemari pakaian milik


Nana, setelah dia merasa mendapatkan jaket yang cukup hangat. Tris segera meggantungkan


jaket itu ke tubuh Nana, sedangkan Nana hanya terdiam dan tersenyum mendapati tingkah


tunangannya itu.


" Tris..." Ucap Nana menahan tangan Tris, dia mencium punggung tangan sang kekasih. Tris bisa merasakan tubuh Nana yang sangat dingin, bahkan kulitnya terlihat sangat pucat.


" Maaf, aku ingin memutus benang merah ini" Ucap Nana menatap sedalam-dalamnya menuju ke manik mata merah yang ada didepannya itu. Manik yang membara itu kini tengah menatap iris merah yang ada didepannya.


ayTatapan mereka saling bertemu, dan terus menyantu. Namun, nafsu tidak muncul diantara mereka. Lebih tepatnya Nana tidak memiliki nafsu untuk melakukan apapun, sedangkan Tris, kini jantungnya berdetak tidak karuan. Ia benar-benar takut kehilangan si cantik didepan matanya.

__ADS_1


__ADS_2