
" Sepertinya kamu sudah menyukai seseorang Kaisar." kata Seorang pria yang memiliki rambut berwarna merah dengan memakai baju berwarna coklat dan jubah berwarna merah.
Sedangkan Kaisar Maximilian tidak mempedulikan perkataan pria tersebut malah dirinya terlalu asik memperhatikan wajah Ratunya yang sedang tertidur pulas. Kaisar Maximilian yang tidak tahan melihat wajah cantik Elizabeth langsung mencium keningnya dengan lembut.
" Itu bukan urusanmu Alvan." kata Kaisar Maximilian sambil menatap tajam Alvan.
Sedangkan pria yang di panggil Alvan oleh Kaisar Maximilian hanya bisa terkekeh pelan. Alvan berjalan menghampiri Kaisar Maximilian yang sedang sibuk memperhatikan wajah dari Ratunya.
Alvan yang ingin menyentuh tangan Ratu Elizabeth yang sedang tertidur langsung di pukul oleh Kaisar Maximilian.
Pletak.....
" Aduh...." kata Alvan yang meringis sambil memegang kepalanya yang dipukul keras oleh Kaisar Maximilian.
" Pergi." kata Kaisar Maximilian mengusir Alvan dari kamarnya.
Awalnya Alvan ingin protes tetapi setelah melihat Kaisar Maximilian yang memandangnya tajam. Alvan memutuskan pergi dengan kekuatan sihirnya.
Setelah melihat Alvan pergi Kaisar Maximilian melepaskan jubah tidurnya dan membaringkan tubuhnya di samping Elizabeth yang sedang tertidur. Kaisar Maximilian merengkuh tubuh kecil Elizabeth kedalam pelukannya dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan.
" Aku tidak peduli kamu Elizabeth yang asli atau tidak. Tetapi bagiku kamu yang telah mengubah ku menjadi lebih baik. Aku mencintaimu." kata Kaisar Maximilian sebelum menutup matanya sambil memeluk tubuh Elizabeth.
...****************...
__ADS_1
Saat ini di lapangan Istana telah ramai di datangin para rakyat yang ingin menyaksikan eksekusi orang yang telah melukai pangeran.
Tidak lama kemudian Keluarga kekaisaran memasuki tempat yang di sediakan. Semua orang membungkuk hormat melihat kedatangan Kaisar dan Ratu. Elizabeth duduk di singgasana samping Kaisar Maximilian.
Beberapa lama kemudian di susul Stella yang di seret secara paksa oleh prajurit. Kondisi Stella sangat mengkhawatirkan dengan pakaian yang sudah lusuh dengan bercak darah dan rambutnya yang terpotong asal.
Banyak orang yang memaki Stella sepanjang ketika dijalan menuju tempat eksekusi.
Dasar sampah masyarakat....
Beraninya dia melukai pangeran....
Memang dia pantas mati....
Sedangkan Stella hanya diam mungkin ini adalah akhir hidupnya. Saat berada di tempat eksekusi Stella bisa melihat Kaisar Maximilian dan Elizabeth yang memandangnya dengan datar. Tidak ada satupun yang membelanya bahkan keluarga nya sendiri.
" Apa ada kata terakhir?" tanya Kaisar Maximilian sambil memasang wajah datarnya.
" Maaf." kata Stella sambil menundukkan kepalanya menyesal atas apa yang dilakukan selama ini.
Kaisar Maximilian mengangkat tangannya menyuruh melaksanakan eksekusi nya.
CRASH.....
__ADS_1
...****************...
Sudah sebulan berlalu setelah kejadian Stella yang di eksekusi. Hubungan Elizabeth dan Kaisar Maximilian semakin harmonis tiap hari.
Hari ini Pangeran Axello akan melaksanakan ulang tahun yang ke 9 tahun. Banyak para pekerja istana sibuk mempersiapkan acara yang megah ulang tahun sang Pangeran Mahkota.
Termasuk Elizabeth yang beberapa hari ini sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun bagi putera tertua nya.
Tetapi entah apa yang terjadi pagi ini Elizabeth sudah berulang kali bolak-balik berjalan ke kamar mandi untuk muntah.
Hoek....Hoek......
Elizabeth memuntahkan isi perutnya dengan di bantu Reina yang memijit punggung nya. Sayangnya Elizabeth hanya memuntahkan air bening dalam mulutnya.
Sedangkan Reina merasa khawatir terhadap kondisi Ratunya yang sejak tadi muntah.
" Apa anda ingin di panggilkan Dokter?" tanya Reina dengan memandangi Elizabeth dengan khawatir.
Sebelum menjawab kepala Elizabeth merasa berkunang-kunang dan tidak lama kemudian...
Bruk....
Continue....
__ADS_1