
Mereka terlempar sampai ketengah hutan.
" Brak..... "
" Ah.... "
Mereka terhempas hingga membuat tubuh mereka terluka, banyak goresan yang membuat kulit mereka lecet.
"Ahhhh. "
" Apa yang terjadi dengan mu ?" tanya Aran panik ke penjaga bayangan itu. Wajah penjaga bayangan itu sudah pucat pasi.
" Terimakasih tuan, nona saya sangat sena--ng - - bi - -sa ber--sa--ma ka--lian"
Penjaga bayangan itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba - tiba saja tubuh penjaga itu melebur dan hilang bagaikan asap.
Belum sempat berkata apa - apa ,bola api yang tak tau darimana terbang ke arah mereka.
Aran dan Zio menghindar secara bersamaan. Tapi anehnya api itu datang dari berbagai sisi dan sangat cepat.
Sudah satu jam mereka menghindar tapi bola api itu belum berhenti. Aran sudah sangat kelelahan.
__ADS_1
Ia juga tidak terlalu fokus karena sudah sangat kelelahan dan pusing yang menghantam secara tiba - tiba.
Aran menutup matanya dan membuka, terdengar Suara Zio yang tak terlalu jelas untuknya.
" Istri Awas "
Aran yang masih pusing membuatnya tidak terlalu mendengar suara Zio hanya semar - semar.
"Ah... "
Aran terkejut karena Zio berada di depannya dan terhempas jatuh ketanah dan Aran juga sudah tak merasakan pusing yang menghantamnya, itu sangat aneh.
" Istri aku i --gin mi--nta sa--tu per--mintaan. Se--bu--t aku --suami " ucap Zio yang sudah tergeletak lemah menatap Aran dengan kasih.
" Suami "
Zio tersenyum setelah itu hilang menjadi asap hitam.
Aran merasakan sesuatu di hatinya yang tak pernah ia rasakan selama ini. Sakit yang begitu dalam ,rasa bersalah dan kehilangan, Aran tak tau apa yang terjadi.
Setetes air mata turun membasahi pipinya. Sudah lama sejak ia meneteskan air mata bisa di bilang hanya saat bayi. Aran yang tak pernah meneteskan air mata tapi kali ini ia meneteskan air mata.
Ia merasa menyesal yang begitu dalam. Aran tak tau kenapa ia meneteskan air mata. Ia tak ingin tapi air mata itu menetes dengan sendirinya dan tak tau kapan akan berhenti.
__ADS_1
Aran terduduk di tanah ,kakinya tak kuat untuk mengangkat beban tubuhnya.
Bola api itu juga sudah hilang tak tau dimana. Aran merasa ini rencana seseorang tapi siapa. Itulah yang Aran pikirkan.
" Hm, teryata kamu masih memiliki hati " lelaki misterius itu tersenyum kecil dan hilang dari balik pohon itu.
Aran berjalan keluar hutan dengan tatapan kosong. Tak tau apa yang sedang ia pikirkan.
Selama perjalanan pun tak ada hewan buas yang menyerang atau mendekati Aran bahkan Aran tak melihat seekor pun.
Hutan juga gelap, sepi, sunyi seakan ikut merasakan gejolak aneh yang Aran rasakan.
Ia tak pernah merasakan itu tapi sekarang Aran rasakan. Sama saat kecil dulu, saat orang tuanya meninggal walau tak menangis tapi hati ini yang menangis. Sekarang Aran merasakan sesuatu yang lebih bercampur rasa bersalah.
Aran ingin melupakannya dengan kembali ceria dan melupakan yang terjadi di masa lalu.
Tatapan Aran bertambah dingin dan menusuk dengan warna mata hitam yang menusuk yang bisa menenggelamkan siapapun dalam ilusinya.
Aran sudah keluar dari hutan terkutuk itu. Aran berjanji siapa orang yang di balik kejadian itu, Aran akan membunuhnya.
Aran membakar hutan itu dengan api legenda yang di milikinya, setelah itu ia pergi dari sana menuju Gunung Xi.
Aran menuju hutan selanjutnya, ia tak ingin membuang waktunya.
__ADS_1