
Aran menatap sekelilingnya dengan .cermat dan teliti, satu persatu ia lihat tapi tidak ada terlihat sedikitpun masalah ataupun kerusakan yang terjadi.
Lalu Aran menuju tempat Xio dan Cilu yang terlihat meraka sedang duduk di air mengalir.
Terlihat di wajah meraka sepertinya meraka menikmatinya, sampai - sampai meraka tidak menyadari ke hadirannya.
"Ehm... "
Meraka melihat ke arah suara yang terlihat Aran berdiri di depan mereka dengan raut muka yang tidak bisa di tebak.
Sontak meraka langsung berdiri , dengan memegang dada mereka yang berdenyut kencang, saking terkejutnya.
" Nona.." panggil spontan Xio.
" Hm " Aran menatap meraka bergantian dengan titik fokusnya di mata meraka, ia ingin melihat sesuatu tapi tetap sama hasilnya nihil, meraka masih tidak bisa di tebak lalu Aran menatap tangan meraka yang hasilnya tetap nihil tangan mereka tidak menunjukkan apapun.
" Katakan yang sebenarnya, atau kalian akan ku bunuh " pinta Aran dengan menekan kata membunuhnya, tampa ada basa - basi, Aran langsung to the point.
Mereka diam, Aran tidak tau apa yang mereka pikirkan, seolah meraka tidak memikirkan apapun.
__ADS_1
" Jawab " bentak Aran, menatap ke dua manusia yang seperti bak patung itu.
" Maafkan saya nona, saya salah, hiks.. hiks... " ucap Xio dengan permohonan maaf dengan air mata yang lagi - lagi membasahi wajah Xio.
" Aku tidak butuh maafmu, tapi kebenaranmu " bantah Aran dengan penekanan di akhir kata. Menatap Xio setajam silet.
" Hiks... Saya sudah jujur nona " jawab Xio dengan suara kecilnya, Xio menunduk tidak berani menatap Aran dengan tatapan tajam yang di berikan Aran.
" Cik.." Aran menatap Xio kesal, karena tidak ada jawaban yang di berikan.
" Kamu .. " Aran meminta jawaban dari Cilu yang masih saja diam sejak tadi.
" Saya tidak tau apa - apa " jawab Cilu dengan menggelengkan kepalanya.
" Ah.. "
" Ah.... "
Suara rintihan dari dua insan yang sekarang sedang merintih sakit karena tubuhnya terasa di ikat dengan tali kencang dan juga kesulitan bernapas.
__ADS_1
"No-na, maa-fka-n sa-ya no-na ah... sa-kit no-na ah. " Permohonan maaf Xio dengan rintihannya.
" Jawabanmu " minta Aran dengan penuh penekanan, dengan menambah kepalan tangannya.
"ah... "
" No-na sa-ya ti-da-k sal-ah ke-na-pa a-n-da me-mba-wa sa-ya k-e si-ni? " tanya Cilu dengan suara terputusnya.
Aran memutar bola matanya jengah. Aran hanya diam di tempat menunggu sampai ke dua insan ini mengatakan kebenarnya, jika mereka masih sayang nyawa.
Aran melihat meraka yang terlihat wajah meraka memerah karena pendarahan yang tidak sesuai jalan dan berhenti di satu sisi, siapa lagi kalau bukan Aran yang melakukannya.
" Sa-ya be-nar - be-na-r ti-da-k ke-nal de-nga-nnya " ucap Cilu dengan menampilkan wajah memohonya.
Aran tidak menggubrisnya, ia masih tetap diam, sampai jawaban meraka masuk akal.
Meraka berdua pasti ada hubungannya kalau tidak bagaimana bisa Xio menyebutkan nama orang lain tampa tau siapa meraka.
" No-na an-da te-ga sa-ya pe-la-nya-n pri-ba-di an-da hiks... hiks... " ucap Xio dengan wajah tersakiti dan penuh luka.
__ADS_1
Aran tersenyum misterius.
"Hahhahahahhaha" Aran tertawa dengan senyumnya di selip tawanya.