
" Haha... Teryata perkembanganmu sangatlah menakjubkan dari terakhir kali kita bertemu " ujar Harun sambil melangkahkan kakinya menuju lelaki bertudung itu.
" Kau juga, kau lebih percaya diri " ujar lelaki bertudung itu, sambil melangkahkan kakinya menuju Harun.
Meraka sama - sama mendekat dengan pikiran yang tidak dapat di jamah, bahkan tatapan meraka juga, antara musuh, teman, dendam, atau memuji, tatapan Meraka tidak dapat di tebak.
" Kau tahu, aku sangat menantikan ini " ujar Harun, tepat di depan telinga lelaki bertudung itu.
" Aku juga, aku kira kau akan membalasnya dengan sangat menakjubkan, teryata pemikiranku salah, kau masih sama " ejek lelaki bertudung itu.
" Yah... Kau tahu, kita disini hanya alat pembantu " ujar Harun lalu memegang bahu lelaki bertudung itu, dengan senyum sinis.
__ADS_1
" Yah... Aku tahu itu, sepertinya ceritanya sudah hampir selesai " ujar lelaki bertudung itu dengan datar.
" Yah... Ini kurang menarik sih... Tapi pemerannya utamanya menarik " ujar Harun dengan devil, menatap Lelaki bertudung itu, yang memancarkan kemarahan di matanya.
" Dia milikku dan selamanya akan tetap begitu " ujar lelaki bertudung itu dengan mencekam kerah baju Harun, sedangkan harun hanya tersenyum misterius, tidak tahu apa arti dari senyum itu.
" Teryata kau sudah jatuh hati dengannya " Harun mendorong tubuh lelaki bertudung itu dengan kasar, lalu kembali maju dan berbisik di telinga lelaki itu.
" Ini hanya sebuah permainan, jangan kau bawa ke hatimu. Itu hanya akan melukaimu " bisik Harun tepat di telinga lelaki bertudung itu, lalu menujuk - nujuk dada bidang lelaki bertudung itu dengan senyumnya, setelah itu pergi dari sana.
Aran pergi dari sana dengan menghentak - hentakan kakinya, ia kembali ke istana kegelapan, ia sudah tidak lagi ada niatan untuk berjalan - jalan, ia hanya ingin tidur sekarang, untuk mengembalikan ke adanya.
__ADS_1
Aran melangkahkan kakinya menuju kediamannya, lalu merobohkan dirinya di kasur empuk itu dan memejamkan matanya secara perlahan, mencari ketenangan dan kedamaian untuk sesaat tampa ada beban pikiran.
Aran bangun dari tidurnya, saat mentari tidak lagi menampakkan sinarnya, di gantikan rembulan yang bersinar menerangi gelapnya malam.
Aran bangun dari tidurnya, lalu duduk di atas ranjang melihat sekelilingnya, matanya menejam saat melihat sebuah benda yang sangat ia inginkan selama ini... Yah itu adalah pasangan pedang kembar...
Aran tersenyum lebar... Lalu menghampiri pedang itu dengan senyum yang belum rentur dari bibirnya, matanya memancarkan kebahagiaan....
" Ah... Benarkah ini pasangannya... Aku nggak mimpikan " gumam Aran yang mencubit dirinya sendiri.
"Ah... " rintih Aran, karena cubitan yang ia lakukan sendiri sangatlah sakit.
__ADS_1
" Wah... Aku nggak mimpi, ini nyata " teriak Aran kesetanan, saking bahagianya dia, bahkan Aran meloncat - loncat sambil tersenyum bahagia.
" Akhirnya aku bisa pulang, yang lainnya nggak aku pikirin, birkan saja Meraka, mungkin aku akan memberikan beberapa kantong koin mas untuk meraka hidup " ucap Aran pada dirinya sendiri. Lalu kembali keruang jiwanya, untuk berpamitan pada Kenzo dan juga yang lainnya.