
Hari ini Aran akan menjalankan rencananya yang mungkin berhasil baginya dan tak terlalu membuang waktunya.
Tapi sialnya sebelum Aran mulai rencananya, ia sudah harus menikah sama orang berbahaya itu.
Aran tak bisa menolak karena ia membutuhkan giok itu, untuk pulang. Aran juga harus berpura - pura baik dengan menampilkan senyum palsunya.
Ia akan mendekati Stefen dengan mengorek - mengorek informasi darinya. Ia juga berencana untuk menemukan pasangan pedang kembar itu, yang berada di tangan Stefan.
Jadi waktunya tak akan terbuang sia -sia. ' Rencana yang cemerlang ' batin Aran berucap dengan melihat wajahnya di cermin yang saat ini lagi di dandani. Untuk pernikahannya.
Aran yang hanya tau kalau menikah itu hanya tinggal bersama, mencari nafkah bersama dan membuat anak yang tak tau gimana caranya. Yang Aran tau mungkin membuat anak itu ambil dari panti asuhan.
" Tuan anda benar ingin menikah sama musuhmu " tanya kenzo lewat telepatinya.
" Hm "
" Beneran nih tuan " tanya ragu Kenzo.
" Berisik " jawab Aran final dan Kenzo tak bisa berkata apa - apa. Karena Aran sudah menyuruhnya diam.
__ADS_1
Kenzo hanya bisa berdoa yang terbaik untuk tuannya.
Setelah beberapa jam menjalankan resesi pernikahan yang sangat melelahkan itu akhirnya selesai juga.
Aran membersihkan badannya setelah itu tidur karena badannya sudah sangat lelah dan pegal karena pakaian yang bertumpuk dan hiasan kepala yang membentuk gunung.
Hal itu membuatnya kepalanya pusing, ia sebenarnya ingin melepasnya atau lari dari sana tapi gak bisa. Gak tau kenapa tu orang tau niat gue dan rencana gue.
" Tuan apa anda tidak ingin ketempat Permaisuri " tanya penjaga bayangan saat melihat tuannya berada di atap kediamannya.
" Tidak, dia sudah tidur " jawabnya yang masih menatap malam dan bulan purnama yang terjadi pada hari ini.
" Baik tuan " penjaga bayangan itu sudah hilang dari hadapan Stefan.
" Waktu begitu cepat tak tau jika segala sesuatu sudah banyak berubah tampa di sadari, permainan begitu indah dan berkabut. Tinggal tunggu hari penyesalan " gumamnya Stefan yang melihat bulan purnama itu.
Di lain sisi Aran sedang berada di hamparan putih sama saat pertama kali bertemu neneknya.
" Cucu kau sudah menjalankan tugas mu dengan baik " senyumnya dengan tulus.
__ADS_1
" Tapi aku tidak ingin kembalikan aku ingin pulang, dan juga tidak ada keuntungan ku berada di sini " jawab Aran dengan sinis.
" Tidak ada hal yang tidak memiliki keuntungan di setiap melakukan sesuatu pasti ada keuntungan dan kerugian "
" Tapi aku tidak mau seperti ini " tolak Aran dengan tajam.
" Hidup itu merupakan serangkaian perubahan yang alami dan spontan . Jangan tolak mereka itu hanya akan membuat penyesalan dan duka. Biarkan realita menjadi realita. Biarkan sesuatu mengalir kemanapun mereka suka.
Setiap masalah yang kamu alami akan membuat mu berpikir dewasa . Kamu tidak perlu marah dan menolak semua hal yang terjadi pada dirimu, walau hal itu sangat menyakitkan .
Percayalah, dibalik semua peristiwa terdapat suatu baru yang bisa kamu mengerti. Kamu pasti sudah mengalaminya kan, berpikirlah lebih terbuka di sana kamu akan mendapat jawabnya " senyumnya dan menghilang.
Aran tersadar dari tidurnya dan memikirkan apa yang di katakan neneknya.
Memang betul di setiap perjalanan yang Aran lalui memiliki arti dan makna tersendiri. Tampa di sadari.
Kata - kata yang di ucapkan Nenek tadi membuat Aran terbuka dan Akan menjalankannya.
Ia tidak akan memikirkan sesuatu yang bimbang, ia akan lalui dengan tenang. Tanpa beban jalankan saja. Pikirkan ini untuk kebaikan.
__ADS_1