Reinkarnasi King Ran

Reinkarnasi King Ran
51


__ADS_3

" BODOH " ucap Aran dengan senyum devilnya menatap Xio tajam.


" Ma-k-su-d no-na ? " tanya Xio gugup yang masih menahan sakit di seluruh tubuhnya.


Aran melepaskan mereka yang terlihat,  meraka hampir sekarat.  Lalu Aran mengurung meraka di sangkar burung ,  baikkan Aran.


" Mulut manis " jawab Aran,  yang masih menatap Xio dengan tatapan misterius, tidak bisa di tebak apa yang sedang Aran pikirkan.


Xio masih diam,  ia menetralisir darahnya dan pernafasannya.


" Nona saya tidak kenal dia " Cilu angkat bicara saat, merasa dirinya sudah mulai membaik.


" Benarkah " Aran menaikkan satu alisnya.


" Benar nona,  lepaskan saya nona " ucap Cilu antusias,  dengan wajah berharap dan mata berbinar menatap Aran.


" Mirip anjing " gumam Aran yang masih terdengar oleh dua insan itu,  apa lagi Cilu yang  menahan emosinya.


" Nona hiks... hiks.. " panggil Xilu yang lagi - lagi mengeluarkan air matanya.


" Penggoda " gumam Aran lagi,  masih memperhatikan kedua wanita yang ada di depannya.

__ADS_1


" Hiks... Saya hanya ingin balas dendam nona hiks... hiks... " ucap Xio lagi, dengan wajah penuh luka, seolah ia wanita paling menderita di dunia.


" Saya tidak salah nona,  kenapa anda bawa saya kesini? " tanya Cilu dengan wajah penuh tanya.


Aran hanya diam masih memandang meraka berdua tampa niatan bicara. Ia hanya mendengarkan celotehan burung pipit ini, dengan omong kosong tampa kebenaran.


Tampa mereka sadari Aran sedang menyelidiki meraka dengan mata elangnya.


Setelah itu Aran tersenyum pada meraka, benar - benar manis.


Meraka melihat senyum Aran merasa lega, meraka berpikir meraka akan di lepaskan.


Tampa di duga - duga teryata...


Aran mengambil empat benda yang tersembunyi di balik bajunya.


"Hehheh" Aran terkekeh, lalu mempermainkan meraka dengan menunjukkan benda yang telah Aran curi diam - diam dari meraka berdua.


Meraka berdua kaget saat tau benda berharga telah di tangan Aran.


" Jangan Nona " pinta Cilu dengan wajah memohon.

__ADS_1


" Benda ini pembelian ku,  masih kau jaganya, hehhe " ucap Aran dengan senyum misterius,  jadi tidak tau apa yang di pikirannya.


" Iya nona, itu adalah barang berharga pembelian nona,  bagaimana bisa saya membiarkannya" ucap Xio dengan senyum manis, menatap Aran dengan lembut.


" Hehehe,  benarkah,  atau mungkin karena kau pikir ini benda ajaib " tanya Aran dengan alis terangkat menatap Xio dengan senyum sinis.


" Ti-da-k no-na,  saya men-yimpan-nya seba-gai kenang - kenangan dari nona" ucap Xio sedikit gugup.


" Hoho... Kau sangat sayang teryata " kekeh Aran penuh ejekan terlihat jelas di wajahnya.


" Tidak nona " bantah Xio.


"Hiks.. hiks.. Apa anda menganggap saya begitu ? hiks.... hiks... " tanya Xio dengan derayan air mata, sudah mirip seperti tetesan hujan.


" Kau hanya pelayan tidak lebih " ucap Aran dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


" jerp... "


Seperti tersambar petir saat Xio mendengar perkataan dari Aran, hatinya sakit saat tau Aran teryata selama ini hanya menganggapnya sebagai pelayan,  jadi apa maksud perlakuan yang telah di berikan Aran.


Di lain sisi Aran menutup dan membuka matanya kembali,  ia juga sakit saat ia sudah membuka hatinya malah ia mendapatkan penghianatan,  begitulah yang akan terjadi jika ia membuka hatinya,  makanya ia tidak ingin memiliki perasaan,  karena perasaan hanya memberi luka,  dan kebahagiaan sesaat yang di terima.

__ADS_1


Untung ia hanya membuka hatinya sedikit untuk Xio, jadi ia tidak terlalu terluka.


" Hiks... hiks... Nona jahat " maki Xio dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya.


__ADS_2