Reinkarnasi King Ran

Reinkarnasi King Ran
38


__ADS_3

' Haaduh...  Apa ya kata - kata yang ia katakan terakhir kali, gue lupa..?.' Aran yang sudah mulai prustasi karena melihat tatapan orang yang ada di depannya.


' Aku waktu itu gak , simpan ke memori ku, aku bodoin aja. Apa yah..tu muka jangan gitu dong kalahin tatapan aku aja.. ' batin Aran berkomat kamit sendiri,  yang dikit dikit natap Stefan.


"Kau lupa ternyata " ucap Stefan tampa epresi.


"Hah... Itu.." Aran menunjuk - nunjuk kedua jarinya dengan menunduk. tak tau apa yang akan ia katakan.


Ia sudah lupa dengan siapa dirinya.


Setiap kali di depan Stefan sifat asli Aran selalu keluar tampa di sadari oleh dirinya sendiri.


...Semua hal yang di sembunyikan akan terbuka seiring jalan waktu tampa di minta dan di sadari....


...Tidak ada yang akan tetap sama dan sempurna dalam melakukan segala sesuatu pasti ada sedikit  kesalahan tampa disadari oleh kita....


"Hukuman apa yang kau inginkan sayang ! " tanya stefan menyerigai.


" Emang siapa kamu, asal hukum -hukum aja,  yang bisa hukum gue hanya Tuhan gue " jawab Aran dengan judes.


" Oh benarkah baru tau teryata seorang Aran masih mengingat Tuhan" ejek Stefan


" Dari pada Lo gak ingat siapapun, mungkin orang tua lo gak ingat juga "


Tampa di sadari Aran, ia sudah membuat Stefan marah,  yang telah membawa nama orang tua di dalam katanya.


" Kau.. " Ucap Stefan dengan amarah besar yang telihat di matanya.


Stefan menggendong Aran seperti karung beras yang membuatnya pusing tujuh keliling.


" Lepaskan gue dasar orang aneh bin gila " berontak Aran yang menendang - nendang kakainya di dada Stefan dan mencubit - cubit Stefan dengan keras. 


Tapi Stefan masih tak berkutik sedikitpun.


Stefan membawa Aran ke kerajaannya dan mengurungnya di raungan kosong yang merupan ruangan ilusi tentang masa kelam yang terjadi pada orang yang terkurung itu, yang bisa membuat orang itu gila jika tidak bertahan.

__ADS_1


Setelah itu Stefan pergi dari sana, untuk menenangkan amarahnya yang ingin membunuh.


" Dasar orang gila gak ada akhlak lepasin gue. Lo berani ngurung bos mafia ini awas aja lo nanti, mati saja lo sana.  " berbagai umpatan Aran keluarkan.


Ia mengeluarkan semua emosi yang ada di dalamnya.


"Uh.... "


Tiba - tiba kepalanya sakit tak terkira, semua memori kelam berputar bagaikan film yang tak berujung.


Yang selama ini berusaha ia lupakan memori  pahit itu tapi sekarang semuanya berputar tak henti - henti.


" Ah... "


" Hik... Hik.. Hik.. "


Aran menangis saat mengingat memori saat itu  yang membuatnya menjadi pembunuh.


" Kak kita mau kemana " tanya bocah kecil dengan suara imutnya.


" Wah.. Kak,  Ran udah lama gak ketemu, apa ayah ibu sudah gak marah lagi sama Ran " Ujarnya dengan suara yang girang dan antusias.


" Sebentar lagi kamu ketemu, mungkin ia  mungkin juga tidak " ucanya dengan menyeligai iblis.


" Apa maksud Kakak ? " tanya bocah itu binggung yang sedikit mengerti maksud kata - kata kakaknya.


" Sudah jangan di pikirkan ayo turun kita sudah sampai ke ujung mautmu "


Bocah itu kaget saat kata terakhir yang di ucapkan Kakaknya , tapi ia membuatnya tenang kembali dengan epresinya.


" Kak tempat ini sangat menyeramkan yakin ayah ibu ada di sini Kak. "


" Masuk saja baru kau tau "


" Baik Kak "

__ADS_1


Bocah kecil masuk kedalam rumah itu tampa di sadari apa yang akan terjadi. Dengan tubuh yang begetar karena hal yang pertama di lihatnya adalah seorang yang di siksa dengan cambuk. Dan hal - hal yang sangat tidak wajar untuk di lihat seorang anak kecil.


" Kak... Ini... Tempat.. Apa... Kak! " tanya Bocah itu dengan suara bergetar, karena ini adalah pertama kalinya ia, melihat hal itu.


" Sekarang kau masuk ke dalam "


Bocah itu hanya mengangukkan lalu membuka pintu itu yang telihat  kedua orang tuanya bersama dengan anak kecil.


" Kau sudah tiba "


" Ayah ibu "


" Diam jangan kau katakan itu membuat telinga ku sakit "


" Ibu.. "


" Anak sialan lo bukan anak gue,  anak gue ini, lo cuma tumbal anak gue aja, hari ini lo akan gue jadikan tumbal "


" Maksud ibu apa ? " tanya bocah kecil itu dengan tubuh begetar.


" Siksa aja dia dulu,  biar memiliki kenagan manis " ucap Kakak yang membawanya kesini.


" Kak,  ayah, ibu.. Teryata kalian..." bocah itu menahan tangisnya, ia sudah memiliki filing apa yang akan terjadi, teryata benar.


Di umurnya masih kecil ia sudah lebih dewasa dari pada anak yang lainnya karena kehidupan yang di berikan orang tuanya tapi ia tetap menjalankannya.


" Cepat bawa saja dia, aku muak liat wajah anak sialan itu " perintahnya pada pengawalnya.


" Baik "


" Kalian berani melakukan itu tapi jangan salahkan aku yang juga berani melakukannya.


" Bocah itu mengambil bom yang berada di dalam bonekanya yang di berikan lelaki misterius padanya jika ia dalam bahanya.


Bocah itu menekan tombol setelah itu melemparkan kedepan dan berlari keluar dari ruangan itu,  yang tidak mengeluarkan air mata sedikitpun hanya kekosongan yang ada di matanya.

__ADS_1


__ADS_2