
" Aran " panggil Harun.
Harun saat itu hanya ingin lewat dan melihat hutan yang mengakibatkan gempa itu tertunda saat melihat Aran duduk sendirian di danau.
" Ya.." jawab Aran jutek.
" Aku mengganggu " ucap Harun.
"Nggak" jawab Aran, tampa melirik sedikitpun, Harun yang sudah berada di sampingnya.
" Tadi ada gempakan, kamu tau siapa yang melakukannya? " tanya Harun, penasaran karena Aranlah yang berada dekat dari lokasi itu.
Aran tidak menjawab ia hanya diam saja, ia lagi malas meladeni orang.
" Pergi " usir Aran tampa perasaan.
" Baiklah sepertinya kau lagi ingin sendiri " Harun menghela nafas panjang dan pergi dari sana.
" Aku ingin pulang " teriak Aran, ia tidak ingin berada di dunia entah berantah ini.
" Permaisuri, akhirnya aku menemukan mu " ucap pengawal Stefan.
" Ada apa? " tanya Aran malas.
__ADS_1
" Tuan di racuni " ucap pengawal itu dengan cemas.
" Mana mungkin orang sekuat itu bisa kena racun " ucap Aran santai, ia tidak percaya Stefan di racuni, itu pasti akal - akal meraka biar aku kembali.
" Benar Permaisuri " ucap pengawal itu dengan mata berkaca - kaca.
Aran yang melihat ekspresi pengawal itu, sontak percaya, namun ia menggelengkan kepalanya kembali.
" Nggak mungkin " gumam Aran.
" Permaisuri, jika aku berbohong, permaisuri bisa membunuhku " ucap pengawal itu yang meyakini Aran.
"Baiklah " Aran langsung pergi dari sana lalu menuju kerajaan kegelapan.
" Kamu racuni dirimu sendiri " tanya Aran, langsung ke inti.
" Kamu menganggap ku seperti itu " jawab Stefan yang masih bisa sok dingin padahal udah terbaring lemah, masih aja sifatnya di pertahankan.
" Hm, emang orang lain bisa racuni kamu " ucap Aran bodoh, ia mengakui kehebatan Stefan, karena ia masih kalah kuat darinya.
" Ditas langit masih ada langit " ucap Stefan tersenyum sayu.
" Ya...Sepertinya ia mengambil kesempatan. Dalangnya pasti orang - orang kerajaan ini atau tidak orang terdekatnya" gumam Aran lalu Aran berjalan mendekat ke tempat tidur Stefan, memegangi nadi Stefan.
__ADS_1
Aran kaget, racun yang berada di tubuh Stefan sangatlah berbahaya, jika itu bertahan selama seminggu, Stefan bisa mati.
" Itu, kamu.. " ucap Aran ragu memberitahu Stefan yang sebenarnya.
" Racun ini sangat berbahaya, nama racun ini xxx gv 38 " ucap Stefan tampa ada rasa takut dalam dirinya.
"Ya" ucap Aran yang menganggukkan kepalanya, ia tidak tau harus berkata apa, orang yang tekena santai, jd Aran hanya bisa bungkam.
" Kau tenang saja, aku akan sembuh " ucap Stefan dengan senyumnya.
" Aku akan coba cari penawarnya " setelah berkata itu Aran pergi dari sana. menuju ruang jiwanya.
Aran mencari - cari di buku tua tentang racun itu, setelah beberapa jam, akhirnya Aran menemukannya.
" Racun ini bisa di sembuhkan jika si penderita meminum darah orang yang memberi "
" Tapi siapa yang memberikan racun itu ?, pasti itu orang dalam " gumam Aran yang sedang berpikir siapa yang pantas untuk di curigai.
" Akhirnya aku menemukannya " gumam Aran lagi dengan senyum devilnya.
" Stefan " panggil Aran, tapi tidak ada jawaban dari Stefan.
Aran mendekati ranjang Stefan , teryata Stefan tidak lagi membuka matanya, Aran memegangi nadinya, nadi Stefan sudah mulai melemah dan racun itu mulai menyebar di seluruh tubuh Stefan.
__ADS_1
Bukti Aran hanyalah Stefan, karena Stefanlah yang mengetahui semua dan bisa ia interogasi.