
Kini Aran mencari keberadaan Stafan yang teryata berada di kamarnya.
Aran masuk kedalam kamar Stafan yang terlihatlah wajah Stafan yang seperti banyak pikiran. Bahkan Stefan tidak menyadari kehadiran Aran.
" Stafan " panggil Aran yang telah berada tepat di depanya, Aran ikut duduk di depan Stafan. Stafan terseyun saat melihat Aran.
" Aku mau ucap selamat tinggal, jangan cari aku " ujar Aran, sambil memengang tangan Stafan.
Stafan terseyun manis pada Aran.
" Aku akan tetap mencarimu di belahan bumi manapun " ucap Stafan , sambil mengelus tangan Aran dengan lembut.
" Percuma saja aku tidak ada di dunia ini " ujar Aran, menatap Stafan dengan diam, tidak ada lagi tatapan tajam yang di berikan Aran pada Stafan.
" Yah... Aku tahu, aku yang menyerahkan benda itu padamu, berarti aku sudah terima kepergianmu, aku tidak ingin kau dimanfaatkan orang lain, aku sudah telanjur jatuh hati padamu" ucap Stafan dengan lembut, menatap Aran penuh kasih, yang bahkan tidak pernah Aran lihat selama ini, hanya kelicikan, dingin dan juga tatapan yanh mengisaratkan yang bahkan Aran tidak ketahui apa arti dari tatapan itu.
" Apa racun dalam tubuhmu itu sudah menghilang !" tanya Aran yang penasaran kemana pergi racun itu.
" Kau belum mencari petunjuk teryata, ku pikir kau sudah tahu jawabannya " ejek Stafan pada Aran yang terlihat cemberut.
" Iya emang kenapa! "tanya Aran dengan jutek, memandang stafan penuh dengan pemusuhan dan juga kekesalan yang telihat di wajahnya.
" Hahahaha, kau sangat lucu " tawa Stafan, lalu mengelus lembut pipi Aran.
" Kembalilah suatu hari nanti kau akan tahu semua jawaban yang berada dalam pikiranmu, yang bahkan kau tidak tahu " ujar Stafan, masih mengelus pipi Aran dengan lembut.
__ADS_1
" Baik aku pergi, selamat tinggal " ujar Aran, lalu menghilang dari padangan Stafan. Aran melihat Stafan hanya tersenyum padanya.
" Aku yang membebaskanmu, aku tidak ingin kau dimanfaatkan, maaf selama ini aku mempermainkanmu " gumam Stafan yang masih menatap kedepan, dengan nada sedih yang telihat jelas di wajahnya.
" Akhirnya aku bisa kembali " teriak Aran yang kesetanan, ia mengeluarkan kedua pedang itu, lalu menyatukan kedua pedang itu, tiba - tiba saja cahanya masuk kedalam matanya, Aran tidak lagi bisa membuka matanya, ia menutup matanya sambil bergumam " aku benar - benar kembalikan "
Sinar mentari telah memasuki ruangan lewat sela - sela pentilasi dan juga kaca, wanita muda itu membuka matanya karena terusik akan akan cahanya itu.
"Ummm"
Pupil hitam itu terbuka dengan lebar, lalu memandang sekitarnya, sontak ia langsung berdiri dari tidurnya, ia kaget saat melihat kanar mandi tepat berada di depannya.
" Ah...Kenapa aku bisa ada di sini! " tanya Aran pada dirinya sendiri.
" Ah... Bodolah... Lebih baik mandi " gumam Aran, lalu membersihkan dirinya. Setelah itu ia pergi kemarkasnya.
" Queen " pangil helana, yang terseyum pada Aran, lalu mendekati Aran. Aran berhenti, lalu menunggu Helena yang sedang berjalan ke arahnya.
" Apa " tanya Aran, saat melihat Helana telah berada di depannya.
" Queen kamana aja sih selama 1 tahun ini, bahkan keberadaan anda tidak bisa di lacak " tanya Helena dengan kwatir menatap Aran yang kebingungan akan perkataan Helana.
" Aku ada di rumah kok, nggak kemana - mana " jawab Aran, dengan binggung, ia juga lupa apa yang terjadi belakangan ini, seperti ada sesuatu yang terjadi namun ia tidak tahu apa itu, bahkan hatinya sepertinya tidak lagi dingin, itu aneh, tapi nyaman.
" Ahm.. Udahlah aku mau balik, sepertinya ada sedikit masalah deh, by " ucap Aran lalu berlalu pergi meninggalkan Helana yang ternganga.
__ADS_1
Tiba di rumah Aran duduk di tepi ranjang, sambil mengikat semua yang terjadi, akhirnya selama satu jam, Aran menemukan jawabannya, dengan air mata yang membasahi pelipisnya.
" Tok.. Tok... "
Ketukan pintu itu menyadarkan Aran, Aran menghapus air matanya, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu luar. Aran membuka pintu itu dan betapa kagetnya Aran saat menemukan orang - orang yang berada di masa lalu, kini berada di depanya dengan setelan baju modern yang tersenyum padanya.
" Hay Aran " panggil meraka serentak dengan seyumnya.
" Kalian " ucap Aran sepontan.
" Ia, ini kami, selama ini kamu hanya dalam permainan yang di buat sistem, maafkan kami yang telah membohongimu " ujar Harun dengan rasa bersalahnya.
" Ah... Maksudnya " tanya Aran yang masih tidak mengerti.
" Udah, ayo kita kedalan dulu, akan kita ceritakan " Stafan memengang lengan Aran, lalu masuk kedalam rumah Aran yang di susul lainnya.
Stafan menjelaskan bahwa semua yang terjadi hanyalah suting yang di lakukan perusahaan film dunia, dengan kamera tersembunyi di balik benda - benda yang akan di tanyangkan besok, sebenarnya Alurnya tidak seperti itu, namun kerana Stafan yang menginginkan kesudahanya akhirnya kisahnya sampai situ, tampa ada sesuatu yang istimewa dan menegangkan.
" Jadi... Kalian mempermainkanku " teriak Aran saat telah mendengar semuanya dari Stafan . Meraka hanya menertawakan Aran dan terseyum kecil tampa ada rasa bersalah.
"HAHAHAHA "
" Ku bunuh kalian semua " teriak Aran dengan kesal, meraka yang mendengar itu berhamburan meninggalkan Aran dengan berlari ke setiap ruangan.
" Kamari kalian " teriak Aran dengan marah, meraka malah melakukan kejar - kejaran dengan tawa yang menghiasi ruangan.
__ADS_1