
" Maafkan saya nona itu sudah takdir" ucap Cilu lirih, lalu ia membunuh dirinya sendiri.
Belum sempat Aran menghentikan, Cilu sudah membunuh dirinya sendiri dengan tusuk kondenya, yang ia tusuk kelehernya.
" Sial " umpat Aran, dengan emosi yang menggebu.
" Kenzo " panggil Aran, dengan telepatinya.
" Iya tuan " jawab Kenzo dengan nada khawatirnya.
" Bawa dia ke ruangan operasi di ruang jiwa " perintah Aran, lalu ia membawa Xio ke ruang operasinya.
" Baik tuan " jawab Kenzo, lalu mengangkat tubuh Cilu yang sudah belimang darah.
" Robot persiapkan diri kalian " teriak Aran menggema di ruang jiwa.
__ADS_1
Aran masuk keruangan operasi, lalu meletakkan Xio di berakar tempat tidur.
Ia bersiap - siap untuk melakukan operasi, setelah itu ia mulai operasinya dan lupa dengan Kenzo yang masih tertinggal di belakang.
" Malangnya nasibku mempunyai tuan seperti ini ,huhu, mana bisa saya masuk ke dalam , ruang ini milik tuan bukan ruang jiwa ku, dari dulu saya hanya melihat ruang ini dari sini, antara pembatas ruang ku dengan ruang jiwa tuan, nasib malang ku " gumam Kenzo dengan dramatis, sedikit meratapi nasibnya, memiliki tuan seperti Aran.
Di lain sisi Aran sudah selesai melakukan operasi tidak butuh waktu lama karena tidak mengenai organ hanya lubang di bagian yang tidak terlalu berbahaya.
" Huh akhirnya selesai, tinggal satu lagi " Aran berbalik menghadap berakar sebelahnya, tapi ia kaget saat berakar di sebelahnya kosong.
" Kemana pasiennya ! " tanya Aran, yang masih tidak sadar akan ke salahnya.
" Kenzo masuklah " panggil Aran lewat telepati, dengan nada datar tidak ada rasa bersalahnya.
" Baik tuan " jawab Kenzo dengan lemah, ia pikir tuannya akan meminta maaf, teryata dugaannya salah tuannya malah bersikap biasa saja , seolah tidak ada masalah yang terjadi.
__ADS_1
Kenzo melangkahkan kakinya masuk kedalam, betapa kagetnya ia melihat ruang jiwa tuannya yang begitu indah dan aneh tapi ia suka, ia sangat mengaguminya.
Kenzo lupa dengan orang yang sudah sekarat yang berada di gendongannya, saking mengagumi ruang jiwa milik tuannya ini, ruang jiwa tuannya ini lebih besar dan mewah.
" Kenzo.. " Teriak Aran dengan mikrofonnya, yang menggema di setiap sudut ruang jiwanya.
" Ah.. " Kenzo tersentak kaget saat mendengar suara toa tuannya ini, ia langsung bergegas pergi menuju tempat tuannya, ia takut tuannya marah, bisa - bisa nanti ia di beri hadiah yang tidak pernah ia lupakan, itu sangat mengerikan saat membayangkan betapa menyeramkan tuannya ini.
" Letak kan di sana " Aran menunjuk berakar di samping kanannya.
Kenzo mengangguk lalu meletakkan Cilu di atas berakar itu.
" Sekarang keluar " usir Aran secara terang - terangan.
"Hah..." Kenzo menghela napas panjang setelah itu keluar, ia belum sempat mengagumi ruangan yang di sebut dengan ruangan operasi. Kenzo keluar dengan lemah, dengan tidak adanya semangat hidup.
__ADS_1
Aran memutar bola matanya saat melihat tingkah kenzo, ia tampa basa basi langsung melakukan operasi pada Cilu, yang sepertinya sudah ke habisan banyak darah, Aran tidak tau apakah Cilu membutuhkan darah lagi atau tidak, ia berharap Cilu tidak membutuhkan darah tambahan, karena di zaman ini, mendonorkan darah itu sangat sulit, meraka belum tau dengan artian donor darah, jadi Aran sangat berharap Cilu tidak membutuhkan darah tambahan, ia lupa seharusnya sebelum membawa mereka ke sini, ia harus memberikan pil penghenti darah keluar, atau pil pembeku darah.
" Aduh sudahlah, nanti malah telat mendapatkan pertolongan pertama untuk pasien ini " gumam Aran, setelah itu ia melakukan operasi pada Cilu.