Reinkarnasi King Ran

Reinkarnasi King Ran
39


__ADS_3

" Paman, kenapa paman ada di sini ?" tanya bocah kecil itu,  dengan ketakutan yang jelas di matanya.


" Teryata pikiran ku benar kau akan melakukannya "


"Maksud paman  ?" tanya bocah kecil itu lagi


" Kau ikut dengan ku, akan ku beri kau hidup enak dari pada kau di luar menjadi gelandang "


" Baik " ucap Bocah kecil itu lagi tampa pikir panjang, apa yang akan terjadi kedepannya.


" Bagus "


Di sanalah Aran menjadi seorang psikopat, dan menjadi boneka pembunuh sebelum lelaki tua itu mati.


" Ah.... "


Aran memegangi kepalanya yang terasa sakit itu,  ia bisa menahan kenangan buruk itu.


Tiba - tiba saja pintu kamar kosong itu terbuka,  menampilkan seorang lelaki tegap dengan ekspresi khawatirnya yang tentu saja itu adalah Stefan.


" Maafkan aku, aku terlalu marah sehingga melupakan mu " ucap Stefan dengan sesal.


Aran tak menjawab, karena kegelapan menghampirinya duluan.


Stefan dengan sigap, menangkap tubuh Aran dan membawanya ke kamar.


" Maafkan aku  sayang " gumam Stefan berulang - ulang kali di telinga Aran. ia merasa sangat bersalah dan sangat merah dengan dirinya sendiri karena telah membuat Aran superti ini.

__ADS_1


Stefan menyerang semua orang untuk menghilangkan amarahnya.


Setelah puas Stefan balik ke kamar Aran dan melihat kondisi Aran. Yang masih setia memejamkan mata indahnya.


Pagipun tiba, mentari bersinar cerah yang tak terlihat di kamar Aran, karena kerajaan ini sangat tertutup sehingga sinar mataharipun sangat susah untuk menyelip kekamar yang Aran tempati.


Mata indah Aran terbuka dengan perlahan, Aran mengejabkan mata,  untuk menyesuaikan sinar yang masuk kematanya.


Aran melihat sekeliling hingga matanya tertuju tepat di sebelah Aran yang terlihat sosok lelaki tampan dengan alis tebal dan bibir merah nan tipis dan wajah oval sangat sempurna.


Aran menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu.


"Aduh... "


Ringis Aran saat kepalanya terasa sangat pusing.


' Gila senyumnya,  itu gula atau seyum ' batin Aran dan mengagumi senyum Stefan yang bisa membuat candu orang untuk melihatnya.


" Sayang kau sedang mengagumi senyum ku hmmm " tanya Stefan dengan menggoda.


" Kau bisa baca pikiran orang  ?" tanya Aran dengan tidak percaya.


" Seperti yang kau pikirkan " jawab santai Stefan.


" Wis....hebat,  bisa baca pikiran musuh dong,  jadi murah untuk di lawan ngak perlu mikir lagi untuk gimana cara membasmi musuh " ucap Aran dengan antusias.


" Semua hal pasti ada baik dan buruknya " ucap Stefan dengan sedikit terlihat muka hampa.

__ADS_1


" Maksudnya, Apa itu ada dampak buruknya ? " Tanya Aran penasaran.


" Hm " Jawab Stefan singkat dan padat.


" Apa kamu tinggal di sini gara - gara kamu mau ketenangan  ?" tanya Aran yang penasaran, jiwa keponya sudah muncul. Aran tidak akan berhenti bertanya sampai ia merasa puas.


" Hm " Jawab Stefan lagi.


" Sekarang aku yang bertanya "


" Ya,  silangkan " jawab Aran tampa pikir panjangnya.


" Kamu bukan dari dunia ini kan, apa tujuanmu datang ke dunia  ini ? " tanya Stefan yang masih tampa ekspresinya.


Aran tampak berpikir. ' Apa aku harus jawabnya,  masa aku beritahu,  tentang diriku,  kemusuh ku , aneh banget ' ucap batin Aran yang sudah lupa kalau Stefan bisa membaca pikiran.


" itu...  " ucap Aran yang masih menimbang - nimbang.


" Kau sudah tau rahasia ku,  sekarang giliran mu, agar kita impas " ucap Stefan agar membuat Aran berbicara.


"Aku datang kesini juga bukan keinginan ku, tapi jika aku mau balik aku harus menyelesaikan misiku baru aku bisa balik " ucap Aran dengan jujur.


" Apa misimu ? " tanya Stefan balik.


" itu.. Misi ku... " ucap Aran yang terpotong saat mengigat,  jika ia harus diam, kalau ia berkata, maka, Barang yang di inginnya akan susah di dapat.


" Itu rahasia ku,  kau tak perlu tau " ucap Aran dengan judes.

__ADS_1


" Baiklah kalau kau tak mau menjawab , biarkan waktu yang menjawabnya " ucap Stefan,  setelah itu ia menghilang dari hadapan Aran. Yah begitulah sifat Stefan yang pergi tampa di suruh.


__ADS_2