
Keesokan harinya xiao yu bangun pagi-pagi sekali. ia kini sedang merapikan semua baju-baju yang ia miliki untuk di masukan ke dalam tas
Hingga ia tiba-tiba di suguhi sarapan,dengan sebuah suara yang amat nyaring di telinga
"NONA!!!,NONA!!!" ucap suara itu yang tak lain adalah dayang lu, yang memangginya sambil lari terbirit-birit menuju paviliun
(breaaakk)
Pintu di buka dengan paksa olehnya,yang mengakibatkan xiao yu,yang mendengar hentaman pintu itu langsung mendongakan wajah nya
"nona,nona ada kabar gembira nona!!!" seru ia dengan perasaan bersemangat
"kabar gembira apa itu,?.sepertinya itu hal yang luarbiasa,sehingga dayang lu berteriak seperti itu" tanya xiao dengan nada datarnya
Duduk bertatap muka dengan nonanya ia kemudian dengan girang-nya berucap "iya nona, akhirnya nona akhirnya—"
Xiao menghela nafas pelan,kemudian menyela ucapan dayang itu "dayang lu, kan saya sudah bilang kalau bicara itu jangan setengah-setengang oke!"
"nn'nona..akhirnya..selir pertama...dan putri pertama sekaligus putri ke tiga...akhirnya mereka kena hukuman" jelasnya sambil ter'engah-engah
"mm,mereka memang pantas untuk mendapatkannya" ucap xiao yang masih di posisi wajah datarnya
Melihat nonanya tidak menampilkan respon apapun dari ekspresi yang di tampilkannya,dayang lu jadi penasaran dan bertanya"apa nona tidak senang?"
"mm,sangat senang" jawabnya dengan senyuman yang di buat-buat,setelahnya iapun membatin 'ini baru permulaan,bagay mana mungkin aku bisa merasa puas dan senang'
"ehh,nona mau kemana,?.kenapa nona memasukan semua barang-barang nona ke dalam tas ini?" ah,ia baru menyadari bahwa nonanya sekarang sedang mengemas barang-barangnya,iapun mulay sedikit hawatir
"dayang lu sepertinya untuk saat ini dan kedepannya kita harus berpisah terlebih dahulu,karena saya ingin merantau/berkelana untuk meningkatkan kultivasi saya" ucap xiao yu dengan suara yang lembut. ia sudah memikirkan tentang hal ini tadi malam,tidak ada waktu untuk terus mengulur-ulur waktu yang di milikinya saat ini, ia harus segera menemukan ke enam pedang itu secepatnya dan menemukan kedua orang tuanya,apalagi kini ia sangat merindukan kakek yang selalu melekat bersamanya,kini jarak tidak ada ujung pun berani memisahkan mereka
Dayang lu yang mendengar bahwa nonanya itu akan pergi,seketika setes air mata jatuh dari kantung matanya, baru beberapa hari ia berpisah dengan nonanya ketika di kuil yiu, dan sekarang ia akan berpisah lagi,rasanya itu tidak mungkin untuk ia bisa merelakannya "no'nona apa nona akan meninggalkan saya,saya mau ikut nona, tolong bawalah saya bersama anda nona,ss'sa'saya janji tidak akan menyusahkan anda nona,tolong bawlah hamba bersama anda"
Xiao yang mendengar pernyataan itu mendadak terharu ia memegang kedua tangan dayang itu dan menyatukannya ke dalam dekapan kedua tangannya,ia kemudian berkata"dayang lu,bukan maksud saya untuk tidak mengajak anda ikut serta, namun itu semua saya lakukan untuk anda,saya tidak mau sampay terjadi sesuatu pada anda nanti"
"tapi nona—"
"dayang lu tidak perlu cemas saya bisa jaga diri kok,oh ya terimalah uang ini karena sebaiknya menurut saya anda pulanglah terlebib dahulu ke rumah anda, karena saya takut akan terjadi sesuatu pada anda apabila pada saat saya tidak ada di sini" seru xiao yu sambil meletakan tiga kantung koin emas pada tangan keriput milik dayang itu
__ADS_1
"tidak nona sebaiknya ini untuk keperluan anda saja" tegur dayang lu,dengan suara pelannya
"udah ambil aja saya masih punya banyak kok" coloteh xiao yu dengan nada dan suara yang terdengar meyakinkan,sehingga dayang lu tidak bisa untuk menolaknya
—"lalu nona kapan akan kembali lagi?"
—"entahlah,tapi yang pasti kalau sudah waktunya pestival lentera akan di adakan saya pasti akan pulang"
—
Mereka berdua sudah keluar dari istana tidak lupa,xiao yu juga membawa kudah hitam yang telah di belinya awaktu itu dari pengurus kuda kerajaan
Ia tidak menungganginya untuk sementara waktu, sebenarnya ia sudah menaikinya tadi, namun dayang lu yang tidak terbiasa,menolak ajakan dari xiao yu,sehingga menyulitkannya, jadi xiao akan menunggangi kudanya setelah nanti mengantarkan dayang lu,ke rumahnya
—
"nah itu rumah saya nona" ucap dayang lu sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah depan
Xiao melirikan matanya ke arah yang di tuju. ternyata itu adalah gubuk yang terbuat dari bambu hitam
(breakkkkkkk)
Xiao dan dayang lu seketika saling bertukar pandang setelah itu baru mereka lari menuju asal usul dari suara itu
"oh my good" xiao seketika terlonjak kaget.karena hal pertama yang di lihatnya adalah kedua wanita yang sedang menginjak peria paruh baya di atas tanah, dan juga bukan hanya itu saja,ada beberapa orang dengan setelan baju yang seragam pengawal itu ter'kapar dengan ke'adaan tak'menentu
—"berani beraninya mereka ingin menaikan pajak tanah"
—"jie jie mereka ingin menaikan pajak bukan minta telur ceplok mentah"
—"mei mei siapa juga yang minta telur ceplok,sudahlah kau seharusnya diam saja"
—"jiejie,di bilangin malah sewot,huh"
Xiao yang melihat sekaligus mendengar keduanya ber'adu mulut,jadi bingung tidak bisa mencerna kemana arah pembicaraan mereka
"astaga,!!!.apa yang kalian lakukan?" laray dayang lu sambil menghampiri kedua gadis itu
__ADS_1
—"NENEK,akhirnya nenek pulang juga!!!"
—"jiejie apa yang sedang jiejei katakan nenek baru saja pulang,masa di suruh kembali lagi"
"kau—"
"sudah-sudah jangan bertengkar,apa kalian tidak merindukan nenek?" ucap dayang lu,sambil merangkul kedua cucunya itu
"mm,tentu saja kami sangat merindukan nenek" jawab gadis tertua dengan senang hati membalas pelukan itu
Begitupun dengan sang adik,namun ia hanya terdiam tiada kata yang terucap dari dalam mulutnya kecuali sambut peluk hangat darinya
Xiao hanya melihat mereka dari sisi-samping seakan dirinya hanya tiang saja dengan tanpa suara
"ada apa,apa yang terjadi?" tanya dayang lu sambil memerhatikan kira-kira 6 orang yang tergeletak di tanah
"nek mereka ingin menaikan pajak tanah kita,kemudian kami menolaknya.namun mereka terus memaksa dan begitulah kejadiannya nek" sahut sang kakak dari kedua kakak ber'adik itu
"nek siapa itu?" tanya sang kakak sambil melihat ke'arah xiao yu
"ia nek siapa dia?" timpal cucu kedua dengan pertanyaannya
"dia adalah putri xiao" ucap dayang lu dengan singkat
Seketika kedua gadis antara umur 12&11 itu menghampiri xiao yu
"jiejie apa benar,anda adalah seorang pitri?" tanya gadis dengan usia dua belas tahun itu sambil melihat xiao dengan berbinar
"jiejie ikan teri apa yang kamu maksud" sahut adiknya dengan tatapan polos pada sang kakak
—"oh,astaga kau selalu membuatku naik pitam"
—"jie jie aku bilang ikan teri apa yang jiejie bilang,bukan naik kambing hitam"
Sang kakak yang semakin marah di buatnya,langsung *******-***** tangannya yang mengepal tiada isi ke udara "aaaaaah,"
Bersambung...
__ADS_1