Rekah Hati

Rekah Hati
Tensi Turun


__ADS_3

Tensi di rumah Hetty turun beberapa tingkat dan lebih ramai dari sebelumnya. Gerak ceria dan celoteh manja Bramasta yang menyanyikan coco melon berulang kali sejak televisi dihidupkan tak secuil pun menit dan segelas air membiarkan Kendranata berhenti bernyanyi.


Gesit ia menghafalkan lirik lagu yang mudah dia ingat sampai akhirnya Kendranata konser sendiri dengan mix cilik tanpa rasa malu.


Untung suaraku bagus, ekspresi masih bisa stabil. Gengsi masih utuh dan hari ini akan menjadi hari pertama dan terakhir nyanyi coco melon. Aku berjanji...


Hetty yang mengabadikan momen seru itu senyam-senyum sambil membasahi bibirnya. Dengan kepandaian Kendranata mengasuh anak dan suara nyaris mirip Ariel Noah, baru kali ini dia merasa lagu anak-anak itu betah di dengar lama-lama.


Hetty tersenyum dan memandang Kendranata dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bramasta pasti bahagia punya papa sepertinya, tapi keluarga besar pasti tidak mengizinkannya. Harapan musnah. Tapi untuk sementara begini saja aku sudah lega.


Nada janggal terdengar dari suara Kendranata, sekali lagi perubahan ekspresi Hetty mengacaukan pikirannya. Sendu terpampang di matanya meski senyumnya tersungging samar.


Dia pasti memikirkan harus bagaimana ini berhenti.


Terpaksa ia terbatuk-batuk dengan keras. Sound menggema kasar. Bramasta terkaget-kaget sampai tungkainya lemas dan ambruk di karpet. Hetty terbahak seraya menaruh ponselnya di meja dan mengangkat tubuh Bramasta yang hampir menangis.


”Kaget papa batuk?” Hetty mengelus punggung Bramasta. Bocah cilik yang hanya memakai singlet dengan gambar jerapah di bagian kiri depan dan pampers itu menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.

__ADS_1


“Atut... Bama, atut.”


“Sorry boy...” Kendranata meraih tangan mungil Bramasta yang menjulur ke leher ibunya, membuat Hetty merangkak dari depan Kendranata yang berdiri di belakangnya.


”Minum air putih dulu, hmmm... haus.”


Hetty mengernyit, kenapa ia musti mengganggap dirinya hmmm... bukan lagi papa kw. Menaruh rasa curiga, Hetty lagi-lagi hanya kembali sanggup menelan pertanyaannya sambil mengawasi dua lagi-lagi yang pindah ke ruang makan.


Kupingnya yang normal masih bisa menangkap suara Kendranata yang bernyanyi pelan-pelan diiringi kucuran air dari mesin dispenser.


The wheels on the bus go round and round. Round and round. Round and round ; The doors on the bus go open shut, open and shut. Open and shut. Open and shut.


“Cukup?”


”Ya.. pa... pa...” Bramasta mengangguk berulang kali.


Kendranata menaruh gelas di meja seraya menyentuhkan telapak kiri Bramasta ke hidungnya. Bramasta terkekeh kala ia mengembuskan napas panjang-pendek lalu mengeluarkan ringkikan seperti kuda, suara babbi ngik-ngik, dan suara kucing meow-meow.


“Nanti tersedak, Ken. Habis minum.” Hetty menimpali dengan nada peringatan.

__ADS_1


Kendranata menatapnya dengan tatapan kenapa nimbrung-nimbrung begitu. Padahal biasa saja aku paham.


”Mau makan siang? Terus jalan-jalan, Brama?” tanya Kendranata.


Nggak, jangan. Hetty menggeleng cepat. Aku belum gajian, jangan cari masalah.


Kekhawatirannya tidak ada gunanya, bagi Kendranata persetujuan Bramasta sudah cukup meski itu cuma anggukan kepala. Ia sanggup membawa bocah itu ke mana saja tanpa ibunya seolah keinginan bocah itu slalu bersamanya telah meredamkan sifat kekanak-kanakannya yang sukar di tangkap orang awam sepertinya.


Hetty mengerucut bibir. ”Mau jalan-jalan ke mana, Ken?” tanyanya muram. Jangan mall!


“Biasanya ke mana?” Kendranata menurunkan Bramasta. “Saya lapar, ada bahan apa di kulkasmu?”


“Lihat sendiri aja, ada banyak itu tadi mama kirim sayuran sama lauk-pauk lewat mas Marsudi.”


Dan dia percaya ibunya yang mengirim itu semua? Mudah sekali memperalat nama keluarganya.


Kendranata mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak sup ayam, menyiapkan panci dan melinting kemejanya. Sambil mengulek bumbu sup, bawang merah dan putih, sekali dua kali ia mengajak Bramasta ngobrol tanpa melibatkan Hetty yang ada dan tiada. Keberadaannya nyata namun sulit ia beri keakraban yang jauh lebih baik ketimbang apa yang sudah ia lakukan. Khawatir Hetty mulai kegenitan dan berani mendekatinya tanpa ragu, Kendranata seolah menerima pesan baik Paijo agar tak memberinya harapan dan perhatian ekstra.


...(⁠ ⁠~⁠ ⁠.⁠ ⁠~⁠ ⁠)...

__ADS_1


__ADS_2