
“Bisa tunggu sampai Brama tidur malam, Ken?” Hetty bertanya selepas memasukkan belanjaan terakhir ke dalam rumah.
“Biar gampang aku bikin alasannya kamu gak ada beberapa hari ini. Gimana?” Hetty memasang wajah penuh harap seolah tiga hari kemarin adalah hari tersulit baginya membuat alasan di mana bapaknya Bramasta berada.
Dari yang dulu biasa ia bilang papa kerja jauh, sekarang lain cerita. Bramasta seakan tahu betul ada hati yang memikirkannya hingga risau saban menit. Saban teringat Kendranata.
“Mau ya, Ken. Plis... beberapa jam lagi kok, paling cepat jam sembilan aku ajak tidur Brama.” Hetty mengatupkan kedua tangan.
Kendranata melepas sepatu dan kaus kaki di sofa ruang tamu seraya mencopot kancing kemeja satu persatu. Bertelanjang dada dengan tubuh lengket dan bau perjalanan. Ia mendongak.
“Boleh.” Ia mengangguk, upaya berhenti pura-pura peduli, berantakan. Satu persatu satir dan getir tumpul oleh kenyataan resah dalam ucap harap agar ia singgah lebih lama.
“Saya mandi dulu, ada handuk bersih atau pakaian Pranata yang kamu simpan?” tanya Kendranata sambil melepas kemejanya.
Terpampang bagus di depan matanya. Hetty terpukau seraya mengangguk. “Sebentar.”
Kakinya masuk ke kamar, membuka lemari, masih tersimpan rapi baju-baju Pranata yang tidak pernah Rastanty tahu di tumpukan paling atas lemarinya, baju-baju yang khusus di pakai Pranata saat berkencan dengannya.
Di kamar, Hetty meringis sambil meremas kaus polo putih kuat-kuat, melihat tubuh liat Kendranata yang lebih matang dari tubuh Pranata adalah kesempatan cuci mata yang menyegarkan.
Dahaga akan rindu yang datang tanpa pernah dia mimpikan kejadian ulang lebih indah, lebih bagus dan bisa di tonton gratis tanpa perlu merengek-rengek merayunya pun menghidupkan kekonyolan dan keindahan yang bersemi di ingatan Hetty.
Udah ah, jangan mikir yang bagus-bagus terus. Nanti pingin.
Hetty keluar dari kamar tanpa mengurangi senyum bahagianya di hadapan Kendranata yang memangku Bramasta. Tangan mungil anaknya menyentuh dada Kendranata seraya merebah pasrah di sana sementara kaki Kendranata menghentakkan lantai mengikuti irama lagu yang berputar dari ponselnya.
Seandainya itu aku.
Semua resahku tenang.
Hetty menggerak-gerakkan rahangnya sembari mengulurkan tiga potong baju ganti dan handuk miliknya yang berwarna ungu.
“Pranata sukanya pakai boxer, semoga kamu juga.” kata Hetty gugup.
“Taruh saja di meja.” Kendranata membalas tatapan Hetty dengan santai bahkan seringainya terlihat. “Mikir Pranata?” tanyanya sengaja.
“Bukan...” Hetty tampak malas-malasan menggeleng lalu memfokuskan perhatiannya di tubuh Kendranata sampai laki-laki itu ikut menunduk, menatap dua ubun-ubun Bramasta yang persis kembarannya meski ia paham apa yang dipikirkan Hetty.
Kendranata mengulum senyum sambil memperhatikan wajah lawan bicaranya. ”Bukannya kau bisa menggunakan alat bantu untuk menggetarkan tubuhmu?” cibirnya berani.
__ADS_1
Hetty tercengang dengan mulut yang membentuk ‘o’. Jantungnya melompat kaget. Mulutnya nyaris tersedak. Tangannya kaku di sisi tumbuh dan mengepal kuat. Wajahnya seolah dilempari tahi sapi. Dia sungguh membenci ucapan Kendranata yang menguliti rahasianya yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Bagaimana dia bisa tebak aku punya itu...
Hetty menghela napas, menunduk melihat tumit Kendranata yang masih menghentak rutin di lantai. ”Sekeras karang.” gumamnya seraya melengos. Menutup pintu kamar, Hetty menyandarkan tubuhnya di tembok setelah menguncinya.
“Aku mandi duluan, Ken. Jaga Brama.” serunya memberitahu.
Kendranata menyeringai dan menangkup wajah gemas Bramasta. “Biarkan mamamu bersenang-senang.” Ia menurunkan bobot tubuh Bramasta ke lantai seraya mengajaknya ke ruang keluarga. Menghidupkan televisi dan menyetel lagu anak-anak yang saban jiwanya senang terngiang lagu dalam hati.
Kendranata bernyanyi. Egonya mungkin sedang berkompromi, mungkin juga lelah setelah menghamburkan uang. Atau bisa saja dia juga menduga-duga apa yang dilakukan Hetty sampai lima putaran lagu ia tak kunjung selesai.
Tipikal dua wanita kalau mandi nggak lama ya malas mandi. Keterlaluan.
Waktu terenggut nyaris satu jam di depan televisi. Kendranata yang sudah lelah berkaraoke merebus air untuk memandikan Bramasta sementara Hetty keluar dari kamar sambil mengusap-usap rambutnya yang basah.
Senyumnya terpancar berseri-seri sembari mendekati Kendranata yang bersandar di tembok. Bersedekap ia menghela napas sambil menyaksikan mantan adiknya sudah memakai terusan baju tidur sederhana dengan pita hitam yang menghiasi kerahnya.
“Giliran kamu mandi, Ken. Tapi jangan di kamar mandiku, ya? Di dekat dapur aja.” Hetty meringis aneh.
Pasti ada yang ia sembunyikan.
Malas, Kendranata mengambil handuk dan pakaiannya di ruang tamu seraya masuk ke kamar mandi di dekat dapur. Mengikuti trik yang sama, ia memilih berlama-lama sembari menyesap rokoknya.
“Ken, jangan ngerokok di dalam rumah. Kasian Bramasta.”
“Tapi siang aman!” serunya mangkel.
Giliran baru santai-santai belum ada lima menit sudah ada gangguan. Tidak bisa membiarkan hidupku tenang seperti hari-hari sebelumnya?
Namun bagai kucing yang di beri ikan, ia membuang putung rokok di toilet seraya melanjutkan niatnya yang tertunda. Tak perlu lama karena ia yakin wanita yang sedang memandikan Bramasta tidak akan membiarkannya lama.
Aku mulai kelelahan mengasuh anak.
Merebahkan diri di karpet sambil mengganti lagu anak-anak yang membuat tenggorokannya kini terkena imbas, Kendranata memilih film kartun.
Ingat dulu kita slalu rebutan nonton televisi, Pra? Serius, aku bersyukur anakmu tidak kembar. Bagaimana jika kembar seperti kita? Semaput tiap hari mantanmu.
Hetty mengejar Bramasta yang ngacir ke arahnya sebelum memakai pakaian.
__ADS_1
Keributan yang terjadi membuat Kendranata menoleh, secuil pusaka kehidupan yang masih seperempat jari telunjuknya terpampang di samping wajahnya.
Kendranata mengerjap sebelum menyalahkan Hetty dengan sorot matanya.
“Dia yang semangat ketemu kamu.” aku Hetty sembari mengusapkan handuk di tubuh Bramasta. Matanya sekilas menatap Kendranata yang menguap tak semangat.
“Capek ya? Mau kopi lagi?” tawarnya manis.
“Sandwich dan Milo dua bungkus dalam satu gelas!” Kendranata menjawab, ”Sekalian Bramasta kamu buatkan makan malam dan ajak dia tidur!”
Hetty mengangguk sebab tak ingin membuat Kendranata menyesal telah menyempurnakan kesempatan malam ini.
”Aku boleh minta nomor hp kamu, Ken?” tanya Hetty sembari menaruh pesanan Kendranata yang ia buat selama setengah jam ke meja kecil.
Tegas Kendranata menggeleng, ”Kau hanya akan menggangguku!”
“Untuk tanya-tanya kabar aja kok, apa susahnya.” Hetty mengerucut bibir, merendahkan ego demi kepentingan bersama. “Aku janji gak ganggu kamu kerja.”
”Sekali tidak tetap tidak.” Kendranata menyantap sandwich setelah puas membuat Hetty menyerah. Wanita itu memilih menyuapi Bramasta dan menyantap makan malamnya sendiri seolah-olah apa yang terjadi di rumahnya memang lumrah gambaran umum keluarga kecilnya.
Selang satu jam yang penuh leha-leha di karpet dengan bunyi kriak-kriuk dari cemilan yang kunyah Hetty, Kendranata menolak menemani Bramasta tidur di kamar setelah bocah itu memejamkan mata berulang kali.
”Ambil selimut dan redupkan lampu, nanti saya pindahkan ke kamar kalau sudah tidur.” ucap Kendranata, ia memiringkan tubuh seraya menepuk-nepuk punggung Bramasta. “Dan kamu tunggu di kamar saja, tidak perlu bergabung urusan laki-laki.”
Hetty mendengus, kurang dari semenit ia menimbun anaknya di bawah selimut tipis seraya menatap Kendranata yang mengembangkan kenangan Pranata lewat pakaian yang ia gunakan.
Bama, gantian.
Hetty mengulum bibirnya sebelum masuk ke kamar. Dia menunggu Bramasta terlelap di sampingnya sembari bermain ponsel. Terjepit kenangan mantan, dia melihat foto-foto yang tersimpan rapi di google files.
“Mesra banget ya dulu aku sama kamu, Nat.”
Kendranata membopong Bramasta hati-hati masuk ke dalam kamar. Hetty tersadar seraya tersenyum sambil memasang bantal untuk anaknya. Sebentar, Kendranata wajib menepuk-nepuk punggung Bramasta agar kembali hanyut dalam arus mimpi.
”Selesai tugas saya.” Kendranata mengucapkan syukur atas kerja kerasnya hari ini dalam hati di depan Hetty yang menurunkan kakinya satu persatu ke lantai.
Hetty berkesimpulan malam ini adalah perpisahan, maka ia tak membiarkan perpisahan hanya terjadi lewat suara, ia merenggangkan kedua tangan dan memeluknya tanpa ragu.
”Senang ketemu kamu, Ken. Sampai ketemu Minggu depan. Kita sabar nunggu kamu.”
__ADS_1
Kendranata menunduk, membalas tatapan Hetty yang penuh gelora tersenyum kepadanya. Ia mengangguk pasrah meski dalam hati, *b*elum jadi kabur sudah ditagih janji.
^^^(≧▽≦)^^^