Rekah Hati

Rekah Hati
Setengah Frustasi


__ADS_3

Sementara langit masih gelap serupa mendung yang membuat suasana makin muram. Selepas salat subuh, Kendranata langsung mengemudikan sedan putihnya menuju komplek perumahan Timoho yang sepi dari aktivitas. Hanya segelintir orang yang berlari-lari kecil dan beberapa anjing peliharaan yang berkeliaran dan menggonggong.


Di luar pagar rumah Hetty yang gelimang cahaya lampu, Kendranata menyandarkan punggungnya seraya menurunkan jendela mobil. Wajahnya kuyu, matanya merah, semenjak mengantar pulang Bramasta dan Hetty ke lokasi ini, ia menyempatkan diri mengunjungi makam kembarannya sampai larut malam.


Kendranata mengadukan segala keluh kesahnya tentang hari-harinya yang kecut setelah kepergiannya sambil merokok dan membeli sebotol kaleng bir.


“Kita selesai urusan Hetty dan Bramasta dengan ibu dan bapak, setelah itu baru ke Sanya dan pernikahanku.” Ia bersiul sambil mengeluarkan sebatang rokok. Matanya perlahan mengabur. Kendranata hanyut pada satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan dalam kewarasan yang dia bentuk secara gamblang, tapi tidak dengan pagi ini.


Dia tergugu seakan dunia menghakiminya secara terus menerus tanpa ada belaian kasih yang menenangkannya.


Dari jauh, matahari telah bangkit di ufuk. Marsudi yang melihat Kendranata menekan klakson berulang kali setelah melewati belokan akhir menuju rumah Hetty, menyentakkan alam mimpi Kendranata yang terlelap dalam lamunan.


Kendranata mengusap wajahnya dengan kantuk yang sangat bebal pergi dari matanya. Sementara Marsudi turun dari kendaraannya seraya mengeluarkan buku catatan utang piutang pembeli.


Menghitung jumlah belanjaan Hetty dengan kalkulator Kendranata menghela napas panjang setelah Marsudi menunjukkan jumlah hutang yang harus ia lunasi.


Warisan Pranata lama-lama aku jual untuk membiayai mantan dan anaknya. Belum nanti setelah menikah, apa Sanya akan menerima keputusan ini. Berat sekali hal yang harus aku jalani.


Mengeluarkan uang dari dompet, Kendranata menghitung ada tiga ratus lima puluh lima ribu rupiah yang dia berikan ke Marsudi.


”Berikan saya daftar belanjaannya, mang!”

__ADS_1


Marsudi langsung menyobek daftar belanjaan Hetty lalu menyerahkannya serupa menyerahkan mandat penting sebuah informasi dengan sopan.


Kendranata mengamatinya lalu menguap. “Besok tolong batasi belanjaan hanya dua puluh ribu sehari, mang! Lebih dari itu suruh bayar sendiri.” ucapnya serius. Bisa-bisanya pengeluaran untuk perut Hetty dan Bramasta lebih dari uang jajan untuk Sanya.


Marsudi memonyongkan bibirnya yang terlihat tebal seperti mimi peri. “Langsung turun tuju lima persen ini mas. Wah... mau bilang rugi tapi ya malu... hmm...”


Kendranata mengibaskan tangannya, “Sudah sana ider, sudah baik balik modal daripada dia menjajah saya dan menjajah anda dengan hutang-hutangnya!”


“Beres lah, manut, yang penting laku.” Marsudi memasukkan buku catatan hutang ke tasnya yang terlihat ingin Kendranata ceburkan ke dalam air yang bercampur detergen dan menguceknya.


Dari dalam rumah, Hetty yang setengah sadar menajamkan pendengarannya.


”Mamang lewat...” Tergesa ia turun dari ranjang seraya melesat keluar. Namun baru sampai di teras, ia dikejutkan dengan polah Kendranata yang memanjat pagarnya lagi.


“Marsudi sudah pergi, masak yang ada saja di kulkasmu!” Kendranata nyelonong masuk, menuju kamar Hetty, membangunkan Bramasta.


”Kalo malas, kita makan di luar!” lanjut Kendranata setelah menggendong Bramasta keluar kamar. “Kamu siap-siap, aku ada sesuatu buat kamu di rumah kami di Surakarta.”


Hetty menggeleng samar sambil memegangi tirai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.


“Untuk apa dulu, Ken?” tanya Hetty gugup dan ingin sekali ia menutup telinga ketika Kendranata menjawab ketemu keluarga.

__ADS_1


“Saya harus menyelesaikan satu persatu masalah yang saya alami karena masalah yang datang di kehidupan saya bukan masalah yang saya perbuat. Mengerti?”


Badai pagi-pagi yang menerpa Hetty seutuhnya menyusutkan aura di wajahnya. Ingin ia bungkam dan menolak, ingin ia pulang ke rumah orang tuanya, meminta pertolongan.


Membayangkan betapa galaknya Bu Indri dahulu membuatnya takut.


Kendranata tersenyum simpul. “Dengar... Saya akan memberi solusi, tapi keputusan ada di tanganmu.”


“Apa itu?” tanya Hetty ragu.


Kendranata mengibaskan tangannya. “Bersiap-siaplah, mandikan Bramasta sekalian! Saya tunggu di luar.”


Hetty menelan ludahnya susah payah seraya mengambil alih Bramasta. Sambil memandikannya dengan air hangat setengah jam setelah pisah Kendranata. Kadang, ia berpikir sampai kapan dia sanggup menelan rindu dan menyembunyikan anaknya dari keluarga Pranata. Meski ia ingin, meski ia sanggup ke Surakarta sendiri ia terlalu takut mendapatkan penolakan dari mereka tanpa ada bantuan dari siapapun. Tapi ia tak pernah seyakin hari ini untuk ke sana bersama Kendranata.


Ambisi pria itu mengingatkannya pada ambisi Pranata. Tidak akan ia sia-siakan menunjukkan Pranata cilik di depan Bu Indri. Dia tidak akan egois, menurut pengakuannya sendiri. Namun, apakah penerimaan akan terjadi nanti. Akan ada solusi yang baik? Hetty sesungguhnya lelah mengorbankan banyak hal yang sebetulnya merugikan dirinya sendiri dan yakin masa depan masih ada untuknya.


Kali ini, ia setuju Kendranata yang menang toh ia ingin nasib keluarga itu sepenanggungan dengannya. Ikut andil membesarkan Bramasta terlepas dari rasa bersalah dan malu yang masih menghantui.


Di teras rumah, Kendranata merokok sambil berjongkok. Setengah hatinya tidak yakin keputusannya merupakan upaya yang bijak! Tapi bagaimana jika hal itu malah sebagai satu kesalahan besar? Bagaimana jika bapak ibunya malah menambah banyak cobaan kisah cintanya sendiri?


Kendranata mengacak-acak rambutnya frustasi seraya menarik napas berat hingga dada dan bahunya naik-turun dengan kentara.

__ADS_1


“Harus yakin! Ada yang harus aku jaga slalu.”


...♡...


__ADS_2