
Kembali meninggalkan rumah di penghujung sore, Kendranata yang ingin mengembalikan momen pertama kali kencan dengan Sanya memilih mengendarai motor Supra yang slebor dan tebengnya sudah lecet di sana-sini.
Santai ia mengendarai motornya di tengah lalu lalang kendaraan yang memadati jam pulang kerja hingga ia sampai ke pusat perbelanjaan terpercaya di tengah pusat kota Surakarta.
Di bawah pohon peneduh, Kendranata tak perlu menunggu lama Sanya yang mengalami kekacauan batin selama bekerja.
Gadis yang sudah mengganti hak tingginya dengan sendal jepit itu berjalan cepat-cepat di antara sepeda motor yang terparkir rapat dan penuh di parkiran.
“Aku kira kamu guyon mas?” Sanya mengambil alih helm yang diulurkan Kendranata yang tidak turun dari motor. ”Sampai penuh isi kepalaku mikirin kamu.”
Seketika Kendranata menoleh bersama naiknya Sanya ke atas motor. Kikuk gadis yang memakai jaket biru muda mencengkram lembut pinggangnya.
Sanya meringis. “Kenapa lihatnya gitu? Aneh kamu mas.”
”Apa aku pernah guyon sama kamu?” tanya Kendranata yang menyembunyikan sorot mata seriusnya di balik kacamata hitam.
Sanya mencibirnya dengan juluran lidah. Karena di antara rasa bingungnya kenapa tiba-tiba mantan terindahnya datang, hanya satu yang bisa Sanya lakukan, menjadi diri sendiri seperti awal jumpa dengan Kendranata.
“Tampangmu emang serius mas, jadi emang nggak bisa guyon sih, aku ngerti.”
Kendranata menghidupkan motor seraya membawa Sanya ke warung tenda di pinggir jalan yang menjadi pionir susu sapi murni dan aneka variasinya di kota Solo. Warung Shi Jack.
“Seleraku masih sama.” ucap Kendranata waktu Sanya hendak menulis pesanan mereka di kertas menu.
Sanya melirik Kendranata dengan ekor matanya sambil mencatat, stmj 1, roti bakar double keju, susu sapi murni 1, pisang goreng 1.
Ada yang nggak beres sama mas Ken-ken.
Perasaan ini kok jadi nggak enak.
Dalam hiruk pikuk keramaian warung, Sanya malah meraba perasaannya sambil mengheningkan cipta.
Ada apa ya? Apa jangan-jangan mas Kendra minta balikan? Waduh... Perasaan sudah lama putus dan nggak ada komunikasi, apa mas Ken-ken belum move on dari aku? Wah... Hebat banget aku sampai bikin dia susah move on.
Kendranata menarik-narik tas selempang Sanya sampai gadis itu tergugah dari lamunannya.
“Nanti lagi mikirin akunya...” Kalimat Kendranata bernada candaan itu meluncur bersama datangnya segelas stmj dan susu murni ke meja mereka.
__ADS_1
“Widiwww... susu telur madu jahe, mas Kendra kesusu tur malu-malu he...” Sanya lekas-lekas mendudukkan diri di samping Kendranata ketika ekspresi Kendranata nampak tercengang dan malu.
“Ada apa mas?” tanya Sanya setengah berbisik.
“Nggak enak ngomong serius di sini.” Kendranata menyunggingkan senyum. “Di teras rumahmu aja.”
Mendadak ingatan Sanya langsung memompa sesuatu yang tak pernah pudar di benaknya.
Tempat ini, kata-kata mas Kendra. Terus mukanya. Apa jangan-jangan mas Kendra mau nembak aku lagi. Wih... jadi deg-degan.
Kendranata melihat ekspresi Sanya dan langsung menyimpulkan lagi kelakuan mantan indahnya.
“Udahlah, Syaa... Gak usah banyak pikiran. Makan dulu ini.” Kendranata menaruh sepiring roti bakar double keju di depannya. “Aku bilang semuanya nanti.”
Terdengar bunyi notifikasi beruntun dari ponsel Kendranata yang berintikan pemberitahuan. Serius ia membacanya.
Mbak Hetty hari ini pergi ke Lempuyangan mas, dan tadi siang ibunya datang ke rumahnya.
Setelah mengirim balasan, Kendranata mematikan ponselnya yang ditanggapi Sanya dengan kernyitan.
Gawat ini mah, gawat.
”Gak pintar-pintar kamu.” Tanpa malu, Kendranata menghilangkan parutan keju yang tertinggal di sudut bibirnya dengan ibu jari.
Sanya tercengang, gelisah menjalar dari hati hingga telapak tangan. Perasaan sudah lama putus, tapi kencan pertama kayak baru kemarin terjadi.
Kendranata gegas keluar tenda setelah melakukan hal itu, di atas motor sambil mengeluarkan sebatang rokok dan uang parkir ia tersenyum geli.
Begitu caranya bikin wanita susah move on.
Sambil mengunyah potongan terakhir roti bakarnya. Sanya menyusul Kendranata ke parkiran.
“Pokoknya langsung bicara sejujurnya kamu mas!” desaknya mangkel. “Datang-datang bikin hatiku susah.”
“Hatiku juga susah.” Kendranata memutar tubuhnya seraya memasang helm di kepala Sanya.
Kalah... Sanya kalah. Nggak bisa berdebat, bisanya cuma iya-iya dan maksa. Selain itu umur yang terpaut jauh membuatnya takut kurang ajar dengan Kendranata. Takut kualat hingga ia menyimpulkan diam dan menunggu lebih baik.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam berkeliling di seputar tempat-tempat bersejarah untuk memperpanjang waktu temu, sampailah mereka di rumah Sanya yang sepi.
Tanpa membuat gadis itu semakin penasaran, Kendranata duduk di kursi bambu teras rumah yang dihiasi dengan pot gantung yang berisi bunga pukul sembilan.
“Kenapa tiba-tiba datang?” tanya Sanya.
“Kalau seumpama kita saling menggenapi, apa kamu mau terima aku yang...yang sekarang sudah seperti duda?”
“Seperti duda? Maksudnya mas kemarin sempat nikah, terus punya anak, terus cerai?" Sanya menarik kepalanya menjauh dengan ekspresi tercengang.
“Bukan itu, Sanya...” Kendranata menggeleng. “Aku masih tepati janjiku untuk nikah setelah kamu nikah.”
“Lah terus apa maksudnya?”
Kendranata menghela napas, sejenak ia mempertimbangkan hal-hal yang serius sebelum menggenggam tangan Sanya.
“Kalau seumpama kita menikah, aku bawa anak Pranata di kehidupan rumah tangga kita, kamu mau atau tidak?” tanya Kendranata hati-hati, namun lugas terdengar.
“Anak Pranata? Kok bisa? Emang mas Nata punya anak dari siapa?” tanya Sanya heran.
“Hetty.”
“Oh the beautiful devil?” Sanya mendengus. Lalu membuang tatapannya ke pekarangan rumah.
“Balikan aja belum, mas Kendra udah ngasih pertanyaan itu. Susah aku jawabnya.”
Kendranata tersenyum sambil melepas tangan Sanya.
“Biar kamu bisa mikir matang-matang dulu sebelum jawab dan tahu kalau aku sudah seperti duda, sudah bisa ngurus anak.” Kendranata berdiri. Menjulang di depan Sanya, tangannya terulur, menyentuh kepala Sanya yang dilapisi kerudung baby blue.
“Besok aku antar jemput seperti biasanya, tapi kalau weekend aku ke Jogja ketemu Bramasta. Dan... aku berharap kamu punya jadwal libur untuk ikut atau nyusul aku ke sana.”
Sanya menatap cara berjalan Kendranata sambil membisu sambil mencerna kata-katanya.
Mimpi enggak pernah, datang-datang langsung memberi pilihan. Cinta banget mas Kendra sama aku? Ngeri deh..
Di atas motor yang sudah menderu, Kendranata cuma bisa tersenyum meski dalam hati. Goyahlah pertahananmu, Sanya. Jadilah pengantinku dan ikutlah aku ke Jogja biar Hetty tidak berharap lebih atas hadirnya aku di hidupnya.
__ADS_1
...(づ。◕‿◕。)づ...