Rekah Hati

Rekah Hati
Desak Paksa


__ADS_3

Hetty melepas handuk yang membungkus tubuhnya ketika suara yang ia kenali betul memanggilnya dari depan jendela kamar. Nada penuh desakan yang keluar dari bibir Kendranata membuat kupingnya panas.


“Hett... Hetty... Buka pintunya! Saya datang, cepat.” seru Kendranata iseng.


Sambil memakai kemeja terusan putih yang ia beli bersama Pranata, bibir Hetty mengomel di depan cermin. Wajahnya tak senang apalagi setelah tiga hari kemarin mereka menghabiskan waktu di kebun binatang.


Sebuah pemahaman tentang bagaimana sifat Kendranata yang berbeda dengan Pranata genap menghiasi pikirannya. Hetty kini seratus persen yakin bahwa laki-laki itu berada di kategori sulit di jangkau.


“Selain mulutnya suka asal njeplak, si judes tukang paksa!” Hetty memoles bulu matanya dengan maskara hitam. Tetap cantik walau uang pas-pasan, begitulah prinsipnya sekarang.


”Pranata dulu juga suka maksa, tapi manis caranya. Ini... Mirip rentenir.”


“Buruan, Hett!” Rahang Kendranata mengeras dan dingin.


“Hatt... Hett... Hatt...” Tirai yang membatasi mata mereka untuk bertemu tersibak. Hetty mendelik sambil berkacak pinggang setelah membuka jendelanya.


“Bramasta baru tidur siang kalo kamu mau ngajak dia main!”


Memegang pinggiran kusen jendela dengan kedua tangan sementara satu kaki yang memijak tembok, Kendranata mengangkat tubuhnya. Ia masuk ke rumah Hetty seperti maling yang luwes melakukan aksinya di siang hari.


Hetty mendengus seraya menahan ujung jaket Kendranata yang berbau apek. Kakinya menjejak lantai kuat menahan berat tubuh lelaki itu yang menolak berhenti. Ia geram, tingkah laki-laki itu benar mengaduk kewarasannya tanpa jeda.


“Mau apa kamu? Kamu ganggu Brama tidur?”


Sinis, Kendranata menyingkirkan tangan Hetty bagai menyingkirkan lalat yang mengganggunya.

__ADS_1


“Kamar mandi!” ucap Kendranata dengan napas tertahan.


Hetty memberikan tatapan bertanya, dan seolah paham bagaimana lelaki itu menahan dirinya agar terlihat tetap kalem meski jakunnya bergerak naik turun, Hetty bersedekap, dan tersenyum mengejek.


“Kebelet, ya?” selorohnya, memandangi sosok Kendranata yang melengos pergi dengan langkah-langkah cepat.


Pintu aluminium tertutup dengan kencang setelah ia keluar dari kamar Hetty yang wangi, Kendranata menurunkan celana lalu mengeluarkan rokoknya. Helaan napas lega terdengar.


Hetty terbahak dengan lepas, tanpa ragu dia mengetuk pintu aluminium yang berkarat di bagian bawah.


“Puas, Nat?”


”Ken bukan, Nat!” protes Kendranata, menghidupkan kran air dengan muka masam. Ia jengkel karena Hetty menganggu privasinya. “Pergilah!” desaknya sembari mengguyur pintu dengan satu gayung air.


Lagi, Kendranata menguras perutnya sambil memejamkan mata. Di luar, semakin senang senyum Hetty. Dia menyerah pada Pranata dan menyela kebahagiaan Rastanty, tuai atas hukum takdir itu sudah ia rasakan, sekarang ia sanggup bersenang senang pada suguhan tingkah Kendranata di atas jentaka yang ia rasakan.


Kendranata terlihat, ia menunduk, menautkan ikat pinggangnya sebelum membalas tatapan Hetty.


“Harusnya langsung bilang saja kamu perlu ke toilet, nggak perlu ngajak ribut!”


Kendranata menerima kopi buatan Hetty seraya bersandar di dinding. “Terima kasih, tapi lain kali tidak perlu repot-repot.”


Hetty tersenyum sembari mengaduk kopinya sendiri, dia mendudukkan diri di tepi wastafel.


“Santai aja, lagian dua tahun ini aku nggak ada teman ngopi.” Hetty menyentuhkan bibir cangkir ke bibirnya, ia meneguk kopi dari cangkir favorit yang sering ia gunakan untuk menyuguhkan kopi ke Pranata di rumah masa kecilnya. Cangkir keramik dengan bunga-bunga merah muda. Hetty mendongak.

__ADS_1


Hatinya kecut, bagai paling bobrok di antara saudara-saudaranya ia terkucilkan. Pelangi yang sanggup membuatnya tersenyum hingga menyibukkannya bertanya di mana kaki pelangi itu berada pun tidak lagi mengalihkan pikirannya.


Hetty gundah, mencari-cari cara merambat dari bebat akar sengsara yang membelitnya ketika serempak semua yang mencintainya menjauh kecuali ibu.


“Kau memikirkan apa?” tanya Kendranata, menyadari perubahan raut muka Hetty.


“Hidup.”


Terdengar nyanyian burung kedasih dari ranting pohon mangga milik tetangga. Kendranata menghela napas.


Lahir dari keluarga priyayi Jawa yang tumbuh dengan mempercayai mitos-mitos yang berkembang seputar burung penyendiri yang konon membawa malapetaka itu, ia langsung memikirkan siapa yang membawa malapetaka?


Tidak mungkin aku, aku adalah pahlawan.


Hetty yang menangkap perubahan ekspresi Kendranata pun ikut bertanya.


”Mikirin apa, Ken?”


Dengan gerakan luwes, Kendranata menyesap kopinya lalu menggeleng. Dalam benak, ia bertekad untuk mencegah kepanikannya tentang burung kedasih yang terkenal dengan kelicikannya itu terungkap dari mulutnya. Ia tak ingin menyinggung perasaan Hetty walau di hatinya jelas sudah Hetty-lah malapetaka baginya.


Kendranata menatap Hetty. “Besok saya pulang ke Surakarta, hari ini akan saya habiskan waktu dengan Bramasta.”


Hetty tidak menutupi kebingungannya atas ucapan Kendranata, tapi belum sempat ia menanyakan kenapa harus pulang. Panggilan Bramasta yang setengah merengek di kamar mengalihkan perhatian.


”Ya sayangku, sebentar.” Hetty menaruh cangkir kopi di wastafel seraya menyentuh bahu Kendranata. “Dari kemarin dia cari kamu. Sana gih, kamu yang samperin. Bramasta pasti seneng.”

__ADS_1


Kendranata mengembuskan napas dalam, kemudian berdehem, dengan bijak ia memutuskan untuk menyambut kesibukan yang mulai menjadi agenda rutinnya. Mengasuh anak.


...(⁠✿⁠^⁠‿⁠^⁠)...


__ADS_2