Rekah Hati

Rekah Hati
Tiga Juta


__ADS_3

Aroma lele bakar dan segarnya kemangi yang di petik dari halaman rumah Sanya tak menggugah selera makan Kendranata yang terdiam sendiri di sudut teras. Ia murung sembari menunduk kepala. Tangannya mencengkram rambutnya erat dengan mata yang berkaca-kaca.


Sanya mencuci kemangi segar di bawah pancuran air kran dengan dada yang ikut sesak melihat sang kekasih mengalami hal terberat di hidupnya.


“Nggak makan, mas?” Sanya menunjuk piringnya, lele itu terlihat gemuk, gurih, dan manis, sambel balado yang berminyak di sampingnya terlihat wangi dan menggoda namun di mata Kendranata yang mengabur itu terlihat biasa-biasa saja.


Kendranata menggeleng. ”Gak sanggup nelan.”


Gak sanggup nelan?


Rani dan Hetty yang sudah menyantap terlebih dahulu lele bakar tercengang dalam diam.


Sanya tersenyum maklum. ”Mau aku suapi? Jauh-jauh kita beli lele bakar favorit kita ke Laweyan sambil kebut-kebutan masa nggak di makan, sayang ini padahal lelenya sudah pingin mas Ken-ken makan.”


Sanya menerbangkan lele hitam berminyak dan berbumbu itu mendekati ke bibir Kendranata lalu mendaratkannya lagi ke piring.


Nurut, Kendranata mengangguk. Makin tercengang lah dua wanita di belakang mereka bahkan Rani yang baru melihat sikap manja Kendranata tersedak-sedak sambil yang memanaskan tenggorokan dan lubang hidungnya.


Sanya menoleh sambil tersenyum culas. ”Kaget pasti mas Kendranata manja?”


Rani pontang-panting ke arah kran air, dia membersit hidungnya seraya membasuh wajahnya. Ekspresi wajahnya terlihat memaksa suasana hatinya membaik dari tuduhan Sanya yang slalu tepat sasaran.


Kadang Halloween, kadang Hello Kitty.


Rani menggeleng samar seraya menyambar tisu di karpet biru untuk mengeringkan wajahnya. “Kaget memang betul Mbak soalnya mas Kendranata di rumah itu dewasa sekali, sama Mbak, berubah.”

__ADS_1


Hetty nyengir, dia menyebut situasi malam ini sangat meriah, dia sebarkan informasi yang akan menemaninya berpusing-pusing ria menghadapi satu manusia sepuh penambah skandal di hidupnya itu.


Sanya mengambil kemangi yang mengandung antioksidan lutein dan zeaxanthin, serat, fosfor, folat, zinc, serta vitamin A dan B dari piring.


Ia menyuapi Kendranata dengan sabar sembari tersenyum. Sementara pria itu terlihat separuh ingin menangis lelah, separuhnya lagi menyuruhnya tegar dan kuat.


Mulutnya menguyah dengan pandangan kosong ke atas, menonton langit berawan yang berlomba menggelapkan langit Surakarta.


Sanya tahu persis dia tidak akan mudah kembali ke rumah. Menemui ayahnya yang ingin mengkhianati ibunya terang-terangan. Udara di rumah itu akan menjadi pengap dan semakin senyap. Tapi kalaupun Kendranata menghindar, semua semakin rumit.


“Mas Kendranata jangan menyerah. Itu bukan kamu.” Sanya tersenyum, ”Semangat, ya. Ada Sanya yang sayang banget sama kamu.”


Satu menit berlalu, Kendranata terbangun dari rasa gundahnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Sanya.


Membeku seketika wanita yang memegang kepala lele bakar itu di sisinya. Sanya melirik kepala Kendranata yang memberitahunya sudah ada uban satu di sana.


Kendranata menghela napas dengan keriuhan di kepalanya yang mampu melahirkan. “Ini pasti akan berat untuk kita, Sya. Sekali lagi ikatan kita hancur oleh orang yang sama.”


Hetty yang menjadi terduga utama sosok yang di sebut Kendranata mengusir kegundahan sedikit pria itu dengan pernyataannya.


“Nggak perlu khawatir, aku nggak akan jadi ibu tirimu, Ken.” sela Hetty menyadari keadaan sudah tidak baik-baik saja. Kendranata terlihat pilu, seluruh semangatnya merosot ke dasar bumi, jatuh, ambyar, seperti jelly. Serius.


“Di peluk itu, Kendranata, Sya.” suruh Hetty.


“Begini sudah cukup.” Sanya mengeratkan genggamannya. ”Aku kasih waktu kamu ngobrol sama Hetty, habis itu pulang. Urus bapak kamu mas.”

__ADS_1


Wajah Kendranata langsung sebal saat posisi wanita di sampingnya berubah. Tidak segampang itu, Sanya.


Hetty mengangkat bahu. ”Berat ya, Ken.”


Ikut menonton langit, Hetty menggenggam kedua tangannya sendiri. Ia mengigit bibir bawahnya. “Seperti nggak pernah cukup ya nelangsa yang menimpa kita.”


Kendranata berkomentar. ”Harga mahal yang harus kamu bayar dari sebuah aksi perselingkuhan adalah harga diri yang akan terus dianggap rendah.” ucapnya serius.


“Hatiku hancur.” sahut Hetty, “Kebaikanmu mungkin tidak sia-sia tapi aku bersumpah padamu, Ken. Aku nggak akan menerima permintaan ayahmu. Bramasta akan terus bersamaku, aku tidak akan berkunjung lagi ke sini.”


Hetty menunjukkan ke arah langit, selarik cahaya muncul dari bulan sabit yang nampak ketika iring-iringan awan menghilang dari satu-satunya pijar yang menyala di angkasa.


Kendranata ikut menatap kejauhan. Tidak terlalu gelap, namun masih menyisakan kekhawatiran yang mempersilahkan barisan benang merah.


Hetty tersenyum simpul. “Finansial darimu sudah cukup, itu pun kalau Sanya ngasih izin kamu masih berbagi rezeki buat janda Pranata.”


”Mas Ken-ken sudah bilang, dia seperti duda sekarang. Jadi... jadi...” Susah-payah Sanya mengiyakan dengan anggukan. Tapi aku boleh request mas?” timpal Sanya.


Kendranata mengangguk setuju, beranjak dari sudut teras. Ia mendekati Sanya dengan merangkak.


“Apa katakan?”


“Tiga juta sebulan.” jawab Sanya yang membuat Kendranata urung duduk, dia terbahak-bahak sambil bersujud. Punggungnya bergetar-getar saking lucunya permintaan Sanya.


Hetty pun masih di pojok teras, tersenyum, alasannya bukan karena tiga juta sebulan dari Kendranata, tapi rasa penasarannya saban kali memikirkan Bramasta di terima di keluarga Pranata atau tidak sudah terjawab. Ternyata... Apa yang ia jalani sebelum-sebelumnya sudah yang terbaik baginya dan Bramasta. Meski ia akan bergantung pada Kendranata setelahnya.

__ADS_1



__ADS_2