Rekah Hati

Rekah Hati
Akhirnya


__ADS_3

Malam itu, akhirnya Kendranata tidak bisa tidur nyenyak meskipun ia tahu ibunya sudah memberi jalan keluar bagi masalah percintaannya.


Hidup di rumah ini. Bersama konflik yang belum mereda layaknya berdampingan seperti alkohol dan korek api, tersulut sedikit saja bisa meledak kapan saja.


Kendranata tidak tahu apakah ia yakin memutuskan menikahi Sanya ketika semua tidak baik-baik saja. Kekhawatiran itu layaknya suara traktor yang membajak sawah, bising tapi harus di lakukan dan di selesaikan proses suatu hal yang menuju proses lainnya.


Kendranata menghela napas, tidur di kamarnya setelah kemarin bermalas-malasan di rumah sakit dan hotel berbintang justru membuatnya tidak nyaman, ia ingin cepat pagi dan mengajak ibunya bicara.


...***...


Pukul delapan pagi, saat Kendranata sudah berpakaian rapi ia menunggu ibunya yang sedang berkeliling desa dan melihat sawah di depan rumah.


Indri menghela napas, anak satu-satunya menjadi budak cinta dengan wanita yang sama dan ia ketahui sebagai SPG dan anak tukang jahit. Semalam suntuk ia pun harus berpikir ulang harus bagaimana menengahi persoalan yang dihadapinya seorang diri tanpa Herlambang yang entah ke mana.


Melihat wajah keruh ibunya dan tampak kurang tidur, kekhawatirannya Kendranata yang tidak berkurang sedikit pun dari tadi malam langsung berlutut di depan kursi rodanya.


“Ibu benar kesepian di rumah ini?”


Indri menghela napas lelah, ia sudah merasakan teriknya matahari, ia butuh mandi dan air putih bukannya membahas soal hati yang belum benar-benar pulih.

__ADS_1


“Jawab, Bu. Kendranata benar-benar ingin niat baik Kendra di terima ibu dan keluarga.” ucapnya penuh harap sambil menggenggam tangan ibunya. “Kendra juga harus tanggung jawab dengan keberadaan Bramasta sekarang. Dia anak kembaranku, akan menjadi anakku juga nantinya, tapi aku tidak bisa kalau tidak punya istri, Bu.”


Indri terlihat siap untuk pergi menggerakkan kursi rodanya setelah melepas tangannya. Tetapi Kendranata berhasil menahan kedua rodanya.


“Sanya bersedia merawat Bramasta, dia juga bersedia menunggu Kendranata. Tapi jika ibu tidak bener-bener merestui kami, dengan sangat menyesal ibu akan di hadapan pada pilihan. Generasi ibu berhenti di Bramasta, cucu ibu dari Pranata yang sudah memalukan keluarga!”


Tubuh Indri menegang saat menyadari Kendranata sudah mengeluarkan senjata satu-satunya, membawa kesalahan besar Pranata yang membuat segalanya menjadi babak belur.


Raut wajah wanita itu terlihat menyesal setelah menghela napas, Indri yakin, Kendranata keras kepala sepertinya dan benar-benar akan meninggalkannya jika keinginan terakhirnya ia biarkan menggantung dan tidak memberinya kesempatan.


“Di mana, Hetty?” tanya Indri tanpa berminat menatap Kendranata atau orang-orang yang berada di halaman rumah.


“Di mana?”


“Dia di Kalimantan, tempatku kerja dulu.” jawab Kendranata lembut.


Indri nampak terkejut sebelum membiarkannya berlalu. Mungkin jauh sekali perginya, tapi Indri pun juga yakin Kendranata tidak benar-benar menjauhkannya dari kehidupan mereka.


“Ibu mau menerima Bramasta, tapi tidak dengan ibunya, Ken. Ibu dengar dari Rani, bapakmu menggodanya.”

__ADS_1


Menundukkan kepala, Kendranata mengangguk.


Aku potong gajimu, Rani!


“Pilihan yang sulit, Bu. Bramasta butuh ibu pengganti dan hanya Sanya yang aku inginkan. Tolong ibu mengerti, kebutuhan ini tidak hanya Kendranata yang meminta dan mempersulit, Kendranata hanya ingin mempermudah semuanya. Capek aku, Bu.”


Merasa trenyuh dengan pengharapan anaknya dan wajahnya yang benar-benar mengiba, Indri merentangkan kedua tangannya.


“Peluk ibu sini. Jarang-jarang toh kamu mau peluk ibu dari dulu.”


“Gengsi kok, sudah gede peluk-peluk ibu terus. Emang aku Pranata.” Meski mengomel tidak terima, Kendranata yang berlutut mendekat seraya memeluk ibunya.


“Mau ibu terima Sanya? Aku jamin rumah ibu bakal rame, bapaknya dulu pelawak di TV, pasti turun itu bakatnya ke dia.” ucap Kendranata sambil mengangkat kepalanya, memandang ibunya.


Indri hanya tersenyum sambil mengelus punggung Kendranata.


“Asal jangan bikin ibu senewen saja dan memalukan keluarga, ibu pasti terima.”


Kendranata bersorak dalam hati. Akhirnya...

__ADS_1


__ADS_2