Rekah Hati

Rekah Hati
Sulit Terburai


__ADS_3

Kendranata memarkirkan sedan merahnya di pelataran parkir kafe artistik dan nyaman di daerah Prawirotaman, kampung bulenya Jogja. Tak ayal banyak bule yang berseliweran di pemukiman warga yang bernuansa western sekaligus lokal. Bar, kafe, warkop serta warung-warung kecil dan penginapan berjamur di kawasan wisata tersebut.


Memasuki kafe dengan konsep Jawa otentik baik dari segi interior atau menu. Di antara paras-paras internasional yang iconic, ada satu pria yang nampak menonjol di antara para pelancong yang mencicipi istimewanya Jogja lewat cita rasa. Paijo mengaduk-aduk nasi goreng magelangan yang ada di mejanya.


“Bro...” Kendranata menyentuh pundaknya dari belakang.


Paijo mendengus. Nasi goreng magelangan yang sedang hangat-hangatnya kontan menjadi hambar.


Masalah Dominic kelar, masalah baru datang. Komplit rasane wes koyo sego, campur endhog, campur sosis, campur bakmi, campur penyedap rasa, kecap, rawit, bawang, brambang, minyak terus di aduk-aduk ngasi mumet.


Paijo menelengkan kepala dengan wajah cengengesan. “Mas Kendra...” Ia meringis. ”Pripun kabare?”


“Leres, bro.” Kendranata menyeret kursi di depan Paijo seraya memanggil pelayan kafe. Ia menyebutkan pisang goreng dan jus alpukat sebelum memandang Paijo yang pasti mengetahui maksud dari permintaannya.


Di smoking room itu, Kendranata mengeluarkan sebungkus rokok dari sling bag-nya.


“Tadi saya ketemu Hetty, bro.” ucap Kendranata sebelum mematik korek apinya di sebatang rokok yang ia selipkan di antara bibirnya.


Otomatis, Paijo menaruh sendok dan garpunya ke piring. Ia batal mengisi perutnya sampai kenyang setelah menolak sambel pindang dan nasi hangat di rumah calon mertuanya.


“Kok harus di terusin ketemunya, Mas? Nggak kasian apa sampean sama dia?”


Hal pertama yang dilakukan Kendranata hanyalah menyesap rokoknya dan mengangguk kecil saat pesanannya datang.


”Saya justru tambah kasian setelah tahu fakta lainnya, Bro.” Kendranata menceritakan hal yang ia ketahui. Hutang di tempat Marsudi dan diusirnya Hetty dari rumah besar keluarganya.


Tak terhitung banyaknya rahasia yang pernah Paijo dengar. Namun, saat mendengar penjelasan Kendranata semua sama seperti yang ia ketahui.

__ADS_1


“Patriarki terhadap perempuan itu memang tidak mudah to mas, perempuan berumur telat menikah saja jadi rasan-rasan apalagi dia?” Paijo tersenyum kecut, sungguh tidak ada yang bisa dibanggakan dari Pranata atau pun Hetty atas tingkah biadab yang terselimuti niat.


“Itu sudah risikonya... Dia tanggung sendiri akibatnya walaupun aku jujur mas, tidak secuil pun dari seujung kukuku setelah ketok palu keluarga sampean datang untuk nengok bocah itu.” Paijo geleng-geleng kepala. ”Benci ya, benci. Tapi bocah itu cuma korban orang tuanya. Gak adil lho...”


Kendranata menggilas rokoknya di asbak lalu menghabiskan setengah dari isi gelas jus alpukat yang bercampur dengan susu kental manis coklat.


“Makanya itu saya datang ke mari untuk bertanya perihal Hetty dan Bramasta, Paijo.” ucap Kendranata sembari mengembuskan napas panjang. ”Tapi habiskan makananmu dulu itu! Saya maklum kamu ngegas.”


“Nggak daritadi!” Paijo berseru. Sepiring nasi goreng magelangan berikut dengan tambahan kerupuk ia habiskan sebelum lima belas menit berakhir.


Rokok lintingan dengan tambahan cengkih didalamnya ia keluarkan dari plastik flip yang ia taruh di sakunya. Aroma tembakau yang pekat menyeruak bagai rahasia yang ingin segera ia tumpahkan.


Kendranata tersenyum kecil. ”Jadi benar yang semua saya katakan, bro?”


“Bener...” Paijo mengangguk. ”Hetty jual sebagian warisan Pranata di Surakarta untuk beli rumah itu. Bapaknya nggak mau nampung dia soalnya beliau sempat di skors dari kampus karena skandal anaknya itu. Memang sampean tidak tahu?”


Wajah mengkerut Paijo lenyap digantikan sikap prihatin. “Itu alasannya sampean susah bawa pacar ke rumah?” Ia menyeringai.


Kendranata kesulitan bermanuver kata-kata, matanya yang melebar sudah menjawab pertanyaan Paijo yang teramat sangat menyentil ulu hatinya, ia mengangguk samar.


“Ada yang lebih penting dari itu sekarang.”


“Hetty?” Paijo melenguh, “Mulai prihatin sampean sama kondisinya?”


“Kasian, bro.”


Semua alis Paijo terangkat. “Terus mau apa sampai harus ketemu aku? Sampean itu lebih pinter toh dari Pranata.” Ia mengapit rokok lintingannya di jari telunjuk dan tengah sambil menyilangkan kaki.

__ADS_1


Kendranata termangu, biasanya ia sanggup menghabiskan berjam-jam mempertimbangkan hal-hal serius di meja kerjanya. Hanya satu ini yang sulit ia putuskan masak-masak.


Adakalanya ngobrol dengan sahabat kembarannya yang ia kenal baik adalah satu-satunya pelarian bingung yang ia pikirkan berulang kali setelah memulangkan Hetty dan Bramasta ke rumah. Tak peduli, Paijo berkata apa. Daya juangnya malas menampung sendiri tanggung jawab Pranata.


Wong dipikirannya kasus Rastanty masih segar, Kendranata bahkan menduga Hetty sering maling tatapannya terus melamun sambil sekali dua kali tersenyum lalu meringis karena memikirkan Pranata dalam wujud dirinya. Mengerikan.


Kendranata menghela napas, menjawab pertanyaan Paijo laksana menjawab pertanyaan presiden. Susah sekali dan sungguh berat terasa.


“Saya akan bertanggung jawab secara finansial, tapi untuk Bramasta. Saya angkat tangan, ibu sama bapak sulit terima dia.”


“Ya jangan kesusu begitu, sampean cerdas, simpatinya bagus, toh memang Hetty minta sampean tanggung jawab? Ndak to? Dia cuma mau anaknya punya bapak. Ndak ngerti sampean kasus bullying anak SD yang di olok-olok nggak punya bapak?”


Kendranata mengendikkan bahu. ”Saya harus ngurus bapak ibu dan usaha kami di Surakarta dan Kalimantan. Boro-boro bawa Bramasta ke rumah bro, bisa-bisa tambah pusing aku. Suster yang ngurus ibu saja berkali-kali ganti, takut sama ibu kalau kumat.”


“Ya Allah paringono sabar.” Paijo menepuk-nepuk pundak Kendranata. “Gak harus sampean tanggung jawab sepenuhnya sama Hetty kecuali kalau sampean cinta sama dia.”


“Ke mana-mana lebih baik cari yang baru mas.” Kendranata berdecak. “Gak mungkin saya menikahi seseorang yang pernah menjadi wanita simpanan dan bersedia menjadi selingkuhan.” Kendranata mengangkat dagunya.


“Dia sudah menyakiti Rastanty dengan niat, walau sudah bermaafan tetap saja saya tidak suka wanita seperti itu.”


Paijo mengiyakan harga diri Kendranata Pamungkas. Di depannya bukan lagi Pranata yang ia kenal saat berusia dua puluhan tahun, tapi Kendranata yang sudah melewati beragam situasi seorang diri dan masih sanggup berdiri kokoh.


“Terserah sampean mas, cuma kalau aku boleh kasih saran, jangan terlalu banyak memberi harapan dan ketemuan. Ngarep nanti si Hetty terus kegenitan. Kojor sampean.”


Sedikit pun Kendranata tak menurunkan dagunya, ia malah mendongak, menatap lampu bohlam kuning seraya memejamkan mata. Ia kembali melanjutkan pertimbangan yang lebih akurat. Dan lebih jauh dari itu, dia ngantuk dan lelah.


Perjalanannya di Jogjakarta tak ubahnya seperti menuju lokasi perang. Ia mempertaruhkan diri dalam enigma besar benang merah yang sulit terburai.

__ADS_1


...(⁠ ⁠・ั⁠﹏⁠・ั⁠)...


__ADS_2