
Apakah kamu sudah menjalani hidup yang kamu mau? Yang kamu inginkan? Apakah kamu pernah hidup dalam kebimbangan yang sukar di ungkapkan?
Sugandi sedang mengalami itu semua di tanah rantau, betapa susah ia menentukan pilihan saat beragam tanggung jawab sepenuhnya Kendranata serahkan. Tak ada sanak atau telinga yang mendengar keluh kesahnya, semua tertanggung di kepala, di pundak bahkan di ponselnya.
”Kalau Hetty jodohku lumayan dua tahun berakhir di pelaminan. Kalau cuma sama mas Rudy ujungnya, jadi satpam apa aku nggak kasian?”
Memejamkan mata Sugandi menghela napas sembari menunggu Hetty di depan pintu gerbang indekost-nya.
“Lagian ngusir janda harus jauh-jauh, sekarang yang repot siapa? Aku.” Sugandi menepuk-nepuk helmnya. Pusing tujuh keliling ia harus menjadi tunangan gadungan, harus terlihat akrab dalam batasan yang ia wajarkan terlihat mesra. Belum lagi singgasana pelaminan yang belum terlihat jelas dengan Hetty atau tidak. Saking pusingnya Sugandi benar-benar lupa caranya tersenyum.
“Cinta sendiri susah, nggak cinta kok aneh, janda secantik Hetty kok aku tidak mau. Hidup... Hidup, di antara pilihan iya atau tidak, sebab dan akibatnya yang susah di mengerti.”
Dari indekost Hetty yang menonton Suga di sudah menjemputnya girang bukan main.
Ada Suga semuanya aman.
Gerbang pemisah yang menghalangi pertemuan dua manusia dengan suasana hati yang berbeda itu di buka oleh pak satpam.
Sugandi menoleh saat Hetty memanggilnya dengan santun. Ada sebutan mas di depannya dan itu membuatnya Sugandi mikir ada apa lagi ini Mas Gandi... Mas Gandi... Suka sekali wanita itu membuat pikirannya bergemuruh.
“Ingat ya walau saya kasih tumpangan, jangan sekalipun tubuh anda menyentuh saya. Soalnya Bu haji bilang seorang wanita shalihah yang sedang menjadi musafir harus berikhtiar lebih baik, cobaan datang bukan hanya dari orang lain tetapi dari diri sendiri juga.”
Hetty membisu, ia menerka-nerka mencari tahu ada apa dengan Sugandi kenapa mendadak ultimatumnya terasa berat sekali.
“Iya Hetty numpang, Hetty gak sentuh sedikit pun kulit mas Gandi.” Meski cemberut dia naik ke motor seraya menaruh tas jinjingnya di antara mereka.
__ADS_1
Hetty duduk di besi, sangat tidak nyaman tetapi bagi Sugandi keberadaan Hetty yang duduk di jok paling ujung melegakan.
“Pegang itu besi sekalian kalau jatuh bukan tanggung jawab saya!” kata Sugandi mengingatkan dengan kesal-kesal gemes.
Hetty mendesah dengan raut wajah yang sebentar lagi seolah mencurahkan hujan lebat.
“Kamu kayaknya cuma terpaksa jagain Hetty, Mas. Nggak benar-benar ikhlas.”
Sugandi menggeber motornya lebih cepat, meliuk-liuk di antara kendaraan lain seolah ingin kabur dari pertanyaan yang tidak perlu di jawab. Sayangnya si penumpang yang tidak biasa di ajak kebut-kebutan itu ketakutan.
Hetty yang memegang besi langsung menepuk-nepuk punggung Sugandi.
“Hati-hati dong, aku bilangin Ken kamu ngawur mas.” jerit Hetty. “Aku masih pengen nikah tahu, minimal sekali seumur hidup. Jangan ajak-ajak ke Rahmatullah sekarang mas Sugandi!!!”
Motor berdecit keras di bahu jalan, Sugandi menarik kedua rem tangan hingga Hetty terayun ke depan dan menubruk punggungnya tak kalah keras.
“Sembarangan!” sergah Sugandi. “Anda itu jerit-jerit di telinga, saya pusing dengan suara anda.”
“Bohong!” tukas Hetty, ngebut-ngebut kok mendadak langsung ngerem dengan dua tangan. “Harusnya kamu lebih hati-hati, kamu punya amanah besar.”
“Amanah saya memang jaga anda tapi jangan ngelunjak, saya juga bisa begitu soalnya.” kata Sugandi sambil menoleh sekilas.
“Oh gitu...” Hetty menonyor helm Sugandi dari belakang. ”Jadi kamu baru balas aku sekarang, tapi mainnya kasar ya...” Hetty berdecak.
“Aku minta Kendra cari pengawal yang lebih baik saja, kalau sama kamu, balasnya waton!” Hetty memasang wajah sedih, sakit dadanya oleh cara yang berbeda..
__ADS_1
Sugandi menoleh dengan ekspresi kecut. “Saya sudah taken kontrak, dua tahun anda sama saya. Kalau tidak betah lama-lama jangan bikin saja pusing juga dengan kelakuan anda.”
“Terus aku harus gimana? Aku ini cuma pingin nyaman kerja bareng kamu.”
Sugandi kembali menggeber motor menuju kantor, sudah banyak tugas yang menanti, tugas yang satu ini cukup satu solusi.
Sugandi membawa Hetty ke parkiran langganannya menaruh motor kesayangannya. Di sana ia melepas helmnya seraya mengajak Hetty ke kursi besi kosong yang berkarat di sana-sini.
“Saya ingin bicara!” katanya tegas setelah duduk.
Hetty yang masih merasakan nyeri di dadanya cemberut. “Bicara saja, ini bukan rapat kerja.” katanya lembut.
“Saya harus menjaga anda sampai kontrak anda selesai di sini dan jika seandainya anda jatuh cinta sama saya, saya bisa terima.”
“Sugandiii...” Hetty refleks mencubit gemas lengan Sugandi. “Kok tiba-tiba bahas-bahas cinta sih, kamu kenapa?” tanyanya sambil menatapnya heran.
“Saya cuma mengantisipasi kalau-kalau nanti jadi cinta lokasi gara-gara pekerjaan ini dan status tunangan yang anda beritakan!”
Hetty terbahak-bahak, perutnya sampai bongko mendengar penuturan Sugandi yang polos dan penuh kewaspadaan.
Sugandi ini diam-diam lucu juga...
Hetty merapikan jilbabnya lalu menegakkan tubuhnya. ”Kita lihat nanti, kalau aku cinta kamu aku bilang dan kamu harus terima seperti yang kamu ucapkan tadi.” Cekikikan ia berdiri.
“Kerja yuk, cinta-cintanya bahas nanti.”
__ADS_1
Sugandi berdiri, dia merapikan jasnya seraya melangkah lebar-lebar meninggalkan Hetty lebih dulu.
...----------------...