Rekah Hati

Rekah Hati
Aku Mau


__ADS_3

Ada sensasi geli yang menghinggapi perlahan-lahan perut Sugandi seakan-akan ada ulat bulu yang berjalan-jalan di sana tanpa permisi. Nada suara Hetty dan binar matanya yang bening bagai mata air yang menyegarkan terlambat ia hindari. Mata itu seakan melegakannya dari kehausan yang teramat lama dia tahan-tahan.


“Gimana mas? Sudah lama kita di restoran ini, sampai nambah lagi makanannya tapi nggak keluar-keluar kata-katanya. Mikirin apa lama banget.” omel Hetty sembari mengambil kentang goreng di piring hijau.


Sugandi memegang perutnya bersamaan dengan jakunnya yang bergerak. Situasi yang dia setting dengan sedemikian romantis, cantik dan lumayan mewah untuknya menghadirkan sebuah pengalaman kencan semakin lama membuat lidahnya kaku.


“Ngomong ajalah, kayak nggak kenal Hetty. Aku ini terbuka.” Hetty tersenyum, berusaha paham dengan perangai Sugandi yang malu-malu tapi mau banget. Gengsinya terbilang lucu dan memeriahkan hidupnya yang ahli dalam percintaan.


“Apa masih lama kita pdkt-nya? Sebulan lagi kita pulang ke Surakarta.” kata Sugandi malu.


Betul, hari-hari boleh melaju meninggalkan kenangan, menjadi pelajaran, dan pengalaman hidup yang memberi kesan dan pesan. Tapi baik bagi Hetty dan Sugandi yang sepakat untuk membuat hubungan mereka lebih nyaman, hari-hari yang terlewati mereka gunakan untuk saling mengenali, berbagi cerita, dan membuat nyaman tanpa perlu bersentuhan. Cukuplah mata dan raga tampak di depan mata, dan dengan isi hati yang menjadi sumbernya.


“Ya tergantung mas Gandi, lagian masak kebalik. Masa mas Gandi yang minta kepastian, biasanya kan cewek yang seharusnya tanya begitu.”


Suasana sepi namun penuh ketegangan. Sugandi yang memakai jaket baru dan tampilan semi formal ala-ala bos level manager merogoh kantong jaketnya.

__ADS_1


“Aku nggak tahu ukuran jari manismu seberapa, aku cari yang sekiranya cukup. Tapi kalau tidak, bisa tukar tambah.” Sugandi membuka kotak cincin, elegan dan berkilauan. Cincin emas bertahtakan berlian mungil membuat Hetty mengigit bibir bawahnya.


Dia terpukau, perhatian dan sikap royal Sugandi semakin terlihat natural sewaktu ia harus terbaring di rumah sakit karena demam berdarah, belum lagi peran pentingnya sebagai ayah sambung Bramasta tidak terkesan di paksakan. Sugandi dan Hetty membiarkannya mengalir sesuai ritme mood dan kedatangan bocah itu di Banjarmasin.


“Beneran yakin lamar aku? Yakin menjadikanku istrimu tanpa menengok sesuatu yang telah terjadi di masa laluku?” tanya Hetty dengan jantung yang terasa berdesir.


“Aku yakin, ambilah kalau kamu mau dan percaya aku menjadi pilihan terakhirmu dalam membangun rumah tangga impianmu.” Sugandi menggeser kotak cincin itu semakin dekat ke tangan Hetty.


“Ini bagus banget.” Telunjuk Hetty menyentuh berlian kecil itu dengan hati-hati. “Kamu pasti nabung dulu buat beli cincin sebagus ini?”


Hetty mengambil cincin itu seraya mencoba memakainya dan nyangkut tepat di tengah jari manisnya.


“Kalau gini gimana? Masuk iya, tapi sesak. Gimana dong.” tanya Hetty sembari mendekatkan tangannya ke arah Sugandi.


Ada-ada saja, pikir Sugandi sembari meraih tangan Hetty. Ia memegang cincin itu dan berusaha sekuat mungkin menariknya.

__ADS_1


Brukkk...


Sugandi terjungkal bersama kursi yang patah kaki-kakinya. Cincin itu terlepas, tetapi malunya sampai Hetty harus mengajak Sugandi keluar restoran.


“Besok pagi kita tukar tambah aja mas, biar pas sekalian.” kata Hetty sambil memakai helm.


Sugandi mengantongi lagi kotak cincin itu seraya membonceng Hetty yang sebulan kemarin meminta Sugandi merasakan sensasi menjadi penumpangnya.


“Tapi jawabannya kamu mau terima aku jadi suamimu?”


Hetty menggeber motornya cepat-cepat sampai Sugandi perlu memegang besi pegangan.


“Kurang jelas ya mas jawabannya? Ampun deh...” Motor berhenti di perempatan, Hetty mengelus lutut Sugandi sembari menoleh sejenak.


“Aku mau.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2