Rekah Hati

Rekah Hati
Masuk Akal


__ADS_3

Lambang mengusap wajahnya. Dia kaget melihat bocah cilik wira-wiri di ruang keluarganya ditemani seorang wanita yang sampai mati akan mengingatnya sebagai perempuan yang meminta harta warisan untuk menghidupi anak kandung Pranata.


“Bapak.” Itu suara serak Hetty, menyapa pria berkemeja lengan pendek dan celana kulit coklat yang masih bergeming, menonton bocah yang tidak peduli masalah orang dewasa.


Lambang berpikir sejenak, sebelum memanggil Kendranata yang berleha-leha di kamarnya yang maskulin, rapi, dengan meja kerja yang hanya dihiasi satu barang. Laptop.


“Mari kita mulai pertemuan keluarga hari ini.” Memakai jas abu-abu yang tergantung di lemari, Kendranata menyempatkan diri menyisir rambutnya, memakai parfum seraya menghela napas panjang.


“Bagaimana pak?” tanya Kendranata setelah bergabung dan memanggil Rani untuk mengajak ibunya bergabung.


Lambang yang melihat putranya seperti ingin pergi ke kantor semakin tak menentu pikirannya. Pusing tadi ngakunya, pusing yang dia anggap sakit atau istilah orang Jawa itu mumet, dan butuh puyer. Ia meraba kantong celananya, sudah ia bawakan dari toko.


Kendranata tersenyum. “Bramasta, cucu bapak.” ucapnya ringan seakan sudah malas membuang-buang waktu mengurus Hetty dan Bramasta. Dia rindu Sanya yang murung sepanjang hari di tempat bekerja.


Lambang sudah tahu, sangat, siapa bocah itu. Cucunya... tapi bukan itu maksudnya, sorot matanya bertanya-tanya ada apa? Kenapa bisa di sini, di rumahnya yang saban hari hening ada Hetty dan cucunya yang mengeluarkan semerbak wangi minyak telon.


Lambang mengusap keningnya yang lebar dan berminyak dengan sapu tangan yang ia ambil di kantong celana seraya mengeluarkan puyer. Ia menunjukkan pada Kendranata.


“Bapak bawakan ini. Buat jaga-jaga.”


Kendranata mengulum senyum. Mungkin dia terlalu serius saat mengucapkan pusing. Tapi demi bintang dan bulan, bapaknya lebih santai ketimbang ibunya dalam memahami situasinya.


Kendranata menyimpan puyer itu di dalam saku jasnya. ”Aku harap bapak paham maksudku bawa mereka ke mari.”


Lambang menunduk, menatap Bramasta yang tiba-tiba menghampirinya setalah Rani berkata, ”Itu eyang Kakung, Bama.” sambil mendorong kursi roda Indri.

__ADS_1


Lambang dan Kendranata sama-sama menatap Indri yang terlihat santai dan tenang.


”Ini bukan ide bagus toh?” Lambang mengusap kepala Bramasta, hatinya lumayan menghangat mendapati keturunan Pranata ada di rumahnya meski wajah tampak kecut.


Sungguh dia tidak menyangka, rasa penasarannya pada cucu yang tak pernah dia tengok semenjak ketuk palu terpenuhi hari ini. Mimpinya terwujud di atas rasa kecewa yang ditorehkan Pranata dan Hetty yang mencoreng nama keluarga.


Hetty menundukkan kepala, sampai kapan keadaan ini akan membaik. Telapak tangannya sangat dingin dan lembab, jantungnya tak henti-hentinya berdetak kencang. Dia tersudutkan seorang diri, nampak nelangsa dan menyedihkan.


Rani yang melihatnya tersentuh, ia tidak akan membiarkannya sendiri sebab pada orang-orang seperti itu dia bisa mengeluarkan kemampuan yang ia pelajari di kampus.


Rani duduk di sebelahnya seraya mengelus punggungnya. Hetty menolehkan kepala, menelan ludahnya sekali kemudian meraih tangan Rani.


Tergenggam erat, Rani langsung merasakan bagaimana Hetty berusaha tetap tenang di rumah yang membuatnya menggigil luar dalam.


Kendranata mengambil lima langkah maju, membungkukkan badan, meraih Bramasta yang meminta gendong Lambang yang kaku di tempat. “Terima nggak terima, bapak dan ibu harus mengakui bocah ini anak Pranata. Mirip sekali toh.”


Lambang tidak perlu repot-repot berpura-pura dan memutar banyak percakapan sekarang. Dia memandang Hetty yang kecantikannya sempat dia puji berkali-kali dulu ketika matanya pertama kali menangkap paras ayu wanita itu.


“Kita bicara di ruangan bapak!”


“Rani...” Kendranata menyerahkan Bramasta yang langsung diterima wanita yang diam-diam menggagalkan rencana Kendranata membuat depresi Bu Indri meningkat.


Memasuki ruangan yang di desain seperti ruang kerja sederhana yang dilengkapi meja oval berkursi enam dan proyektor, Hetty masuk terakhir setelah membiarkan jeda sekitar sepuluh menit di susul Indri yang tidak mau acara ngobrol serius itu absen.


Hetty menghela napas, duduk di samping Kendranata yang akan memulai pembicaraan mereka dengan cerita awal bagaimana mereka jumpa dan serentetan fakta yang dia terima.

__ADS_1


Lambang dan Indri saling memandang dengan wajah masam, “Jadi menurutmu Rastanty yang Pranata harapkan akan mengunjunginya setiap saat justru tidak sama sekali mengunjunginya?”


“Rastanty depresi seperti ibu, dia pindah ke Malang bersama Dominic dua tahun!” Kendranata menjawab lalu teringat bagaimana akhir dari persahabatan mereka yang menjadikan hatinya sakit sedikit, tetapi itu sudah tidak penting. “Selama ini yang merawat makam Pranata, Hetty!”


Yang disebut namanya mengangguk meski ia sudah menunduk sejak pembicaraan di mulai.


”Saya sudah dihukum atas perbuatan saya dulu, bapak, ibu Lambang. Saya yakin itu sudah cukup...” kata Hetty gugup.


Kendranata menoleh, dihukum bukan kalimat yang tepat. Tapi karma yang mampir dan harus disudahi agar semua menjadi lebih baik pada akhirnya.


”Sekarang aku ingin mempertanyakan kepada bapak, bagaimana caranya membuat ini mudah bagi dia dan cucu bapak ibu untuk melanjutkan hidup?” Kendranata menyentuh dadanya. ”Aku tidak kuat menahan beban ini sendiri pak, aku serahkan urusan Hetty dan Bramasta pada kalian selaku orang tua Pranata.”


Lambang menyandarkan punggungnya dan bersedekap, dia mengamati gerak-gerik Hetty sebenarnya sedari tadi. Pelbagai jenis pertimbangan juga dia pikirkan.


“Untuk mengakui Bramasta sebagai cucu kami tanpa pernikahan sebelumnya itu apa mungkin?” Lambang berdehem dengan sorot mata serius. ”Kamu mau menikahi Hetty agar mempermudah penerimaan Bramasta sebagai cucu kami?”


Kendranata memamerkan cincin pertunangannya dengan Sanya. ”Aku akan menikah dengan Sanya dan permintaan bapak itu akan merendahkanku!” ucapnya serius sekaligus emosi.


”Gak mungkin aku menikahi Hetty, aku tidak sudi menjarah tempat yang sama, aku hanya ingin bapak dan ibu tahu. Ada lho ini anak Pranata yang butuh kasih sayang. Nggak kasian apa itu bocah nggak tahu apa-apa sudah tidak di terima oleh keluarga? Maaf, pak...” Kendranata mengatupkan kedua tangannya. ”Nggak mungkin kita kehilangan Pranata jika aku dan Prana tidak bersaing. Itu khianat paling tidak masuk akal dari seorang orang tua dalam mendidik anak-anaknya!”


Indri mencengkram sandaran lengan kursi roda. Ucapan Kendranata menonjok hatinya, terlebih menikahi Sanya tadi cukup mengejutkannya. Sementara Lambang mengusap keningnya dengan sapu tangan.


“Bapak pikir-pikir... Ini tidak gampang seperti mengucapkannya!”


Kendranata setuju dengan syarat, Hetty dan Bramasta akan tinggal sementara waktu di rumah itu sementara ia hengkang dan pindah ke rumah satunya. Rumah pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2