
Hetty mencoba mengulang peristiwa yang terjadi dalam benaknya setelah sepersekian detik lalu ia tiba di stasiun tugu, Yogyakarta.
Kenangan akan Pranata masih sama. Masih kental di ingatan bagaimana semua terjadi.
Sedetik kemudian. Dalam kisah yang terpintal bersama benang merah yang menyimpan sekelumit bara cinta, Hetty mulai menyesali tindakannya. Dadanya mulai sesak dan matanya mulai perih sebelum kemudian setetes air mata jatuh di pipinya.
Hetty menunduk di tepi jalan di bawah terik matahari dan riuhnya tempat seseorang datang dan pergi dari kota ke kota.
Berbekal jilbab yang ia pakai milik Sanya, Hetty menghapus air matanya dan berusaha untuk tegar.
“Maafkan aku, Rastanty.”
Mencegat taksi konvensional lewat, Hetty memandang kota Yogyakarta yang akan ia rindukan sebelum berkunjung di makam Pranata. Segala unek-unek dia keluarkan termasuk cacian dan serapah, namun ia tinggalkan setangkai bunga mawar merah sebelum menjauh dari pusat segala pikirannya bertahun-tahun silam.
“Selamat tinggal, Nata. Aku pergi.” Menangis dan terluka, ia pulang ke rumahnya.
Hetty mendadak repot mencari berkas-berkas pentingnya sebelum repot mengurus pagar dan gembok seraya pergi ke rumah orang tuanya dengan berjalan kaki.
Mbok Minah, asisten rumah tangga orang tuanya membukakan pintu.
“Bu... Ibu. Mbak Hetty pulang.” seru Mbok Minah.
Menggugah kesibukan Ratih di dapur dan suaminya yang baru berganti pakaian.
Hetty yang menunggu tanpa basa-basi langsung menyalami keduanya saat tatapan orang tuanya terlihat terpukau dengan penampilannya yang baru.
__ADS_1
Hetty tersenyum simpul, rindu rumah, tapi ia telah membulatkan tekadnya menyampaikan kabar.
“Aku pulang cuma ambil beberapa surat penting milikku. Nggak banyak kok, Ma, Pa.”
Belum sempat Ratih membuka suara, Hetty sudah menaiki anak tangga dengan lincah. Menginjakkan kaki di kamar yang menjadi tempatnya bermesraan dan menggarap tugas dengan Pranata kembali mengangkat kenangan yang ada.
Sekejap dia merebahkan tubuhnya di kasur yang beralaskan seprai bersih sebelum mengunci kamar.
”Pergi dari Jogja yang artinya aku pergi meninggalkan mama dan papa juga? Terus kalau nanti ada yang ngajak aku nikah, apa mungkin mereka mengizinkan?”
Hetty menggaruk hidungnya, ”Ribet juga, ya. Tapi coba deh aku bilang saja sekalian pamit nanti.”
Membuka lemari, Hetty menarik laci yang terkunci setelah membukanya. Ia mengeluarkan berkas-berkas penting semasa kuliah dan perhiasan yang di belikan orang tuanya semasa ia menjadi anak manis kesayangan keluarga.
Di luar kamar, Ratih menunggu sampai pintu kamar Hetty terbuka.
“Di mana Bramasta? Kenapa juga kamu tiba-tiba pakai jilbab?” Ratih menyentuh penutup kepala Hetty dengan ekspresi heran. Putrinya jarang meninggalkan Bramasta, apalagi menghilangnya sang anak selama dua bulan sangat mengkhawatirkannya.
“Bramasta sama nenek Sri di Solo, kalau ini karena aku mau memakainya.” Hetty tersenyum bangga sambil menyentuh tepi kepalanya. “Bagus kan, Ma?”
“Nenek Sri, siapa? Nenek Bramasta cuma mama, Hetty.” Ratih menggeleng kepala, khawatir. Anaknya menyembunyikan banyak rahasia. ”Kamu pergi sama siapa? Tinggal di mana? Kamu berhubungan dengan kembaran Pranata?” imbuhnya penasaran.
“Enggak berhubungan sama dia, Ma.” Hetty menggeleng. Itu tidak akan mungkin terjadi, sampai kapan pun Kendranata tidak akan tertarik padanya. Di mimpi pun susah hadirnya.
“Aku tinggal di Solo, di rumah nenek Sri dan Sanya, tunangan Kendranata.” Hetty menjelaskan beberapa kejujuran yang terjadi kemarin.
__ADS_1
”Berhubung mama dan Bu Indri nggak ada yang mau menerima Bramasta sebagai cucu. Sanya dan nenek Sri yang akan menggantikan posisinya. Aku akan kerja ke Kalimantan!”
Ratih seperti dihujani penyesalan yang mendalam. Dia menunduk sambil menahan lengan Hetty yang hendak menuruni anak tangga.
“Biar mama ketemu Bramasta, Hett. Mama tidak mencelanya. Mama hanya tidak bisa bertengkar dengan papamu dan membuat semuanya makin menjadi-jadi.” Mata Ratih berkaca-kaca.
Hetty melepas tangan Ratih perlahan-lahan dengan ekspresi apa sih, seolah ia tahu penyesalan slalu datang di belakang dan itu tidak mengubah apapun tekad yang Hetty bulatkan sepanjang hari.
“Ke Solo aja kalau mama mau, cuma dia sekarang di bawah pengawasan Kendranata. Dia akan jadi wali Bramasta sampai mati.” kata Hetty tenang.
“Sekalian Hetty mau pamit, rumahku akan aku kontrakan. Dan kalau pun aku pulang ke Jogja, aku cuma akan pulang untuk minta restu mama dan papa buat nikah selebihnya aku ke Solo. Tempat Bramasta.”
“Hett... Jangan gituin mama... Mama sedih kamu begini, mama sedih, Hetty.” rengek Ratih sambil mengikuti langkahnya menuruni anak tangga.
“Yaudahlah, Ma. Mau gimana lagi. Aku sudah besar ya, aku rawat Bramasta sendiri aja sanggup. Sekarang aku mau melanjutkan hidupku. Mama jangan membebaniku lagi deh. Mama urus aja papa, itu udah cukup membuat mama tenang.”
“Kenapa bawa-bawa papa?” sahut ayah Hetty yang duduk di ruang tamu.
“Papa tanya aja mama.” Hetty buru-buru menyalami kedua orang tuanya tanpa berminat berlama-lama di sana.
Kembali berjalan cepat di jalan penghubung antar kompleks Ratih yang meneriakinya sampai tenggorokannya serak tak mampu menghentikan langkah Hetty yang semangat tanpa sekalipun ingin menoleh ke belakang.
“Aku akan meninggalkan semua yang meninggalkanku kecuali Bramasta. Aku wanita kuat, aku wanita tegar. Ya Allah.”
Menangis ia berlutut di pagar rumah. Letih, semua beban seolah terbagi rata di hidupnya. Beban keluarga, anak, dan status janda yang membuatnya ngeri akan godaan dari pria-pria gila yang membutuhkan perhatian.
__ADS_1
...----------...