
Mereka berangkat ke bandara Adisumarmo yang terletak di kabupaten Boyolali ketika akhir pekan tiba. Penuh haru dan berat hati, Kendranata mengemudikan mobil ayahnya yang cukup besar untuk menampung Hetty dan koper-kopernya, Bramasta, Sanya, Bu Sri dan seorang sopir keluarga sesaat setelah membiarkan Hetty lega bermain dengan Bramasta.
Ketika mereka tiba di sana hari masih siang, mereka tiba lebih cepat dari jadwal keberangkatan Kendranata dan Hetty ke Banjarmasin.
Hetty yang sepanjang jalan memangku Bramasta memeluknya lebih erat. Mereka yang melihatnya ikut trenyuh. Sanya yang akan menjadi ibu penggantinya membuang tatapannya ke parkiran dengan mata berkaca-kaca, dadanya sesak, ia tidak berbohong. Perpisahan ibu dan anak itu sangat memprihatikan, di satu sisi mustahil bagi Hetty menetap lebih lama di rumahnya.
Hatinya slalu ketar-ketir melihat tatapannya ke Kendranata dengan rasa rindu yang menyalak besar-besaran.
Mereka menetap lebih lama di Bandara, membiarkan Hetty memberikan pelukan terlamanya untuk Bramasta tanpa protes sambil saling menguatkan.
Mama Tyty yang genit-genit manja itu pintar membuat kue, bersih-bersih pun sanggup, keahliannya merias wajah kembali terasah ketika peralatan make up Sanya yang masih segel boleh ia gunakan. Hanya satu ketidakahliannya, memasang gas LPG.
“Titip Bama, Bu.” Hetty menyerahkan Bramasta ke Bu Sri yang slalu membawa jarik batik.
“Kamu ingat pesan ibu. Jilbabmu itu hanya penutup kepala, yang bisa menjaga dirimu adalah sikap dan caramu bergaul. Hati-hati di sana, ya.”
Sri menangkup belakang kepala Hetty dan mendekatkannya ke wajahnya. Ia mencium kening Hetty serupa mencium anaknya sendiri yang menangis dalam diam di belakang Kendranata.
Hetty mengangguk dengan air mata yang mengalir di pipinya. Kasih sayang Bu Sri menghangatkan hatinya yang sepi dan pilu.
Hetty memeluk Bu Sri seraya memberi ciuman di seluruh wajah mungil Bramasta yang nyaman berada di gendongan nenek sambungnya.
Tangannya meraih tangan mungil yang sedang memegang permen susu seraya menggenggamnya.
“Mama Tyty naik pesawat terbang dulu ya untuk ambil bintang di langit untuk Bama.” Hetty menciumi punggung tangannya. “Bama jadi anak baik, ya. Jangan nangis...”
Tidak, anak itu tidak menangis sekarang. Bramasta hanya menatap hiruk-pikuk Bandara dengan sikapnya yang tidak tahu apa yang terjadi. Namun pasti kelak ia akan mencarinya, mencari ibunya yang mati-matian membesarkan dan menghidupinya sampai hampir mati rasanya di tikam putus asa.
Kendranata yang merasakan jaketnya di pakai untuk menghapus air mata Sanya menghela napas. Perpisahan ini harus di sudahi, mereka harus boarding pass.
__ADS_1
“Kita harus masuk!”
Sanya menahan tepi jaket Kendranata yang membuat laki-laki itu batal mendekat. “Kenapa?”
“Cepat pulang.” ucapnya serak, ia takut Kendranata nyangkut di sana, di tempat kerjanya dulu yang memberikan lebih banyak uang dan kekuasaan.
Seakan tahu isi hatinya, Kendranata berbalik. ”Tunggu di rumah, aku pasti pulang setelah urusan selesai.” Sanya mengangguk mendengar keseriusan kalimatnya.
Mereka lalu mengantar Hetty dan Kendranata menuju pintu keberangkatan seraya melambaikan tangan ke Hetty yang tampak sangat terpukul.
...***...
Memakai kacamata hitam nyaris dua jam berasa di pesawat, mereka berdua akhirnya menginjak landasan pacu bandara internasional Syamsudin Noor.
Kendranata yang membiarkan Hetty menangis dalam diam sambil menyandarkan kepalanya di jendela pesawat mengulurkan minuman kemasan.
“Kita langsung bertemu executive manager di kantor, sebaiknya kamu mandi dan dandan lagi.”
“Sederhananya saya pingin menyelesaikan satu persatu beban di kepalaku dengan terstruktur dan sistematis. Selesai mengurus pekerjaanmu dan tempat tinggal di sini, saya langsung pulang ke Solo. Minta restu orang tua dan menikahi Sanya.”
Langit Banjarmasin menenangkan, tidak cerah, tidak mendung, hanya berawan dengan embusan udara yang stabil. Kondisi itu berbanding terbalik dengan Hetty yang mendung dan sangat nelangsa. Setiap langkahnya yang mengikuti Kendranata di dalam bangunan bandara terasa berat dan gontai.
“Dua tahun cukup?” tanya Kendranata sambil mengambil koper Hetty di antrian bagasi.
“Itu lama banget, Bama pasti sudah TK.” Hetty menguncupkan bibirnya.
“Sesuai kontrak kerja, cuti hanya saat-saat penting!”
“Kalau mendadak kangen pingin pulang gimana? Terus kalau nggak betah—”
__ADS_1
“Telepon!” Kendranata tampak sedikit emosi saat mengucapkannya. “Jangan jadi wanita lemah di tanah Borneo!”
”Aku dari Jawa, sudah dari sananya lemah lembut, toh?”
Kendranata menjureng sinis seraya meninggalkannya keluar bandara. Sejenak ia menggerutu karena pengakuannya yang lembah lembut sambil mencegat taksi.
Terpogoh-pogoh Hetty mengikutinya dan mencelat langsung ke dalam mobil saat Kendranata tidak menutup pintunya.
“Ingat, saya memberimu satu pengawal rahasia yang akan memberikan informasi dimana dan dengan siapa saja kamu berada. Artinya setiap gerak-gerikmu di luar rumah saya tahu!”
Hetty mengangguk dan tersenyum kecut. “Makasih ya sudah perhatian.”
Kendranata menghela napas, jika bukan ini, jika bukan itu pasti malas juga dia membantu tanggung jawab kembarannya.
“Usahakan jangan memalukan saya di tempat kerja karena saya merekomendasikan mu memiliki kinerja bagus.”
“Iya, aku usahakan. Aku akan bikin kamu bangga.” ucap Hetty serius. ”Nanti waktu kamu nikah, nggak usah ajak Bama foto bersama biar kalau dia gede dan lupa sama aku, dia yakin orang tuanya adalah kalian.”
Kendranata yang meminta untuk mampir dulu ke toko serba ada bersedekap.
“Seperti itu di pikirkan belakangan. Kau ini...” ucapnya mengingatkan dengan kesal-kesal gemes, “Sekarang turun, beli keperluanmu sekalian ingat lokasinya!”
Hetty membeku di tempat seraya menggelengkan kepalanya. “Aku lemas, aku tidak nafsu belanja. Aku memikirkan Bama, coba deh Ken telepon Sanya dulu, aku mau lihat wajahnya sekarang.”
“Kenapa tidak pakai hpmu sendiri? Tuhan...” Kendranata membenturkan keningnya di kaca mobil. ”Pra... Aku jual semua warisanmu untuk mengganti uangku... Hah! Lihat saja, namamu tinggal nama!”
“Jahat sekali.” Komentar Hetty seraya mengambil hpnya di tas. ”Aku telepon Sanya dulu ya biar semangat liat anak, kita kasih mereka kabar juga, kita sudah sampai di sini.”
“Terserah.” Isi kepalaku hanya ingin mengeluarkan serapah untukmu.
__ADS_1
Kendranata membuang muka ke parkiran supermarket yang berisi lima motor dan penjual boba. Ia melamun memikirkan usaha meluluhkan hati Indri untuk menerima Sanya di keluarganya.
...----------------...