Rekah Hati

Rekah Hati
Cuil


__ADS_3

Dengan kekuatan kafein yang ia minum sebelum menuju lokasi pertempuran hati, mental dan akal sehat. Kendranata menatap Sanya yang masih terjaga di sebelahnya.


“Gak mau tidur kamu?”


Sudah nyaris pukul tiga dini hari. Mobil masih melaju menuju kost eksklusif tempat Kendranata menginap selama berada di kota Yogyakarta.


“Nanti aja tidurnya di ... Di mana kita tidur mas? Rumah Hetty? Ih males...” Sanya membuang muka ke kiri lalu meracau sendiri bagai melayani customer yang bertanya ini itu, mencoba ini itu tapi tidak membeli satu pun barang yang di coba.


Kendranata menepuk pelan kepalanya. “Kita tidur di kost, Sanya.”


”Di kost, berdua?” Sanya bertanya sambil mengernyit. “Jangan berduaan, aku nggak mau. Orang aku ikut ke Jogja buat jaga aset hatiku yang sangat berharga! Bukan cari masalah apalagi dosa dan aku bukan Hetty!” Sanya menjentikkan jari di lengan Kendranata.


Cekikikan sambil memutar stir mobil memasuki gang hanya bisa di lalui satu mobil. Kendranata menghela napas.


”Emang aku mau tidur berdua sama kamu?” Kendranata mencibir. “Jangan mimpi, Sya... Sudah lewat jamnya, sudah waktunya kamu siap-siap salat subuh.”


Sanya mencondongkan tubuhnya, menumpukan dagunya pada telapak tangan yang bersandar di dashboard mobil. Ia mendongak, membuang tatapannya pada bangunan bertingkat tiga.


“Ini kost-nya mas, bagus—”


"Bukan!” gurau Kendranata sambil melepas sabuk pengaman. “Ini cuma rumah singgah kita.”


“Sama aja kali mas, berbelit-belit kamu kayak belut.” Sekali lagi Sanya menjentikkan jarinya di lengan Kendranata yang berbalut kemeja kotak-kotak.

__ADS_1


“Biar.” Kendranata tersenyum sambil mencoba mencari jalan keluar. Sulit rasanya mengambil jeda untuk meninggalkan teduh dan cerahnya mata Sanya walau hanya beberapa jam setelah sekian lama dia sibuk mengurus pekerjaan dan ibunya yang sakit mental. Tapi Kendranata menghela napas dalam diam, Sanya pasti akan mengajaknya berdebat tentang arti kebersamaan mereka di dalam kamar berdua sampai akhirnya tidak ada yang terpejam dan itu tidak mungkin terjadi.


Menghadapi Bramasta yang pasti membuatnya bekerja keras hari ini membuat Kendranata membutuhkan banyak istirahat. Belum lagi sikap tidak suka terang-terangan Sanya kepada Hetty bagai berada di ruang sauna. Hangat dan bikin berkeringat.


“Kamu nanti tidur di kamarku, aku cari kamar baru terus jam delapan nanti kita baru ke tempat Bramasta. Cukup buatmu istirahat, Sya?”


“Gimana kalau jam sembilan? Terus boleh aku request kita ngasuh Bramasta dimana mas?” tanya Sanya rikuh tapi bibirnya nyengir.


Punya rencana sendiri ternyata.


Kendranata mengubah sandaran punggung jok mobil lebih ke belakang. Ia merebahkan punggungnya yang pegal seraya menoleh.


“Mau ke mana?”


”Kemarin kita sudah ke kebun binatang.” cetus Kendranata tiba-tiba.


Sanya langsung menatap Kendranata dengan tajam. “Sudah sedekat itu kamu dengan Hetty mas? Oh mendadak dadaku sakit, semangatku redup.” ucapnya sembari menyentuh dada, ekspresinya pun menjadi kecut.


“Sudah jalan-jalan di kebun binatang. Lihat buaya, lihat gajah tapi mantan kembaran lihat kamu sebagai harapan baru penebus rindu. Cuil lagi hatiku mas. Cuil.”


Kendranata memalingkan wajah, senyumnya merekah, pipinya merona, keterbukaan informasi hati Sanya kadangkala seperti gurun pasir yang ditimpa hujan, menyejukkan keresahan-keresahannya yang tidak bisa dia jelaskan secara gamblang, tapi kadangkala seperti tumbuhan kaktus.


Masih over thinking. Suka cemburu dengan hal-hal tidak penting.

__ADS_1


Sanya memutar bola matanya dan ikut mengempaskan diri di sandaran jok mobil. Keduanya larut pada keheningan pagi dan kelelahan ragawi tapi Sanya mulai sebal, harusnya Kendranata menceritakan bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama secara relevan.


”Malah diam.” Sanya menarik-narik kemeja Kendranata. ”Ngomong mas, cerita.”


Sebuah senyum menghiasi bibir Kendranata sebelum menoleh, “Yakin mau dengar ceritanya, nanti bukannya lega kamu malah marah.”


Dipikir-pikir lagi, kemungkinan terakhir itu lebih besar akibatnya, hanya saja Sanya mencoba menepis pikiran tersebut dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.


”Dari pada aku mikir yang iya-iya terus bikin aku cepat keriput mending mas Kendra cerita... Yang jujur.”


Kendranata menyakinkan diri upayanya bersikap jujur dengan menceritakan kronologi kejadian awal bertemu Hetty sampai janji yang ia berikan untuk memberi nafkah Hetty, menemuinya kala weekend tiba tidaklah berakibat buruk.


Memang tidak berakibat buruk karena baru seperempat cerita ia ucapkan kepala Sanya yang miring ke kiri dan menempel pada kaca mobil membuatnya yakin, wanita itu sudah tertidur. Kendranata mencondongkan tubuhnya seraya menjulurkan tangan. Napas yang teratur dan tangan yang bersedekap membuatnya menghela napas sebelum bersenandung.


“Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar ku terlelap... Mimpikan aku, mimpikan yang indah...”


Kendranata mengambil tas ranselnya di jok belakang sebelum keluar dari mobil karena berhubung Sanya memilih tidur di mobil dan tak berani ia membangunkannya sebab akibat yang di timbulkannya akan besar dan ribet, kasur busa di kamar kostnya lebih baik untuknya sendiri. Mantap sekali Kendranata merenggangkan tubuhnya sebelum merebahkan punggungnya yang sudah menjadi tulang punggung keluarga kembarannya.


Mendesah ia memeluk guling dan mencari kenyamanan yang ia butuhkan dalam kamar yang remang-remang.


Memejamkan mata Kendranata bergumam, “Tidur dulu sebelum hari ini jadwal khusus merayap dari pagi hingga malam.”


^^^(⁠/⁠^⁠-⁠^⁠(⁠^⁠ ⁠^⁠*⁠)⁠/^^^

__ADS_1


__ADS_2