Rekah Hati

Rekah Hati
Spesial Untukmu


__ADS_3

Bu Sri menggoyangkan lengan Bu Ratih karena wanita paruh baya itu terlelap di bahunya.


“Kita sudah sampai, Bu.” Bu Sri menjelaskan.


Ratih yang meneguk obat chlorpheniramine atau biasa di kenal dengan sebutan ctm membuka mata. Menatap keluar jendela mobil dengan mata menyipit silau.


Bangunan indekost yang sebagian sudah di gambarkan oleh Kendranata terlihat di depan matanya.


Sopir turun, ia gegas mengosongkan bagasi dengan cepat seraya membuka pintu penumpang. Tiga tamu bergantian turun dari mobil sebelum Bu Sri yang menggendong Bramasta membayar sewa mobil dari Bandara ke alamat indekost itu.


“Kendranata pesan kita nunggu di kontrakan Sugandi saja, Bu Ratih. Peraturan di kost Hetty lumayan ketat anaknya juga belum pulang kerja.” ucap Bu Sri.


Ratih yang manut-manut saja karena posisinya lemah meraih dua koper barang bawaan mereka sebelum menyebrang jalan.


Sugandi yang telah mengetahui kabar bahwa akan ada tamu dari Surakarta tidak mengunci pintu gerbang dan meninggalkan kunci rumah di bawah pot bunga, maka mereka bertiga dengan mudah masuk ke rumah itu atas informasi dari Kendranata.


Selagi mereka beristirahat dan menyiapkan suprise untuk Hetty. Di kantor wanita itu merasa hari ini rasanya ingin cepat pulang. Dia gelisah, bawaannya hanya ingin pulang. Kerjaan yang biasanya mudah ia handle kini terasa ruwet.


“Mas Gandi, aku males banget hari ini.” ucap Hetty di belakang pria yang membuat kopi di pantry.


Sugandi berusaha bersikap sewajarnya, mau bagaimana pun suprise itu akan dia simpan rapi agar semua sesuai ekspektasi dan ledakan rindu itu mampu mengisi hatinya yang sepi.


“Mungkin kamu itu kurang makan nasi, jadi males.” kata Sugandi sambil mengaduk kopi.


“Coba deh aku cicipi kopi buatanmu, siapa tahu habis itu aku melek.” Hetty meraih cangkir kopi Sugandi yang masih ada di meja.


Namun sebelum bibir sensual itu menyentuh bibir cangkir buru-buru Sugandi merebut kopinya hingga tumpah ke lantai dan membuat Hetty berjingkat kaget.


“Mulutmu mau mlonyoh!” seru Sugandi jengkel. “Ini air mendidih Hetty, puanassss!”


“Kan mau aku tiup dulu lho mas Gandi, nggak langsung aku seruput.” Hetty mendesis. ”Harus ngepel juga toh aku, tambah kerjaan. Wuuu...” Melengos ia pergi ke ruangan penyimpanan perkakas kebersihan kantor.

__ADS_1


Hetty mengambil alat pel seraya membasahinya dengan air sebelum membersihkan tumpahan kopi. Sementara Sugandi hanya memantaunya sambil menyeruput kopi yang masih panas sekali.


”Tuh curang, emang ya, selain minta cintanya di terima padahal belum pasti jatuh cinta sekarang gayanya mirip bos yang mengintimidasi karyawan.” Hetty mendesis seraya menyandarkan gagang pel ke dada Sugandi.


“Kamu buat kopi lagi, ini buat aku.” Hetty kembali meraih cangkir kopi seraya meninggalkan Sugandi dari pantry.


Sementara laki-laki itu mencengkram erat gagang pel dengan muka jengkel, Hetty terkikik kecil.


“Perhatian tapi mahal, jadi makin penasaran.” Menarik kursi kerjanya sembari menaruh kopi buatan Sugandi yang sama sekali tidak ada manis-manisnya Hetty terlihat sebisa mungkin fokus mengerjakan pekerjaannya yang masih memakan waktu dua jam di kantor.


“Saya kerjakan sebagian biar cepat selesai.” Sugandi mengulurkan tangannya melewati bahu Hetty, “Saya malas harus menunggu kamu lembur nanti!”


Dengan amat sangat berterima kasih, Hetty langsung menyerahkan separuh dari kerjaannya ke tangan Sugandi.


“Makasih mas Gandi, your are the best for me.” Hetty mengedipkan sebelah matanya. “Ingat lho, kalau sampai kita cinta lokasi kita nikah ya.”


Sugandi menggeram seraya ingin mengigit kepala Hetty yang tertutup kerudung hijau sage.


“Saya saja hampir resign dan membayar denda agar terbebas dari anda karena saya sadar mendapatkan cintamu bagai buih jadi permadani. Angel.”


Kembali Hetty dibuat tertawa oleh kejujuran Sugandi.


“Gak susah kok mas, asal kamu bahagia saat mencintaiku, aku akan belajar mencintaimu juga.”


Sugandi mencengkram rambutnya di kursi kerjanya. “Aku mumet, mumet banget. Kendranata memang semprul.”


Dua jam yang terasa cepat kini terasa lambat. Pekerjaan yang terasa enteng menjadi sukar di uraikan. Ia mengerti tetapi tidak bisa, Sugandi memilih membawa pekerjaannya pulang saat jam kerja berakhir.


“Nanti saya harus mampir swalayan, kamu tidak keberatan?” tanya Sugandi di parkiran.


“Nggak kok, aku malah seneng kita punya banyak waktu bareng.” Hetty naik ke atas motor, menjaga jarak dengan pria itu seperti janji setianya untuk menjaga kesepakatan bersama.

__ADS_1


Di swalayan, Sugandi yang harus memberikan jamuan untuk tamu di rumahnya membuat Hetty mengernyit dengan pilihan belanjaannya.


“Kebutuhan dapur kamu banyak banget mas, buat apa beras 10kg? Mau ngasih makan siapa? Aku? Ini lagi jajanan ih kamu mirip anak kecil.”


Sugandi membiarkan Hetty mengomentari belanjaannya, nanti lihat saja sewaktu ia tahu untuk siapa belanjaan yang ia beli sekarang.


Melongo Hetty pasti, tambah klepek-klepek ia pasti padanya. Sugandi tertawa jahat dalam hati sembari membayar belanjanya.


“Berasnya kamu pangku, yang lain biar di depan.”


“Ah kamu.” Meski mengerucutkan bibirnya, wanita yang takut ditinggalkan Sugandi di swalayan yang masih jauh dari indekostnya menurut. Dan tanpa ada firasat apa pun akan kehadiran ibu dan anaknya Hetty malah mendesis gemas saat Sugandi mengajaknya pulang ke rumah kontrakannya.


“Bawa masuk sekalian berasnya!” kata Sugandi setelah membuka pintu rumah.


“Ya ampun, Mas Gandi. Semakin berani ya nyuruh-nyuruh Hetty.” Meski 10 kg terbilang enteng, Hetty yang mendengar suara anak kecil mirip Bramasta di rumah itu membuatnya gelagapan.


“Bama...”


“Bama...”


Dari arah kamar Sugandi yang di bajak bocah itu, langkah luwes dan berani Bramasta mengejutkan Hetty.


“Mama.”


“Loh... Loh... Anakku...” Hetty terlihat takjub seraya menyambar Bramasta dan menggendongnya. “Sama siapa Bama datang ke sini? Ya Allah, mama kangen.” Memeluk Bramasta dengan erat, Bu Ratih dan Bu Sri nongol bergantian dari kamar itu sambil tersenyum hangat dan ikut memeluk Hetty.


“Loh mama, ibu... Loh... Jadi nangis.”


Sugandi memejamkan mata sembari menutup pintu rumah. Dia menghela napas sambil membayangkan betapa kacau hidupnya saat ini. Entah, rumah ini akan menjadi seperti apa setelah kedatangan tamu spesial untuk Hetty tetapi yang ia tahu rumah kontrakan itu akan jauh lebih ramai dari sebelumnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2