Rekah Hati

Rekah Hati
Love you


__ADS_3

Hetty meneror beberapa pesan ke nomer Sugandi seraya mengirimkan foto terkininya di depan kost-kostan sambil tersenyum di bawah sinar matahari seraya mengirim selarik pesan kemudian.


“Kamu pasti sedang mengawasiku, iya?”


Hetty menyembunyikan ponselnya di tas seraya membuka pintu gerbang, ia menunggu jemputan dari kantor yang nyaris datang tepat waktu.


Sugandi tak ingin tersenyum melihat serentetan pesan masuk di ponselnya setelah matanya memandang Hetty yang bergeming di pinggir jalan.


Wanita itu terlihat tambah bersinar menggunakan jilbab cerah dan setelan jas untuk Muslimah.


“Itu janda badung, diabaikan saja biar kesal sendiri.” Menunggangi motor hitam nmax-nya, Sugandi mengenakan helm seraya mengamati mobil kantor yang sampai di depan Hetty, dia menunggu mobil itu melaju sebelum ia membuntuti Hetty ke kantor.


Rutinitas itu baginya terasa gurih-gurih alot, membuntuti seorang wanita yang cantiknya minta ampun bagi ia yang tak pernah diberi kesempatan oleh semesta bertemu dengan wanita cantik rasanya kadang membuatnya ingin tak setia pada tuannya.


Hetty menoleh ke belakang, pikirnya semrawut oleh tanda tanya yang dia putar dan plintir berulang kali. Lima menit ia memfokuskan matanya ke pengemudi motor yang tersenyum kecut di balik helm full face-nya.


Apa ini cuma perasaanku aja ya, pikir Hetty gusar dan sekali lagi, dia menoleh ke belakang, Sugandi menyalip mobil itu untuk menyingkirkan dugaan Hetty.


“Kayaknya motor itu sering banget ada di belakang mobil ini, Pak.” ucap Hetty sambil menuding motor hitam nmax yang menyalip di antara mobil dan motor.


Rudy sebagai teman lama Kendranata cuma tersenyum, Sugandi itu, teman ngopi di kantor. Sudah lama kerja belum paham-paham.


Rudy menoleh sekejap seraya menggerakkan tongkat persneling.


“Mungkin hanya kebetulan saja motornya sama, Bu. Banyak yang sama, baru ngetren.” jelas Rudy santun.


“Mungkin ya, Pak.” Hetty mencoba waras dan kembali bersandar di jok hitam, ia tenang karena Kendranata sudah memberinya penjaga. Tapi di mana Sugandi?


Kembali Hetty mencoba mengawasi sekeliling seperti orang linglung. Matanya menyipit curiga pada setiap orang yang ia lihat sepanjang menuju kantor.


Hetty mendengus, ”Sugandi ngawasin aku pakai telepati apa ya, kok dia nggak pernah keliatan nyapa apa kenalan dulu gitu. Diam-diam menghanyutkan.” Mengucapkan terima kasih pada Rudy, ia langsung keluar mobil.

__ADS_1


Hetty merapikan jilbabnya seraya melangkah dengan keindahan bak seorang model.


Bekerja di kantor yang mengelola bisnis batu bara, junior yang masih beradaptasi dengan pekerjaan dan rekan-rekan baru itu sering kali mencuri perhatian. Termasuk si bosnya.


Sugandi menghampiri Rudy yang memarkirkan mobil kantor di area khusus di samping gedung.


“Dia menanyakan sesuatu, Pak?” tanya Sugandi, melepas helm seraya jaketnya yang langsung ia taruh di atas kap mobil.


Rudy membuka jok mobil, mengeluarkan jas hitam yang terlipat rapi.


Sugandi memakainya dengan cepat lantas menyugar rambutnya. “Saya malas harus kerja kantoran jika bukan karena janda satu itu, Pak. Nambah-nambah tanggung jawab saya!”


“Sudah jalani saja, kerja gaji dobel.” Rudy menepuk-nepuk punggungnya, “Lumayan jaga jodoh orang, untung-untung jadi jodoh sendiri.”


Seperti dikomando masuklah Sugandi ke gedung kantor. Tak seperti kantor yang tenang dan kondusif, kantor batu-bara itu sibuk dengan keluar masuk orang tambang yang memakai pakaian wearpack dan topi keselamatan bersih sebelum pergi ke proyek penggalian.


Saban hari pesona Hetty yang transit di sana dua tahun, bagaikan bidadari yang menyegarkan mata. Terlebih wanita yang acap kali ramah dan suaranya yang lembut itu membuat jantung laki-laki rantau berdebar-debar.


”Jadiin bini saja lebih bagus si Hetty ini daripada di lirik sana-sini dan semakin susah menjaganya.” ucap Sugandi sembari masuk ke kubikelnya. Sepuluh meter letaknya dari tempat Hetty menggarap setumpuk tugas yang diberikan pak bos.


Serasa ikut terpanggil, Sugandi bersiap-siap membuat antisipasi mengganggu si bos.


Di dalam sana, saat Hetty sampai dan menyapa. Bos yang tak di sebutkan namanya dan bertubuh gemuk tersenyum.


“Gimana tawaran saya kemarin dek Hetty?”


Tidak. Naik helikopter tidak menyenangkan.


Hetty menggeleng kecil dan mengatupkan kedua tangannya. ”Saya masih perlu banyak belajar, Bapak. Belum siap naik helikopter, jangankan naik lihat saja aku takut.” jelasnya dengan ekspresi ngeri.


“Takut kenapa, kan ada safety-nya dek Hetty? Helikopternya juga hanya keliling tambang untuk lihat lokasi dari atas biar kamu ini yang baru belajar banyak pengalaman di sini.” ucap si bos dengan sedikit manja-manja nyebelin.

__ADS_1


Aduh, modar aku.


Hetty yang sering mendapat beragam macam rayuan begitu tetap menggeleng keras kepala meski bibirnya tersenyum.


Si bos meliriknya sembari bicara. “Dek Hetty keberatan atau malu jalan sama bos?”


Astaghfirullah, aku ini sudah tobat malah garangannya lebih tuek dan nggak tahu diri.


“Saya sudah punya tunangan, Pak. Namanya Suga... Sugandi.” Hetty menyebut-nyebut namanya laki-laki semalam yang akan terus menjadi pahlawan pemasang gas di kostnya.


“Saya nggak bisa jalan-jalan naik helikopter kalau tidak di beri izin dia. Nanti marah, terus putus, aku nanti pusing cari orang sebaik dia.”


“Suga... Sugandi?” Bos mengernyit. “Namanya kok mirip sama karyawan baru yang masuk dua hari setelah kamu ya dek hetty.” Bos itu menekan telepon interkom.


Sugandi yang menerima panggilan dari staff pemegang telepon interkom ragu-ragu masuk ke ruangan bos gendut.


Apa yang dia bicarakan dengan bos ini...


Dan baru juga ia mengetuk pintu kaca dan mendorongnya, bos sudah memberikan satu pertanyaan istimewa yang bikin matanya melebar tak karuan.


“Kamu benar tunangannya dek Hetty? Kok saya tidak pernah melihat kalian jalan berduaan apa ngobrol-ngobrol di kantin?”


”Pacaran diam-diam bos biar enak kerjanya gitu saling menghargai.” Sugandi tersenyum polos.


“Terus kapan tunangannya? Masih baru?”


“Baru semalam bos.” Tunangan pakai karet gas di kost-kostan, batin Sugandi sambil menatap Hetty.


Plis bantu aku.


Hetty tersenyum sambil menarik perhatian Sugandi dengan menarik ujung jasnya. “Trims ya udah di jagain aku mas.”

__ADS_1


Sugandi nyaris muntah, tetapi membaca raut wajah Hetty yang melas-melas menyebalkan dia balas, ”Love you.”


...----------------...


__ADS_2