Rekah Hati

Rekah Hati
Cit-cit-cuit


__ADS_3

Hetty keluar dari kamar mandi dan tampak segar. Namun warna wajah dan sorot matanya terlihat tidak bisa menipu Sugandi, Hetty terlihat habis menangis semalaman.


Tak aneh memang, setelah kehadiran kedua ibu dan anaknya segala yang tersimpan rapi di dada mencuat tak bersisa.


”Sembunyikan kantung matamu dengan make up.” kata Sugandi sambil menyantap sambel pindang buatan Bu Sri dengan nasi hangat.


Sugandi mengenalkan baik beliau, begitu pun Bu Sri... Anggaplah tak cuma Hetty yang senang ibu sejuta anak itu datang, Sugandi juga diuntungkan karena perutnya selalu kenyang, tapi yang paling ia sukai dari datangnya ibu-ibu itu ia tidak perlu masak sendiri.


Hetty menarik kursi makan tanpa berselera. “Aku bingung, ibu sama Bama tinggal di sini apa kost.” katanya sambil menyendok nasi putih.


Sugandi yang melihat betapa aktifnya Bramasta dan ramainya bocah itu menghela napas sambil mengulurkan tangannya, ia menyendok nasi. Mengumpulkan energi untuk menghadapi bocah yang duduk di pangkuannya sekaligus ibunya.


“Di sini saja, kasian tetanggamu di kost kalau harus setiap hari mendengar anakmu cit-cit-cuit...”


Hetty mencubit pipi Bramasta yang betul-betul di rawat Kendranata dan Sanya penuh cinta, terbukti anak itu terlihat gemuk dan sehat. Aktif berceloteh dan bergerak ke sana kemari sampai Sugandi yang beberapa hari ini tidur di sofa slalu di ganggu oleh keusilannya.


“Makasih ya mas, kamu ngerti banget isi pikiranku gimana.” Tangan Hetty yang menggantung di udara melesat cepat ke pipi Sugandi.


Laki-laki itu melotot dan hampir mengeram, tetapi Bramasta membuatnya hanya menuding Hetty dengan telunjuknya yang banyak sambal.


“Saya bilang apa kemarin?” Sugandi berdehem.


Hetty bersiul sembari berlagak tidak terjadi apa-apa. Sugandi yang tidak tampan tetapi manis di lihat itu membuatnya gemas, namun usia yang tidak muda lagi membuatnya sukar menafsirkan perasaan apa yang ia miliki untuk pria itu. Sekedar nyaman saja pun tidak cukup membuatnya mengambil sikap.


“Aku cuma gemes, lihat, Bama aja yang baru kenal kamu beberapa hari langsung nyaman sama kamu. Itu pertanda, hatimu tulus.” ucap Hetty lalu cekikikan dalam hati.

__ADS_1


Tenggorokan Sugandi mendadak seperti terkena duri pindang, dia berdehem-dehem lalu menyingkirkan Bramasta dari pangkuannya sebelum berdiri mengambil air di dispenser.


Tulus-tulus begini kalau tidak dibalas sama saja, gonduk.


Hetty terus menatap gerak-gerik Sugandi sampai pria berpakaian santai itu tersandung kakinya sendiri dan berakhir membuang muka setiap Hetty bersiul memanggil namanya.


“Kalau anak sudah nyaman, tinggal ambil hati ibunya mas. Itu gampang lho.” celetuk Hetty.


Bu Sri dan Bu Ratih yang melihat keduanya seperti Tom and Jerry berkata, “Weleh-weleh.” sembari menggelengkan kepala.


“Kamu ini lho, Nduk. Ada yang nganggur dan baik hati di ganggu terus. Kasian Sugandi, mama dengar dia sudah mengajukan resign kepada nak Kendra.”


“Lhoo... beneran mas?” Hetty membuntuti Sugandi keluar rumah sambil membawa piring makannya. “Kenapa resign, aku nyusahin hidup kamu?”


Hetty melahap sambel pindangnya dan mengunyahnya perlahan-lahan.


“Aku nggak akan nyusahin kamu lagi deh mas Gandi kalau selama ini kamu terganggu karena sikapku. Tapi jangan resign, aku takut aku kenapa-kenapa kalau nggak ada kamu.”


Sugandi membuang asap rokoknya sembari membuang muka ke pintu rumah. Bramasta nimbrung sambil membawa jajanan ringan yang terpaksa membuatnya membuang rokoknya ke kolam ikan.


“Saya kenal bapaknya.” ucapnya yang langsung menghentikan aktivitas Hetty dan matanya menatap nyalang ia yang santai membuka jajanan anaknya.


“Kenapa tiba-tiba bahas dia?” Hetty mendesis jengkel, “Jadi nggak nafsu makan, jadi sebel. Sudah lama ya nggak ada yang ungkit-ungkit Pranata.” Hetty melipat kedua tangannya meski sesudah ia menjilati jarinya yang berlumur sambal.


“Pranata teman baik saya waktu SMA.”

__ADS_1


“Terus apa hubungannya sama aku sekarang?” sahut Hetty ngegas, “Kamu keberatan membina hubungan baik dengan mantan teman baikmu? Lagian aku heran sama kamu mas Sugandi, hubungan kita ini hubungan apa? Dari kemarin-kemarin kamu bilang cinta, cinta, cinta, memangnya kamu ini kenapa toh?”


“Saya cuma bilang, Hetty...” mengepalkan tangan Sugandi memukul pahanya sendiri. Gemas ia pada diri sendiri dan pada wanita yang sekalinya bicara slalu membuatnya terpojok tak berdaya.


“Saya ini manusia biasa, saya takut jatuh cinta pada anda.”


“Huahahaha...” Terpingkal-pingkal Hetty tertawa sampai rasanya nasi yang baru saja ia makan, ingin keluar kembali. “Takut jatuh cinta, apa takut aku tolak?” Hetty kembali cekakakan sampai Bramasta kabur dari teras rumah saat melihat betapa aneh ibunya saat ini.


“Dua-duanya.”


Melihat wajah penuh tekanan Sugandi, Hetty merosot dari tempat duduknya. Dia mati-matian menghentikan tawanya lalu bersandar di tembok.


“Ya kali mas aku tolak, aku saja lagi cari-cari laki-laki yang mau terima aku dan anakku. Kebetulan ada kamu yang sudah taken kontrak jaga aku dua tahun. Lumayan lho itu buat pdkt daripada dianggurin dan cari yang lain.”


Bu Sri dan Bu Ratih yang mendengarnya sambil sembunyi-sembunyi istighfar bersamaan.


”Anakmu, Yu.” bisik Bu Sri.


Ratih yang mendengarnya menutup wajah. “Hetty ini sepertinya sudah minta di gauli, Yu. Kira-kira nak Sugandi mau tidak ya menjaga Hetty dan meminangnya dengan ikhlas?”


“Yu Ratih tanyakan saja, Sugandi ini dari dulu anaknya malu-malu tapi juga pesimis.”


Ratih mengiyakan seraya menuju teras rumah. Menambah detak jantung Sugandi semakin cepat.


...---------------...

__ADS_1


__ADS_2