Rekah Hati

Rekah Hati
Berkomunikasi


__ADS_3

Memilih tinggal sementara waktu di rumah Sanya demi mengakrabkan diri dengan keluarga yang mengajarinya berserah kepada sang pencipta, Hetty yang telah menganggap mereka rumah sering melihat cara Sanya memakai jilbab ketika hendak pergi bekerja.


Ragu dia mengambil satu pashmina


di penghujung sore kala matahari sudah lelah berpijar sehabis mandi. Pashmina yang sudah berulang kali Sanya tawarkan untuk dipakai saja kalau mau tergenggam di tangannya.


Hetty terlihat gentar melawan ombak pikiran yang bergelung-gelung dengan ribut sekali di dalam sana. Rupanya terlihat gelisah, apakah benar keputusannya ikut memakai penutup kepala adalah jalan terbaiknya sebelum mencari pekerjaan.


“Kemungkinan ini bisa jadi penghalang bagi mereka yang mau melecehkan aku. Cantik dan seksi kadang berbahaya juga.”


Di depan cermin rias yang penuh dengan alat make up dan perawatan wajah Sanya serta printilan-printilan perhiasan rakyat biasa, Hetty memasang pashmina berwarna cokelat muda di kepalanya lalu menyampirkan ke belakang dan mengikatnya.


Hetty berusaha merapikan bentuk pashmina sambil sekali-kali memasukkan helaian rambutnya yang terlihat di kening.


Hetty tersenyum malu sembari menyentuh pipinya yang merona. ”Kelihatan beda, pipiku terlihat gembul.”


“Bagus, kamu lebih berkharisma.” ucap Kendranata saat mengantar Bramasta ke kamar tunangannya. Ia melihat betapa berat pertimbangan yang dilakukan Hetty sebelum memakai penutup kepala.


”Kamu harus lebih bisa menjaga diri di luar nanti.” Kendranata mendorong lembut Bramasta agar masuk ke dalam. “Itu mama, Bama.”


Bramasta yang melihat ibunya berbeda merasa aneh hendak maju tapi mundur, hendak maju tapi ia menatap heran Kendranata lalu ke ibunya.


“Ini mama, Bama. Mama Tyty.” Terpaksa Hetty menepuk-nepuk dadanya, menunjukkan sumber air kehidupan yang tertutup blouse bagi Bramasta yang sudah tidak perlu meminta ***** lagi setelah brotowali Hetty oleskan di bagian pucuknya.

__ADS_1


”Mimi...” Ngacir Bramasta mendekati ibunya.


Kendranata tersenyum sambil menggelengkan kepala. Bocah itu paham betul bagian mana dari tubuh Hetty yang terlihat menarik menurut bapaknya yang bercerita tempo hari.


”Aku mau jemput Sanya. Kalian ikut sekalian. Dia pasti senang kamu jadi lebih baik mungkin.” Kendranata menjejalkan tangannya di saku celana. ”Saya harap jauh lebih baik, termasuk attitude-mu.”


Hetty menurunkan Bramasta dari gendongannya. ”Aku perbaiki sebentar kerudungnya.”


”Bagus, saya tunggu di luar.” Kendranata memanggil Bramasta untuk mengikutinya keluar kamar.


Menghidupkan mobil, Kendranata memangku Bramasta dan membiarkannya bermain stir. Lepas setengah jam, Hetty yang meniru cara memakai jilbab Sanya membuat Kendranata mendengus.


“Plagiat kamu?” serunya setelah ia masuk ke bangku penumpang.


“Ini yang paling mudah dan paling sering aku lihat dari cara Sanya pakai jilbab. Mengertilah, pemula hanya meniru senior!” cerocosnya seraya mengatur napas.


“Sudah sebulan kamu di sini, nggak ada rencana balik rumah kamu?” tanya Kendranata sembari menyerahkan Bramasta ke ibunya.


“Pulanglah, setidaknya temui ibumu untuk pamitan dan urus rumahmu sementara waktu, biar Bramasta di sini bersamaku.”


Air muka Hetty tambah kusut. Pulang bukanlah keharusannya, tidak ada siapapun yang menyambutnya, hanya sepi dan burung kedasih yang masih berada di pohon tetangganya.


Dengan keahlian yang slalu bisa di andalkan, hetty mengerucutkan bibirnya seperti bocah yang hendak merajuk.

__ADS_1


“Gimana kalau aku kerja di Solo, Ken?”


“Tidak bisa!” Kendranata menekan klakson ketika ada motor yang menyerobotnya. “Kamu tidak akan menemukan apa-apa di sini. Pemandangan di luar Solo banyak yang bagus dan menarik.”


Hetty berusaha menahan cerocosnya keluar dan pelukan di perut Bramasta mengencang.


“Aku belum siap berpisah dengan Bramasta. Sanya juga belum resign.”


“Dia akan resign kalau kamu sudah yakin memilih melanjutkan hidupmu. Sederhananya, Bramasta akan hidup bersamaku dan Sanya di rumahku. Akan masuk di kartu keluargaku.”


Percakapan menggantung, Hetty hanya terdiam. Kendranata mengusahakan paham kenapa wanita itu membisu.


”Saya ada koneksi pekerjaan di Kalimantan sesuai bidang yang sama dengan jurusan kuliahmu. Jadi pulanglah ke Jogja sebentar, siapkan berkas-berkas pentingmu sebelum ke sini lagi sampai kamu siap melepas Bramasta.” imbuh Kendranata meski terdengar tajam mulutnya, ia tahu Hetty harus mencari kebahagiaan di luar sana ketimbang mengasuh anak yang membuatnya sedih saban hati.


Kesalahan Pranata akan ia tanggung, Bramasta akan menjadi tanggung jawabnya. Serius.


“Saya akan mengawasimu dari jauh, dan dengan siapa laki-laki yang dekat denganmu, saya akan memberimu informasi tersembunyi mereka biar kamu tidak salah kawan. Bramasta pun bisa kamu temui kapan saja. Berkomunikasilah dengan Sanya. Dia tidak akan menjadi ibu sambung yang jahat. Saya bisa menjaminnya.”


Bukan main, darah priyayi milik Indri mengalir sebenar-benarnya di dalam jiwa Kendranata. Pria itu patut di segani, dia jelas pria yang baik.


“Percayalah, sejak awal saya sudah bilang. Saya dan Pranata berbeda. Carilah masa depanmu, anakmu akan menjadi tanggung jawabku sampai mati.”


Hetty mengusap air matanya yang menetes. Meninggalkan Bramasta tak seperti di tinggal Pranata. Lebih pedih dari itu rasanya, anak itu keluar dari rahimnya, ia buat dengan cinta, namun ia besarkan dengan perih yang menghunus jantung hati. Meninggalkannya serupa membuat gumpalan beban baru di hatinya. Namun hidup harus berubah, Bramasta ada di tempat yang tepat, keluarga mantan kekasihnya.

__ADS_1


...(⁠个⁠_⁠个⁠)...


__ADS_2