
Meninggalkan Hetty setelah memastikan ia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kendranata memutuskan pulang ke Surakarta setelah berada di Banjarmasin selama seminggu.
Di siang hari yang teduh di kota kelahirannya. Dia langsung menuju rumah Sanya alih-alih ke rumah orang tua atau kantornya.
Kedatangannya tidak di sambut penghuni rumah, sepi menguasai rumah bertingkat dua yang masih menyalakan lampu teras.
Kedua wanita itu sedang berada di rumah sakit memeriksakan kesehatan Bramasta yang mengalami peningkatan suhu tubuh tiga hari terakhir.
Kendranata mengupayakan bertanya kepada beberapa orang yang bekerja di toko depan rumah Sanya.
”Kalau dari rekaman cctv toko, Mbak Sanya keluar jam delapan malam, mas.” jelas Doni sambil menunjukkan komputernya.
Kendranata mengamatinya lalu mengucapkan terima kasih seraya menuruni tiga anak tangga sebelum menyebrang jalan.
Duduk di kursi bambu di teras rumah Sanya. Dia mencoba menghubungi Sanya. Rasa bersalah menghampirinya sebab dua hari kemarin ia tidak menyempatkan diri menghubungi tunangannya.
Hetty harus menyelesaikan beberapa tugas yang perlu Kendranata ajari dan perhatikan kinerjanya sementara susah sekali wanita yang sudah lama tidak mikir pekerjaan yang mengharuskannya fokus penuh itu menerima pelajaran yang ia berikan.
“Ya ampun mas Ken-ken... kemana aja kamu?” ucap Sanya begitu menekan tombol hijau.
“Jelasin nanti saja, mas ke sini dong bawa uang.”
Kendranata mengernyit. Uang? Sudah ia kasih padahal untuk pegangan.
“Kamu di mana sekarang?”
“Rumah sakit...” Sanya memutuskan sambungan kemudian mengetik rumah sakit yang ia kunjungi.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk mencapai lokasi itu. Kendranata langsung menuju kamar inap Bramasta yang sudah diberitahu tunangannya melalui pesan singkat.
Kendranata mengetuk pintu seraya membukanya. Sanya turun dari ranjang pasien setelah mengusap keringat dari pelipis Bramasta.
“Bama kenapa?” Ekspresi Kendranata terlihat khawatir, dia melepas jaket dan mencuci tangannya sebelum mendekati Pranata cilik yang terlihat pucat dan memakai selang infus.
“Cari mama Tyty, terus susah makan. Aku kira dia mengalami fase patah hati yang nggak dia mengerti kenapa.” Sanya berwajah sedih. ”Kamu coba bujuk makan mas, sama kamu rasanya mungkin lebih mudah.”
Begitu ia duduk di tepi ranjang pasien, Kendranata memeriksa suhu tubuh Bramasta.
“Sudah turun suhunya, ini tinggal pemulihan.” kata Sanya, perasaan rapuh, takut Kendranata tidak percaya padanya merawat bocah itu.
“Apa seperti ini ada sangkut pautnya sama ibunya yang rewel, Bu?” tanya Kendranata pada Bu Sri yang memberinya air putih sekaligus memberi info jika Hetty seminggu di Banjarmasin masih gelisah meninggalkan Bramasta.
“Lumrah seperti ini, Ken. Ibu dan anak berpisah tidak semudah kalian putus dulu, toh? Tahu kamu? Ikatan batin?” Bu Sri meraih plastik berisi pakaian kotor Bramasta.
”Bajuku juga, Bu.” sahut Kendranata. “Biar aku nginap di sini.”
Sri yang sudah menganggap Kendranata anak mantu dan sering mengizinkannya meninggalkan pakaian kotornya di rumah kala menumpang mandi mengangguk.
“Sanya itu juga belum makan, kepikiran sama anak ini sama kamu. Kalian jangan lupa makan!” Sri mengingatkan seraya keluar dari kamar inap Bramasta.
Dengan posisi miring, Kendranata ikut beristirahat di ranjang pasien. Ia menatap Sanya yang pindah ke samping kiri Bramasta.
“Udah mirip keluarga kecil kita, Sya. Aku ayah, kamu bunda.” Kendranata tersenyum geli. “Mau nikah sama mas Ken-ken nggak kamu?”
”Laper kok ngajak nikah bukannya ngajak makan.” Sanya mengelus ke belakang rambut Bramasta. ”Pasti rewelnya Hetty ngerepotin kamu di sana?”
__ADS_1
“Sama seperti rewelnya Bramasta yang ngerepotin kamu.” Kendranata dengan sengaja berkata seperti itu. Meskipun biasa saja repotnya mengurus kacaunya hati ibu satu anak itu, Kendranata tidak pernah berpikir panjang.
Sanya mengepalkan tangan kirinya. Bunga cemburu langsung merekah di hatinya. Bramasta yang rewel saja susah di tenangkan walau pun sudah di tawari ini itu, coco melon pun tak menarik lagi. Bagaimana dengan Hetty? Harus apa Kendranata sampai perlu seminggu berada di sana. Merayunya, menenangkannya, membelikannya es krim atau menemaninya sambil menguatkannya.
Kendranata tahu benar betapa besar cinta Sanya yang ditanamkan padanya. Ia tahu wanita itu sedang berkata-kata di kepalanya.
“Aku tetap Kendranata yang kamu kenal, yang sama memperlakukan Hetty seperti saat ada kamu.”
“Cuek gitu walaupun perhatian?” tukas Sanya yang sebenarnya malas mengucapkannya.
“Kamu mengerti aku karena di antara yang cantik-cantik, slalu ada kamu yang menemukan dompetku di warung soto dalam hatiku.”
Mendadak Sanya kembali mengingat pertama kali bertemu dengan Kendranata di depan rumah Herlambang saat ia mengembalikan dompet Kendranata yang ia ambil dua puluh ribu untuk ganti bensin.
“Cuma kan berteman dengan janda cukup berbahaya apalagi janda yang slalu menganggap kamu jelmaan mantannya.” kata Sanya sambil menundukkan kepala.
”Makanya kita harus menikah, menikah siri dulu agar Bramasta tidak kehilangan aku dan kamu dalam suasana rumah.”
Sanya tersenyum sedih. “Kita tunggu Bama sembuh terus ke rumahmu, ya. Kita bilang bapak ibumu dulu baru kalau nggak ada restu kita menikah, kita bisa kawin lari.”
“Sanya! Bukan begitu juga kali...” Kendranata menggeleng sambil tersenyum lebar. “Aku akan memberimu pernikahan yang indah, bukan kawin lari karena sepertinya tidak enak.”
“Memang tidak enak, siapa juga yang bilang kawin lari enak mas Kendra... Sebel.” Sanya mencubit lengannya.
“Aku cari makan dulu, mas Kendra istirahat aja. Seminggu ngurus Hetty kayaknya sama capeknya ngurus Bramasta.” Sanya merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal dengan luwes sekali. ”Enak banget Ya Allah...”
Kendranata membiarkan Sanya ke kantin sementara ia yang kembali pulang dengan tanggung jawab baru dan keinginan lama. Menikahi Sanya meski sebelum itu akan terjadi sesi pembicaraan yang sulit dengan orang tuanya.
__ADS_1
...***...