
Hari pernikahan Hetty dan Sugandi pun tiba. Di akhir bulan Oktober di awal musim hujan. Tetapi hari ini cerah berawan. Tamu-tamu undangan berdatangan ke gedung serbaguna tak jauh dari kediaman Hetty di Timoho untuk mengikuti gelaran pesta pernikahan impian Hetty yang diwujudkan Sugandi. Pesta pernikahan ala putri-putri kerajaan kartun kesukaannya, Cinderella.
Gaun putih mewah yang berkilauan melekat pada diri Hetty yang cantik jelita di usia awal tiga puluhan. Sementara Sugandi, ia terlihat seperti pria perlente dengan potongan rambut rapi dan setelan pantalon hitam yang halus mewangi.
Di panggung pengantin, di bawah rangkaian bunga-bunga yang di susun rapi dan indah di pandang Hetty bergeser mendekati Sugandi yang resmi meminangnya satu jam yang lalu dalam suasana sakral penuh arti.
“Mau makan?” katanya pelan.
Sugandi mengamati wajah Hetty yang seratus persen lebih cantik dari biasanya. Wajah itu bersinar-sinar, bibirnya ranum bagai stoberi yang baru saja di petik petani. Pipinya halus, bulu matanya lentik berkedip-kedip santai. Entah kenapa mendadak detak jantungnya menjadi liar, lebih susah ia terkendali daripada saat ijab kabul tadi.
Sugandi terpana, tetapi rasa malu menggerogoti nyalinya untuk menjawab iya atau tidak. Bukan karena itu saja, resmi menjadi suami Hetty yang notabene sepak terjangnya sudah ia catat baik-baik di kepalanya. Sugandi seolah berada di rollercoaster mikro, ia terguncang oleh perasaannya sendiri dan kenyataan yang ada di depan matanya. Menjadi suami Hetty tandanya siap memberi nafkah batin dan ragawi dengan murah hati.
Sugandi diam dan canggung, sementara Hetty bisa melihat nadinya berdenyut di pangkal leher ketika suaminya yang lucu itu menelan ludah.
Hetty tersenyum simpul sembari meraih tangan Sugandi dan menggenggamnya.
“Jangan gitu deh mas, aku nggak gigit kok. Jangan takut.”
Ya, Tuhan. Mata hitam Sugandi membelalak, napasnya tak teratur. Kesunyian lantas membentang di antara mereka, di tengah resepsi yang sibuk. Pikiran-pikirannya berkicau-kicau sendiri di atas kepala.
Berani menikahi, berani menikmati. Tapi yang lebih penting, beranikah dia melakukannya.
Akhirnya dengan suara parau yang nyaris tak terdengar jelas, Sugandi berkata. “Nanti saja di kamar makannya.”
Hetty mengangguk perlahan-lahan. “Bener, janji?”
“Aku janji.” Sugandi mencoba tersenyum dan menatap Hetty dengan sepantasnya. Kenyataan itu begitu menakjubkan, sama persis dengan yang ia harapkan dalam andai-andai yang ia khayalkan. Hetty menjadi istrinya, tidak rugi waktunya, tidak sia-sia uang gajinya dan segalanya yang sudah terjadi di Banjarmasin berakhir Rahmatan Lil Alamin. Semoga.
Secercah senyum tersungging di wajah Hetty, dia akan maklum mengapa sikap Sugandi terlihat sangat kikuk, setahunya laki-laki itu hanya mempunyai dua mantan itu pun saat remaja. Kedua, karakter Sugandi tidak suka mengumbar kemesraan membuatnya penasaran permainan macam apa nanti yang akan terjadi di ranjang pengantinnya. Ketiga, inilah yang Hetty sukai, Sugandi tidak punya keberanian untuk menggodanya, yang berarti pria itu tidak akan mengkhianatinya karena mana mungkin ia tergoda dengan wanita lain.
Hetty menyentuh sisi wajah Sugandi dengan lembut. “Yah... Tapi aku lapar sekarang mas. Boleh dong di suapi istrinya.” katanya setengah manja.
__ADS_1
Ratih melirik anaknya dengan ekor mata. Nak Gandi sepertinya harus minum susu, telur bebek dan madu biar kuat menghadapi Hetty.
“Baiklah.” kata Sugandi, dia melambaikan tangan pada orang wedding organizer yang berjaga di samping panggung pengantin seraya menyebutkan keinginan Hetty.
Sugandi menatap Hetty. “Sabar, baru di ambilkan.”
“Slalu dong, nunggu mas berani cium aku untuk pertama kalinya saja aku sabar.” Hetty memajukan wajahnya seraya mengangkat mulutnya pada mulut Sugandi.
Sugandi terlihat bimbang sejenak sebelum matanya terpejam, Hetty melakukan kontak pertama. Bibirnya menyapu bibir Sugandi dan merasakan pria itu gemetar. Diam-diam Hetty tersenyum, ciuman itu adalah pengalaman yang dia nanti-nanti. Bersama Sugandi yang memiliki bibir lembut dan kenyal, pengalaman-pengalaman menarik itu akan terasa lebih nyata dan bergairah.
Hetty menarik wajahnya, meski ciuman itu tidak sempurna dan terbilang singkat. Itu sudah cukup membawanya pada sesuatu yang luar biasa. Hetty mengangkat tangannya, jemarinya mengusap bibir Sugandi.
“Milikku.”
Sugandi menunduk wajah saat sorak sorai dari tamu undangan membuatnya malu tak alang kepalang. Hetty ini benar-benar membuatnya meninggalkan dunia privatnya yang terjaga dengan baik selama ini.
Sugandi meremas jemari Hetty sembari menatapnya nanar.
“Oke.” Hetty menyunggingkan senyum, ketegangan di perutnya lenyap, akhirnya ngomong juga dia. ”Tapi apa nanti boleh di kamar?”
“Boleh saja, asal jangan membuatku terbunuh karena kelakuan nakalmu itu.”
Hetty sanggup melakukannya dengan baik, dia tersenyum lalu menggenggam tangannya seraya menciumi punggung tangannya berkali-kali. Tak peduli kemesraan mereka dilihat, digunjing, Hetty terima-terima saja asal ada Sugandi bersamanya.
“Cuma kejang-kejang mungkin, sama susah napas. Nggak sampai terpikirkan olehku membuatmu kehilangan nyawa mas. Masa iya, aku jadi janda beneran nanti.”
“Bagus.” bisik Sugandi.
Mereka melewatkan momen-momen resepsi kemudian dengan menyantap nasi rendang dan sayur krecek, es krim dengan potongan buah-buahan lalu bersalam-salaman dengan tamu undangan yang hendak pamit pulang.
Di momen-momen terakhir resepsi, barulah Kendranata dan Bramasta naik ke panggung pelaminan. Dia tersenyum hangat di hadapan Hetty dan Sugandi. Dua-duanya memiliki kontribusi dalam hidupnya, dan semuanya membawa makna tersendiri di hidupnya.
__ADS_1
Dengan cinta yang tulus di mata Kendranata, ia menatap Bramasta yang berada di gendongannya.
“Tanggung jawab saya memang tidak selesai hari ini, tapi akan jauh lebih baik Bama ikut kalian.”
Hetty dan Sugandi memandang anak laki-lakinya penuh kebanggaan. “Kami pikir kamu akan memberi waktu buat honeymoon dulu, bos. Ternyata...” Sugandi mengambil alih Bramasta dan menggendongnya.
Kendranata menyunggingkan senyum sembari mengacak-acak rambut Bramasta.
“Bisa di aturlah, jangan khawatir. Mama Tyty pinter kok atur waktu, pinter sembunyi-sembunyi juga.”
Hetty mengacungkan jempolnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Sugandi. Dia menatap Kendranata penuh rasa terima kasih. Tangannya menggenggam Bramasta. “Keluargaku sudah lengkap.”
“Selamanya.” Kendranata meninggalkan pasangan baru itu keluar gedung serbaguna. Dia menghampiri Sanya dan anak-anaknya sambil tersenyum lepas di bawah pohon peneduh.
”Kita pulang.”
Sanya melongok sekilas ke dalam gedung serbaguna lewat kaca besar di belakangnya. Keluarga kecil di panggung pengantin itu tampak serasi dan tersenyum hangat melihat mereka sembari melambaikan tangan.
“Syukurlah semua sudah bersama jodoh masing-masing.” Sanya mengalungkan tangannya di lengan Kendranata. Sementara pria itu mulai mendorong stroller baby-nya menuju parkiran.
Hetty berdiri, memutar waktu, merenungi semua yang telah terjadi dan ia mulai menerimanya dengan lapang dada.
...But it's not worth the pain....
...I'm sorry for all things that i've done....
...Rekah Hati...
...TAMAT....
...***...
__ADS_1