
Sinar matahari pukul sembilan yang kian terik memaparkan cahayanya di pepohonan yang menaungi flora dan fauna yang mendiami kebun binatang yang berada di tengah kota Jogjakarta.
Teduhnya tempat dan suara alami hewan-hewan yang bersahutan berbanding dengan apa yang Kendranata rasakan. Ia gerah dan lelah, benaknya ingin meninggalkan dua manusia di dekatnya secepat mungkin. Kendati begitu ia justru mendaratkan punggungnya di tempat duduk yang terbuat dari cor-coran semen di bawah pohon peneduh.
Punggung serta kakinya pegal, bibirnya nyaris pecah-pecah, mulutnya sepat karena sepanjang melewati kandang hewan, taman reptil dan burung ia memberi edukasi aneka nama hewan kepada bocah yang setia mengalungkan tangannya di lehernya.
Kendranata kehausan, tenggorokannya kering, lehernya nyaris tengeng. Dan wanita yang bersamanya sungguh terlalu. Hetty sibuk ngevlog, merekam situasi terkini tempat yang ia datangi untuk dijadikannya mentahan situs berbagi video. Status dan keadaan tidak mengizinkannya berjauhan dengan Bramasta membuatnya hanya berkecimpung dalam bisnis affiliate dan kegiatan pekerja seni rumahan alias sebagai YouTubers dan TikToker.
Menghela napas, Kendranata membuka kaca mata hitamnya. Selain alasan klasik untuk menghalau tatapan orang yang mengenalnya, ia meminimalisasi tatapan Hetty yang kadang meliriknya diam-diam sembari menggigit bibirnya.
Selain tidak peka, mantan Pranata hobinya main hp. Bagus... Bagaimana bisa Bramasta menjadi anak hebat jika ibunya terlalu santai.
Pujinya satir sambil memandang gajah yang menyemburkan air ke penonton tujuh meter dari tempatnya istirahat.
Kendranata membasahi bibirnya lalu melemparkan batu ke arah Hetty yang bergeming di pagar pembatas.
Kepala yang terkena batu sebesar bakso kerikil itu memutar kepalanya.
Sakit tahu. Hetty mencebikkan bibir.
Kendranata menyeringai puas dalam hati. ”Kau cari minuman dingin, Hett!”
Hett ... Hett... Hett... Sok akrab banget dia mentang-mentang anakku keponakannya!
Dengusan kasar Hetty keluarkan sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing kulit berwarna hijau telur asin.
“Aku tadi sudah tawarin dua kali beli minuman dulu kamu tolak, Nat. Warungnya sudah jauh dari kita duduk.” keluh Hetty sembari mengusap kening Bramasta yang berkeringat.
Kendranata menarik selembar tisu dari wadah yang Hetty genggaman dengan tangan kiri.
Gimana aku bisa terima tawaranmu, sayuran yang aku masak tadi masih hutang.
Kendranata mengusap kening dan lehernya yang berkeringat, sudu udara yang meningkat membuatnya memilih melepas jaket yang lalu ia sampirkan di bahunya.
__ADS_1
“Kalau kau keberatan biar saya saja yang cari sendiri.” Kendranata berdiri, menatap Hetty yang menyibukkan diri mengurus Bramasta. Jelas sekali dia tidak ingin repot-repot membelikannya minum berdasarkan alasan yang ia ketahui. Tidak punya uang.
Alangkah bahagianya Hetty sewaktu Kendranata menjawab tidak perlu. Dia terbebas dari hutang piutang di warung kebun binatang.
“Mau minum apa?” tanya Kendranata dengan suara tanpa emosi.
“Aku bawa minum dari rumah.” Hetty tersenyum lebar.
Kendranata berbalik seraya menghela napas. Langkahnya tenang walau hatinya bergejolak dan rahang mengeras, menahan kesal kelakuan mantan kembarannya.
“Keterlaluan, pantas saja dia tidak sedikitpun mengalami gejala dehidrasi.” Rokok yang berada di kantong celana jins ia keluarkan, sebentar ia mematik korek gasnya jauh dari lokasi hewan-hewan berada.
Kendranata menyandarkan tubuhnya yang penat akan situasi yang ia pertimbangan. Walau sekejap kemudian, kebingungan sirna dari wajahnya. Ia mengisap rokoknya seraya membuangnya ke saluran air. Sebatang pelepasan itu pun sirna digantikan sebuah ponsel.
”Bro... nanti ke kafe jam sembilan. Datang tepat waktu, banyak yang mau saya bicarakan.”
Voice note tak sampai lima detik itu ia kirim ke Paijo Halim. Si penyimpan rahasia dari semua pemeran utama, yang slalu bijak dan tanggap memikirkan masalah persahabatannya. Seseorang yang mampu menjadi ahli profesional curhat-curhatan.
Kendati begitu, Kendranata sanggup merekatkan dan mereka beberapa fakta yang terjadi di lapangan. Hetty ratu drama. Perempuan sarat dengan teka-teki.
Keluar dari warung, tak cuma membeli minuman dan jajanan dalam kantong kresek yang ia gantungkan di pergelangan tangan, Kendranata juga membeli pop mie dua bungkus yang ia bawa. Aromanya mengudang selera, hingga beruk yang ia lewati kandangnya mulai bertanya-tanya bau apa itu gerangan. Hei...
Dari jauh, Hetty menangkap kedatangan Kendranata yang melangkah santai tanpa sedikitpun goyah. Emosinya tertata karena siapa sangka, sejak matinya sang kembaran dengan tragis ia lebih mawas diri atas nama emosi.
Untung peka dan punya gengsi besar, coba tadi aku yang beli... Terjerat pinjol aku.
”Makan...” Hetty menghirup aroma kuah soto dari wadah yang Kendranata ulurkan. ”Ibu-ibu menyusui biasanya gampang lapar.”
Kendranata dan Hetty berpandangan. Satunya mengira ia bercanda, satunya lagi mencela agar tak usah gengsi kau besar-besar kan.
Dengan gerakan bimbang Hetty mengambil alih wadah yang terbuat dari styrofoam itu lalu menaruhnya di tempat duduk.
Hetty tersenyum canggung. “Masih panas, tapi terima kasih.”
__ADS_1
Kendranata mengangguk suka rela dan melepas kresek dari pergelangan tangannya. “Ada pisang untuk Bramasta kalau seumpama dia suka.” katanya acuh.
“Sayangnya enggak.” Hetty menggeleng kecil. “Maaf... Bramasta suka buah-buahan yang mengandung banyak air.”
“Contohnya?” tanya Kendranata basa-basi untuk membuat suasana tidak kaku.
”Pepaya, melon, semangka.” Buah-buahan yang murah meriah, tak perlu kiloan, beli dua iris tipis pun bisa, ramah di kantong pula. Hetty tersenyum. “Pranata pinter, kok kamu gitu aja nggak tahu?”
Kendranata tersedak mi yang baru saja masuk ke tenggorokannya. Ia melirik Hetty tajam dan mendengus pelan.
”Sudah saya bilang, kamu kenal Pranata tapi tidak dengan saya.” ulangnya, mengingatkan.
”Yang membedakan hanya sifat kalian. Aku percaya kalian sama, sama-sama pinter dan...”
Batal mengunyah mi, Kendranata memilih meneguk kuahnya yang hangat dan ia beri tambahan satu cabe rawit. Pedas membakar tenggorokannya.
“Dan apa?” Kendranata menatap sinis Hetty yang membasahi bibirnya seraya tersenyum geli. Ia mencondongkan sedikit badannya ke samping kanan sambil menekan-nekan apakah Kendranata akan terpancing emosi atau tidak..
“Brengseknya.” ucap Hetty sambil menutup telinga Bramasta.
Kendranata tersenyum sinis, tak harus menjawab. Ia melanjutkan makan siangnya yang lebih gasik sebelum menunjuk dadanya.
”Aku brengsek?”
Punya mantan saja baru satu, apanya yang brengsek?
Malas, ia pindah ke dekat lapangan pertunjukkan gajah. Kendranata menyantap mi-nya sampai tak tersisa kuah-kuahnya sebelum menggendong Bramasta.
”Saya tidak brengsek, sekali pun saya mau pasti bukan dengan kamu.”
Hetty menyeringai seolah mendapat candaan paling telak, ia menatap punggung Kendranata yang menjauh. ”Bakal tambah masalah kalau sampai mau aku, tapi kalau jodoh aku pasti mau.”
...🤣...
__ADS_1