Rekah Hati

Rekah Hati
Jackpot


__ADS_3

Di depan wastafel dan cermin panjang yang sanggup memantulkan seluruh refleksi diri, Kendranata menahan napas sebelum membasuh wajah.


Semenjak Pranata pergi entah ke surga atau neraka, Kendranata yang kembali ke Surakarta tepat ketika pengumuman duka menghampirinya di tengah hiruk pikuk keramaian tambang, baru kali ini dia menemukan satu keresahan yang mengusik benak begitu dahsyat.


“Si Hetty ini memang harus ketemu pria idaman lain yang tampan dan mengisi hari-harinya yang sendiri dan kesepian. Tapi siapa yang harus aku tumbalkan untuk mengurangi imajinasinya padaku.” Mencengkram tepian wastafel, Kendranata menunduk.


“Jelas dia jarang di belai dan butuh perhatian. Jadi laki-laki ini harus pengangguran dan single, lumayan nakal dan berani. Tapi siapa?” Memijat kening, Kendranata tampak pusing bahkan keinginan untuk bergabung dengan Sanya dan Hetty di wahana permainan anak surut.


Dia memikirkan banyak persoalan. Memupuskan harapan Hetty yang meninggi, meminta restu ibunya untuk menikahi Sanya, membawa Bramasta ke kehidupan rumah tangganya dan laki-laki yang bersedia memberikan fase baru untuk Hetty.


Andai dulu kamu tidak pergi secepat itu dalam kondisi yang setragis itu Pra dan ibu tidak membuat kita berkompetisi. Aku yakin Hetty dan Bramasta masih jadi tanggung jawabmu dan hanya Rastanty yang kehilanganmu. Tugasku banyak sekali, Pra.


Sekarang mana dulu yang harus aku selesaikan?


Ponselnya yang berada di saku bergetar. Sanya menelponnya di depan pagar kereta mini yang sedang dinaiki Hetty dan anaknya.


“Mas di mana sekarang?” tanya Sanya cemas. Tapi dari situasi yang terpampang di layar ponselnya, Kendranata masih di toilet. ”Kenapa mas? Sakit perut gara-gara makan sotong cabe hijau yang pedes banget tadi?” lanjut Sanya dengan suara rendah.


“Mulutmu itu lho.” Kendranata berdecak. “Kasian dia kalau dengar.” Ia mengingatkan.


Sanya memanyunkan bibir. Dari kasian terus perhatian nanti ngelunjak jadi sayang-sayangan. Gak belajar dari pengalaman.


“Lupakan!” ucap Sanya. ”Mas kenapa kok lama di toilet?”


“Pusing.” Kendranata menjawab sekenanya, namun bagi Sanya yang mendengar kata pusing sontak sadar, calon suaminya sedang memikirkan Hetty dan Bramasta.


“Kita bicara besok waktu di Surakarta!” pungkas Sanya sebal. “Sekarang ke sini, buruan, terus beli cincin. Mas bawa uang lebih kan?”


Kendranata menjulurkan setengah lidahnya. “Mulai menuntut keseriusan ini, kemarin-kemarin biasa aja tuh. Gengsi malah.”


“Aku gengsi untuk menjaga hatiku, sekarang aku menuntut juga untuk menjaga hatiku mas. Ngerti kan kenapa? Kamu penuh siasat.”


Kendranata mematikan sambungan teleponnya setelah Sanya mendelik. Dia kembali membasuh wajah sebelum mengeringkannya dengan tisu.


Berhenti di pagar pembatas, Kendranata mengamati pertokoan yang berada di lantai bawah. Melihat ada toko emas, tanpa mengabari Sanya Kendranata tersenyum dan menuju tempat itu.


Matanya melihat-lihat bagaimana benda-benda kesukaan kaum wanita dan ibunya itu terpampang indah dan cemerlang di dalam etalase.


Kendranata tersenyum sambil menyebutkan cincin pertunangan yang sederhana namun terlihat elegan kepada pegawainya.


Dengan debit card, ia membayar sebelum memasukkan benda yang terbungkus kotak perhiasan itu ke dalam saku celana.


Kendranata menuju wahana permainan anak yang berada di lantai atas. Riuhnya tempat tersebut yang di penuhi suara dan kegiatan bermain-main mengharuskannya mencari Sanya dan Hetty lebih teliti.


”Mas.” Sanya melambai-lambai dengan cepat ketika mendapati pria itu celingukan. “Ya Allah, lama banget...” keluhnya sembari menyahut botol minuman rasa-rasa dari tangan Kendranata.

__ADS_1


Sanya meringis, jangan sampai Kendranata menyerahkan sendiri minuman untuk Hetty.


“Minum dulu kak, nih mas Kendra sudah datang. Sudah bisa gantian momong Bramasta.”


Hetty yang masih menemani Bramasta bermain pukul memukul hewan yang nongol dari satu lubang ke lubang lain menoleh. Dia menatap Kendranata yang sudah terlihat keberatan.


“Akhirnya, Ken. Gantian-gantian, aku pegel banget.” Hetty menerima botol minuman rasa-rasa seraya pindah dari belakang Bramasta. Sekilas tatapan menuju wajah rupawan Kendranata yang setengah kusut dan bahagia.


Sanya pun menerima botol minuman rasa-rasa yang tutupnya sudah di buka Kendranata sebelum lelaki itu menemani Bramasta bermain.


“Semangat mas...” Sanya menyemangati Kendranata bermain sebelum terkikik karena alat pukul berbahan lunak yang di ayunkan Bramasta justru mendaratkan di wajah Kendranata yang sejajar dengan muka Bramasta.


“Dapat jackpot...” Berhihihi, Sanya melihat wajah Kendranata yang merah sedikit. “Gak masalah, ini terlalu sepele karena kamu adalah laki-laki hebat yang aku kenal.”


Hetty mengangguk setuju, Kendranata adalah laki-laki hebat yang jujur, kebapak-bapakan dan bertanggung jawab. Sayangnya...


Kira-kira apa pekerjaan Sanya, terus dari kalangan apa dia? Bu Indri pasti sangat-sangat menyayangi Sanya dan lupa sama aku apalagi cucunya. Coba kalau Pranata masih ada, nggak begini banget hidupku.


“Lapar.” keluh Kendranata setelah berkeliling, menerima kemauan Bramasta untuk menaiki bus London, kereta mini, dan melempar bola basket ke dalam keranjang.


“Makan dulu sebelum jalan lagi.” Kendranata menurunkan Bramasta ke lantai dan menggandengnya. ”Brama kau berikan air putih dulu, Hett.”


“Sekalian di tempat makan saja.”


Posesif juga mas Kendranata.


Sanya melihat Hetty berjongkok seraya memberikan air putih yang ia bawa di dalam tas dan ketika Hetty mendongak ia terkejut pada tonjolan yang berada di saku celana Kendranata.


Kendranata yang melihat aksi konyol Hetty yang sampai terjengkang mengulum senyum sembari membuang tatapannya.


“Apaan tuh yang ada kantong celanamu mas?” Sanya mendesis jengkel. “Mas Kendra jorok, ih males jalan sama mas kayak gitu.”


“Pikiranmu yang jorok, Sanya.” Kendranata mendengus. “Ini...” Ia menyentuh tonjolan di kantong celananya. “Spesial buat kamu.”


Hetty menggeleng. Mengusir pikiran kotor yang mampir di benaknya, tapi ia kesulitan menyembunyikan wajah geli dan meronanya kulit pipi.


”Nanti kamu bakal tahu, Sya.” Mengejar Sanya yang dilanda cemburu dan rasa jijik, Hetty ditinggal oleh Kendranata yang kembali menggendong Bramasta.


“Ribut tuh mereka berdua. Lagian kaget ih, bukan salahku, tadi nggak ada tahu-tahu ada tonjolan gitu.” Hetty berdiri, meninggalkan wahana permainan anak-anak yang akan dia kenang sebagai tempat bermain paling seru.


Menaiki eskalator, Kendranata yang berdiri di belakang Sanya tersenyum geli.


“Ini nggak seperti yang kamu pikir, Sanya. Punyaku sembunyi dan tidak bereaksi apapun.”


Mendengar itu Sanya menutup telinganya dengan kedua tangan sebelum melompat ke lantai sebelum eskalator benar-benar mengantarnya ke bibir keramik.

__ADS_1


Kendranata menggeleng lembut seraya mempercepat langkahnya menyusup Sanya yang hendak memasuki toilet.


”Dengar dulu.” pintanya manis. ”Ini kotak cincin pertunangan kita, aku beli tadi sebelum nyusul kamu ke atas. Aku serius.”


Sanya yang melihat kondisi sepi menyentuh kotak itu dengan ujung jemarinya.


“Keras dan mengeluarkan bunyi tok-tok-tok waktu aku ketuk.”


Kendranata tersenyum sewaktu Sanya terlihat malu dan menundukkan kepala.


“Sudah percaya sekarang? Apa masih mau bilang aku tertarik dengan Hetty?” Kendranata menggeleng. ”Aku cuma nunggu kamu baby peach. Aku milikmu.”


“Mentang-mentang aku cilik, terus di sama-sama sama baby.” Sanya mendengus. “Aku seumuran ibu bocah ini mas.”


Hetty yang mendengar pembicaraan mereka tanpa menunjukkan batang hidungnya tak kalah sebalnya dengan Sanya.


Kendranata menjelaskan bahwa ia benar-benar tidak tertarik dengan Hetty, semua yang dilakukan hanya sebatas memberi tanggung jawab finansial agar apa yang terjadi pada Hetty dan Pranata tidak benar-benar mencoreng nama keluarganya.


”Aku percaya mas Kendra beda sama mas Pranata dan aku bukan kak Rastanty yang gampang percaya. Paham?” Sanya menandaskan.


Kendranata mengiyakan. “Gak jadi ke kamar mandi?” tanyanya manis.


“Gak jadi dong, gak jadi nangis kok.” Meringis Sanya mencubit pipi Bramasta. ”Cari papa yang lain ya, yang bisa bobok sama Bama dan mama setiap hari. Karena ini cuma pakdhe, bukan papa. Ini pakdhe Kendra.”


Mana ngerti Bramasta.


Hetty yang merasa anaknya mulai dimanipulasi melangkah dengan terburu-buru dan wajah panik.


“Akhirnya ketemu. Cepat banget kamu jalannya, Ken.” Sanya dan Kendranata menatap Hetty yang meringis lebar sembari mengambil alih Bramasta.


Aku harus gencar meracuni pikiran Brama kalau Kendranata bapaknya


Lega Bramasta tidak menempel padanya.


Kendranata tersenyum sembari merogoh kantong celananya. Mengeluarkan kotak cincin pertunangannya dengan Sanya.


”Sya, mau lihat isinya?” tanyanya lembut sambil membuka-tutup kotak cincinnya hingga membuat Sanya bergidik sebal.


“Mau tapi pakai cincinnya harus di stasiun mas.” rengek Sanya dengan manja.


“Kenapa harus di stasiun?”


“Tempat datang dan pergi sebuah pertemuan dan perpisahan. Terus... Karena nanti malam aku pulangnya pakai KRL nggak kamu antar. Jadi biar romantis dan ada kenangan di Jogja, kita tunangan di stasiun.”


Astaga... Sanya...

__ADS_1


__ADS_2