Rekah Hati

Rekah Hati
Pedih


__ADS_3

“Tunggu di sini.” Kendranata mengingatkan sambil menuding kening Hetty yang tertutup poni. Dan sebelum masuk ke rumah dia mewanti-wantinya agar menuruti kesepakatan-kesepakatan yang dia katakan selama perjalanan dari Yogyakarta ke Surakarta.


Di hadapan rumah dengan arsitektur Jawa modern yang seolah diam-diam menghakiminya secara terus menerus. Hetty yang di landa kegugupan yang begitu besar hanya mematung di hari yang sudah menuju siang.


Kendranata mengumpulkan pembantu rumah tangga orang tuanya di dapur sebelum menemui ibunya. Tampak beberapa ekspresi terlihat cemas dan takut.


“Di luar ada mantan Pranata dan anaknya, mereka berdua akan tinggal beberapa hari di sini... Mbok Asih tolong awasi mereka, untuk suster biarkan ibu sementara waktu tidak perlu minum obat penenang—”


”Tapi mas, itu akan membahayakan kesehatan ibu.” sergah suster Rani. “Saya kurang setuju, ibu bisa terkena hipertensi jika depresinya dibiarkan mas!” Rani yang berseragam putih dengan garis merah muda di pinggir celananya menggeleng.


“Rani.” ucap Kendranata lembut. Sontak Rani yang biasa melihat Kendranata dalam keadaan lemah, tampan, bijaksana dan koloran menundukkan kepala. Pipinya bersemu merah, suara itu sopan sekali memanggil namanya.


Kendranata menghela napas, Rani adalah suster yang merawat ibunya paling muda dan penyabar. Paling mudah diajak berkompromi dan paling bisa di rayu jika ia harus pergi keluar kota dan memintanya lembur.


“Aku sedang dalam perjalanan yang susah, Rani. Hari ini saja agar Hetty tahu tak cuma dia yang susah setelah Pranata tiada, tapi kita.”


Kita?


Rani memasang wajah berpikir serius. Tak main-main pikirannya berkelana tentang kita dan harapan-harapan yang bekerja cepat dalam mimpi khayalan.


Kendranata mendengus, misinya yang harus berhasil membuatnya mencubit kecil lengannya sengaja.


“Jawab, Rani?” desaknya serius.


Rani memegang perutnya alih-alih dadanya yang berdebar-debar. Padahal yang ia hadapi bukan persoalan cinta-cintaan, melainkan seorang ibu yang terbaring ngantuk di kamar dengan kesehatan mental yang tak karu-karuan.

__ADS_1


Rani tersenyum kecil sebelum mengangguk sama ragunya dengan senyuman itu.


“Risiko bukan aku yang tanggung ya mas kalau ada apa-apa dengan ibu, aku murni cuma menuruti perintah mas Kendra.” Rani menegaskan, lalu menatap saksi hidup yang ada di sana. Mbok Asih, Mbok Tumi, Mas Suwarno dan kucing peliharaan Kendranata yang bermalas-malasan di meja.


“Mereka saksinya.” Tatapan Rani terangkat, menatap Kendranata yang tanpa ragu masih menunggu jawabannya dengan sabar.


”Aku tidak akan menyalahkan kamu, Rani. Tenanglah.” Memberi senyum andalannya, Kendranata seketika membuat Rani terbungkam dan sepakat.


”Ajak ibu keluar, aku telepon ayah sebentar.” Kendranata mengalihkan tatapannya pada Mbok Asih, “Buatkan minum, Mbok.”


Asih yang mengabdi jauh sebelum bencana menghampiri keluarga Pamungkas itu mengangguk seraya keluar rumah, lewat halaman samping, dia mengambil motor dan melihat Kendranata berbincang-bincang dengan seorang wanita yang ia kenali baik sebagai calon istri Pranata.


“Masih cantik dan... Bu Indri pasti kaget cucunya mirip sekali dengan mas Pranata.” Asih ngelus dada seraya menggeber motornya keluar rumah.


Melihat kesibukan yang mendadak terjadi di rumah itu, Hetty mendadak semakin cemas terlebih ketika pintu terbuka. Dia menahan lengan Kendranata.


Kendranata bukannya tidak tahu menahu soal keresahan Hetty, ia bahkan dapat melihat dan merasakan bagaimana perasaannya sekarang yang tak kunjung menemukan titik tenang. Tetapi sudah di ujung keputusannya, hari ini akan terwujudkan.


Rani membuka pintu ukiran kayu seraya melebarkannya. Detak jantungnya sebelas dua belas dengan jantung Hetty. Peristiwa hari ini sangatlah menegangkan, tak tahu harus berkata apa. Membisu Rani ketika ditanya Indri ada apa.


Dari jarak sepuluh meter, sama-sama pernah terlibat dalam kemesraan calon menantu dan mertua, Hetty, dan Bu Indri semakin memupus jarak di teras rumah.


Kendranata berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Bramasta yang ia gandeng sejak tadi.


“Itu eyang Putri, nenek Bama dari Solo.”

__ADS_1


Indri yang telah sampai di teras rumah menarik napas saat menatap bocah cilik yang mirip dengan satu-satunya anaknya sekarang.


Kendranata tersenyum sambil mendorong bahu Bramasta pelan agar mendekati Indri yang tampak tak bersahabat, suasana mencekam serupa pemakaman yang gersang dan sepi.


”Cucu ibu dari anak yang slalu ibu banggakan. Terimalah kehadirannya sebagai penerus Pranata.” ucap Kendranata satir.


Semakin tersekat napas Indri, ia sampai menepis tangan mungil Bramasta yang hendak menyentuh lonceng mungil emas gelangnya.


Hetty sakit hati melihat penolakan itu, tapi seperti yang sudah ia sepakati dia hanya perlu diam saja apa pun yang terjadi.


Kendranata menggeleng. “Bukan begitu sikap yang harus ibu lakukan.” Bukannya menyingkirkan Bramasta dari hadapan ibunya, Kendranata malah mengangkat tubuh mungil Bramasta dan menaruhnya di pangkuan ibunya.


“Jangan sampai kaki ibu yang sudah mati rasa menyebar ke hati ibu.” Kendranata menarik tangan ibunya yang menjauh agar memeluk Bramasta. “Terima dia atau ibu akan kehilanganku.”


Semua orang yang mendengarnya melebarkan mata, Indri apalagi. Ia terlihat marah, sedih, dan tertekan. Tapi seolah tahu Kendranata tidak bercanda, mulutnya terbungkam erat.


Hetty menggeleng, ia mengerti keadaannya tidak mudah. Namun ia tidak menginginkan ucapan Kendranata terjadi.


Hetty menyentuh bahu ke Kendranata.


“Jangan begitu.” katanya lembut.


“Aku mengancam ibuku bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri.” Kendranata berdiri seraya menghela napas.


“Masuk ke kamar Pranata.” Kendranata menunjuk Mbok Tumi, ”Ikuti Mbok Tumi.”

__ADS_1


Sementara sama seperti Indri yang mematung dalam ketegangan yang pelik, Rani terengah-engah dan bingung harus berbuat apa. Dia hanya mencengkram pegangan kursi roda sambil menyaksikan Kendranata memalingkan matanya yang berkaca-kaca. Sedih.


__ADS_2