Rekah Hati

Rekah Hati
Akad


__ADS_3

Lima belas menit berlalu, kalimat Kendranata membungkam mulut Sanya, membuatnya gelisah.


Perbincangan serius mereka di taman terhalang oleh pertanyaan ini, “Kita bisa nikah tapi kita tinggal di rumah ibu, Sya. Kamu gimana setuju apa tidak?”


Bibir Sanya mencebik, entah harus merasa senang atau tidak. Kabar itu bagaikan berita yang sulit ia tentukan pilihan.


“Kalau aku tinggal di rumahmu, ibuku yang kasian mas. Rumahmu hangat, rumahku sepi.”


Kendranata tersenyum tipis. “Dari Jumat malam sampai Minggu malam kita di rumahmu, selebihnya di rumah ibu, atau di rumahku. Aku pikir ini hanya awal untuk meluluhkan hati ibu, Sya. Hanya awalnya saja kita mengurangi ego kita yang cuma mau berdua.” ucapnya terdengar riang dan bahagia.


Menyebalkan, batin Sanya. Senyum Kendranata terlihat nakal dan ia paham tanpa perlu kata-kata Sanya berada di frekuensi yang sama dengannya.


“Ada Bama, nggak mungkin kita berdua aja.” sanggahnya sambil mengalihkan perhatian ke bianglala yang sedang berputar.


“Itu juga bisa aku atur asal kamu mau, iya?” Kendranata melebarkan senyumnya melihat Sanya menggeser posisi, menjauhinya meski sedang memangku Bramasta.


“Aku pikir kamu mau, Sya. Cuma malu saja. Betul?”


“Emang mas Ken-ken nggak kenal Sanya gimana? Mas Ken-ken mendadak lupa Sanya itu gimana?”


Ada perasaan yang tidak perlu Kendranata jelaskan saat menghadapi tingkah malu dan sentimental Sanya. Ia hanya menggeleng lalu mencoba mengalihkan tatapannya ke bianglala sambil tersenyum.


“Jadi kita nikah, ya?” tanyanya memastikan dan sentuhan telapak tangannya di punggung Sanya membuatnya berdiri.


“Jadi kok, cuma sekarang antar aku pulang dulu mas. Aku harus jauh-jauh dari kamu.”


“Sebulan lagi?” Kendranata berdiri, mengikuti Sanya berjalan di atas trotoar.

__ADS_1


“Sebulan lagi?” Sanya mendesis, “Kelamaan mas, dua Minggu lagi lah. Jangan lama-lama. Aku lho juga mau ngerasain tidur di peluk kamu!”


Kendranata berhenti melangkah dan mengigit bibir bawahnya dengan senyum yang merekah sempurna. Ia tidak menyangka, nyatanya, Sanya justru menawarkan diri dengan sukarela menikah dengannya dua Minggu lagi.


...***...


Rumah Herlambang jauh lebih ramai dari kunjungan kesehatan, keluarga, dan bisnis dua Minggu yang lalu. Penuh rasa syukur, pesta pernikahan putra satu-satunya trah Pamungkas di gelar Minggu pagi dengan perayaan klasik yang di sepakati kedua belah pihak.


Sang pengantin yang siap melangsungkan akad hari ini menuju pergola pengantin yang di hiasi bunga-bunga segar. Kendranata yang gagah dan Sanya yang begitu anggun berjalan bersisian dengan langkah anggun.


Jantung keduanya berdegup kuat sekarang terlebih ketika keduanya sudah duduk di kursi akad di hadapan bapak penghulu, Herlambang dan adik Bu Sri, Pak Aris.


Serius Kendranata melempar senyum untuk Sanya yang langsung menundukkan kepala. Malu ia terlihat dari pipinya yang merona.


Kendranata mengulurkan tangannya, baiklah... Segera saja proses akad yang di awali dengan sambutan penghulu dan beberapa doa terlaksana.


Kendranata lantas mengucapkan ijab kabul sekali jadi dengan lancar dan sukses besar di jam delapan lebih sepuluh menit.


“Ken... Ken...” seru Indri memperingatkan dari tenda keluarga sambil melambaikan tangannya. “Belum waktunya, heh.”


“Sudah ngebet lama itu, Bu.” terang Rani di belakangnya.


“Malu.” Indri mendesis. “Nanti saja lho acaranya baru di mulai.”


Kendranata dan Sanya meringis seraya menyelesaikan urusannya dengan pak penghulu.


Mbok Tumi keluar, membawa Bramasta yang langsung berjalan tertatih ke pergola pengantin.

__ADS_1


“Papa, Bun...da... Me... ni.. kah.” ucapnya terbata-bata.


Kendranata tersenyum seraya menggendongnya. Selagi hangat acara yang di penuhi sanak keluarga dan tamu undangan lainnya ia mengenalkan bocah yang berada di gendongannya sebagai anak pertamanya. Diakuinya juga dengan percaya diri dan keteguhan hati yang lapang bahwa Bramasta adalah anaknya bersama Sanya dari pernikahan siri yang sudah lama ia sembunyikan.


Indri terpukul diam-diam di kursi rodanya. Air matanya menghangat, ia membiru di tengah sakralnya satu-satunya pernikahan yang akan di gelar di rumah itu. Sulung yang slalu menjaga jarak dengannya dan tidak pernah membangkang darinya menutup aib kembarannya dengan sengaja. Membuat semuanya menjadi paham adanya kenapa pria itu masih sendiri dan menolak wanita-wanita yang mendekatinya.


Meski dusta yang diumbar Kendranata terdengar tidak sederhana, Sanya terlihat santai dan tenang apalagi Bu Sri. Mereka malah tersenyum sebab ia sudah fasih memikul rasa kecewa dan menyenangkan diri dengan cara takdir mengajarkan ilmu ikhlasnya.


Sanya menyandarkan kepalanya di lengan Kendranata, bahasa tubuh wanita yang sudah halal bermesraan dengan suaminya itu membuat Kendranata bebas berfantasi.


Ia menoleh, mempertemukan netra mereka yang terpancar penuh rasa syukur. Dalam, keduanya bertatapan. Bukannya terlihat mesra, kegelisahan malam pertama yang akan menjadi pengalaman pertama keduanya meruak.


Tidak tahan, keduanya meringis seraya menghindar. Menatap ke mana saja yang bisa mereka tatap dengan ekspresi malu-malu kucing diikuti helaan napas lega.


“Cie... uhuk.” Rani menaik-turunkan alisnya setelah mengantar Bu Indri ke dekat mereka.


“Romam-romannya ya, Bu. Ada yang sudah pingin bikin cucu lagi buat ibu ini.”


“Heh, ngomong apa kamu, Rani! Ndak sopan mendahului ibu.” Indri mengomel, lalu terdiam beberapa jenak seraya mendongak menatap pengantin yang mulai kelaparan.


“Malam pertama di rumah saja kalian, pamali keluar rumah setelah nikah. Nunggu sepasaran.”


Kendranata dan Sanya tersenyum tipis, lalu mengangguk.


“Tapi Kendranata titip Bama semalam ya, Bu. Takut ganggu.”


Indri menunjuk Rani, Mbok Tumi, dan Bu Sri. “Pilih saja yang bisa kamu percaya, ibu ndak bisa.”

__ADS_1


“Sama Rani saja, Bu. Terus nanti bobok bertiga di kamar ibu. Setuju?”


Praktis, senyum Indri mengembang.


__ADS_2