
“Mungkin ini sudah waktunya, Rani” Kendranata mencengkram tepi meja makan setelah meninggalkan Indri dan Hetty yang membisu sambil menatap Bramasta yang bertingkah malu tapi mau di ruang keluarga.
“Jadi... sebenarnya masalahnya apa mas? Rani merasa perlu tahu biar mudah membujuk ibu nanti...”
Kendranata menoleh, melihat Rani tersenyum ragu kepadanya. Suster baru lulusan sarjana psikologi itu ia bayar bukan hanya merawat jiwa dan raga ibunya namun sekaligus menjadi teman ibunya yang kesepian.
“Dari kecil ibu menjadikanku dan Pranata kompetitor, kami bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam banyak hal. Saya suka bisnis seperti Bapak, Pranata menjadi aktivis seperti Ibu. Termasuk dalam mencari pasangan kami harus memilih kualitas terbaik.” Kendranata menunjuk ruang keluarga dengan dagunya.
”Hetty itu pacar simpanan Pranata yang di kenalkan ibu dulu untuk mengalahkanku karena pacarku hanya SPG, sementara di Jogja Pranata juga punya pacar bernama Rastanty, wanita yang Pranata sayang—”
Rani mengangkat tangan, menjeda kalimat Kendranata.
”Jadi mas Pranata itu selingkuh?”
Kendranata bersedekap, kalimatnya sudah jelas ia selingkuh. Kenapa pula mata Rani membelalak. Aneh.
“Alasan kenapa ibu tidak pernah berkunjung ke Jogja karena Pranata memilih dimakamkan di dekat kedua wanita itu... Ibu kecewa, ibu lalu tidak menerima Hetty dan Bramasta karena mereka melanggar norma hukum, sementara ibu tidak setuju dengan Rastanty karena ekonominya rendah. Pranata meninggal sebagai korban pembacokan.”
Rani mengangguk-angguk, mencatat persoalan yang membebani pikiran pasiennya di kepala.
“Coba nanti aku bantu beri pemahaman ke ibu, mas.” Janji Rani tulus. Kendranata yang memiliki frekuensi yang sama dengan Rani mengangguk-anggukkan kepala. Meski sebagian hatinya takut, binar tulus yang terpancar dari sorot matanya terlihat seperti pengharapan sesuatu. Sesuatu yang menyangkut perasaan. Maklum saja Kendranata sendiri sadar ia memiliki daya pikat ampuh menarik lawan jenisnya hanya lewat tatapan.
“Nanti aku beri tambahan gaji kalau kamu berhasil bujuk ibu.” balas Kendranata lembut. “Titip ibu, ya. Aku masih punya banyak tanggung jawab lain.”
Bersamaan dengan Rani yang mengangguk setuju dengan hati yang terbuka untuk jalan kebaikan, Hetty bergabung.
__ADS_1
Kendranata memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Kenapa?” tanyanya dengan sikap tak acuh.
Aneh, pikir Rani. Tadi dia begitu hangat padanya sekarang... paham, ia pamit ke depan untuk menjenguk Bu Indri yang diserang panik sewaktu Bramasta hendak meraih pajangan kristal berbentuk onta.
“Ran... Rani, itu jauhkan..." seru Indri, sontak membuat gadis itu terpogoh-pogoh, menjangkau pajangan kristal berbentuk onta di meja kaca yang setiap sisinya di lapisi kuningan.
Rani memberikan kristal onta itu setelah berjongkok. ”Anak ini tahu ibu, yang berkilauan menarik perhatian.” ucapnya lembut sambil tersenyum. Meski niat hatinya adalah memulai misinya mengajak Indri berdiskusi.
Rani lalu mengajak Bramasta duduk di karpet, mengajaknya bermain, berceloteh ringan tentang onta dan gurun. Lalu setelah ragu-ragunya reda. Rani menyentuh kepala Bramasta lembut.
“Mirip seperti mas Pranata, ya, ibu?” tanya Rani.
Mata Indri bertemu pada foto masa kecil Pranata yang memakai baju kodok sambil membawa bola, senyumnya mengembang saat kamera Kodak yang dia bawa membidiknya.
Indri tak menjawab, ia menggerakkan kursi rodanya mendekati lemari yang memiliki enam laci di bagian bawahnya.
Rani yang melihatnya menyuruh bocah yang asyik mengulik detail kristal warna-warni itu mendekat. Bramasta menurut, menubruk lutut Indri yang sedang dipenuhi pertimbangan-pertimbangan di benak yang terlihat di sorot matanya. Menyiksa Rani yang ingin mencecar banyak kosakata-kosakata bagus untuknya.
“Mirip ya, ibu?” Rani bertanya.
Indri merekam wajah Bramasta yang menepuk-nepuk foto Pranata dewasa.
“Pa... pa...”
Indri tercengang lalu berdehem menatap Rani.
__ADS_1
“Wajahnya mirip.” Hanya sepotong kata itu yang Indri ucapkan. Tubuhnya kembali mematung, cuma matanya yang bergerak ke sana kemari mengikuti gerak aktif Bramasta yang penasaran dengan benda-benda antik dan klasik yang dimiliki keluarganya.
Sementara di ruang makan, Kendranata menyuruh Hetty untuk bersikap sewajarnya.
“Aku bisa sewajarnya, tapi ibu gimana? Kondisi nggak seperti dulu.” rengek Hetty, matanya berair, nyaris menangis karena tidak ada pegangan yang bisa menerima sandaran keluh kesahnya dengan legowo di rumah yang pernah ia harapkan menjadi tempatnya menetap dan hidup bahagia.
Kendranata tersenyum simpul seraya menuangkan air putih. Menjulurkan tangan untuk Hetty minum.
“Ini belum seberapa. Masih ada rapat keluarga, nunggu bapak pulang dari luar kota.”
Hetty seketika tersedak meski suara Kendranata terdengar lembut dan nyaris datar sekali.
“Rapat keluarga mengenai apa, Ken?” tanyanya setelah menyeka bibir dengan tisu. ”Soal aku, Bramasta?”
“Betul, pintar sekali mantan adikku ini.” puji Kendranata yang tidak lucu sama sekali bagi Hetty sebab baginya itu sangat meresahkan.
Rapat keluarga \= urusan penting.
Hetty kerap merasakan bagaimana sensasi rapat keluarga, jantung berdetak, duduk tak nyaman terlebih sekarang di rumah orang yang dulu pernah bermasalah dengan keluarganya di pengadilan. Hebat sekali rasanya hari ini.
Hetty menarik napas dalam-dalam seraya membuangnya dengan kasar. “Aku nggak sepenuhnya tahu solusi apa yang akan kamu berikan, Ken. Tapi sumpah, aku nggak bisa menghadapi situasi ini sendirian. Dadaku sakit.”
“Masuk aja ke kamar Pranata, biar suster Rani yang menjaga Bama.” Kendranata masuk ke kamar mandi, menyudahi pembicaraan dengan Hetty yang semakin lama sanggup membuatnya berubah pikiran.
“Satu persatu suara hatiku harus aku wujudkan.” Kendranata menghidupkan kran air seraya menghubungi lewat telepon sebelum mengirim pesan ke ayahnya yang cuma berada di swalayan milik mereka tak jauh dari rumah.
__ADS_1
“Bapak pulang sekarang, ada hal penting yang harus Kendra bicarakan secepatnya. Aku pusing.”
♡