Rekah Hati

Rekah Hati
Sehati Kecutnya


__ADS_3

Jogja City Mall.


Waktu seolah tak peduli pada pelik yang mendera Hetty hari ini. Sudah lemas tertimpa realita, kini tergambar nyata kisah cinta Kendranata dan Sanya yang tersaji hangat, segar dan penuh perasaan indah.


Kendranata yang judes kepadanya seketika seperti coklat lumer jika menghadapi Sanya. Manis, lengket, nempel-nempel, sedikit bikin sebel tapi enak. Enak banget dia lihatnya bila Sanya adalah dirinya. Tapi itu tidak mungkin terjadi, mustahil sekali.


Sanya yang mengerti Hetty tidak mengenal siapa ia sesungguhnya tidak membiarkan Kendranata jauh dari jangkauannya. Jarak dua puluh centimeter wajib di samping kanannya, sudah begitu Bramasta asyik-asyik saja berdekatan dengannya. Tidak rewel. Mereka malah terlihat seperti keluarga bahagia sementara Hetty adalah pengasuh cantik yang membawa tas perlengkapan bayi.


Mimpi siang-siang boleh nggak sih? Pingin mimpi rasanya di perlakukan seperti itu. Tapi takut mimpiku yang baru sampai di atas gedung ini sudah buyar.


Membuntuti Sanya yang pingin ke tempat penjualan kosmetik, hasrat-hasrat untuk memilih dan merasakan sensasi bagaimana ia kembali menjadi orang hedonis meninggi.


Matanya jelalatan ke seluruh rak-rak yang bergelimang cahaya, tangannya ingin menggapai, hidungnya ingin membaui parfum tapi jiwanya pedih...


Kendranata pasti akan mengira bahwa ia matre, ia memanfaatkannya dengan culas seolah mengeruk dananya dan terang-terangan meminta ganti tanggung jawab.


Ini tidak bisa di biarkan, aku harus terlihat jadi wanita baik-baik.


Sementara Sanya terlihat asyik dengan temuannya sambil merepotkan Kendranata untuk memilih parfum baru bersamanya, Hetty bergeming seperti karyawan toko yang hanya mengawasi.


”Enak yang mana mas wanginya?” tanya Sanya.


“Semuanya enak, tapi aku suka parfum yang kamu pakai pertama kali kencan.” Kendranata tersenyum melihat bagaimana wajah Sanya yang ingin mengomelinya panjang lebar.


Tenang... Tenang... Ada misi dari kemesraan ini. Membuang jauh-jauh harapan Hetty untuk ganggu mas Ken-ken.


“Kalau gitu nggak ada gunanya aku pilih parfum dari tadi.” Sanya mendesis gemas. ”Yang ini aja ya, biar ada sesuatu yang lebih batu gitu buat aroma kita.”

__ADS_1


Hetty menghela napas. Dia menginginkan Kendranata memperlakukannya dengan manis seperti Sanya untuk mengisi bayang-bayang Pranata yang tersimpan erat di hatinya tapi lagi-lagi itu muskil. Mimpi yang terlalu tinggi.


Pantas, tidak ada respon apa pun waktu aku peluk Kendra. Hanya uang dan hari Sabtu Minggu bisa dia berikan, itu pun kalau nggak sibuk kerja. Apa perlu aku berdoa biar Sanya dan Kendranata putus? Doa orang teraniaya biasanya kabul.


Hetty memajukan bibir dan Kendranata sempat melihatnya.


”Gak sekalian beli?” tanyanya prihatin, sejak kedatangannya bareng Sanya Hetty benar-benar lesu dan lebih banyak diam tapi yang lebih parah Hetty lebih banyak melamun. Itu yang menakutkan, Kendranata takut Hetty kesurupan apalagi rewel.


Hetty menggeleng, melihat Sanya membayar sendiri parfumnya yang seharga seratus ribuan nyalinya surut untuk sekedar mengendus aroma-aroma parfum keluar terbaru.


”Parfumku masih ada di rumah.”


“Udah yuk mas.” timpal Sanya yang buru-buru mendekat. Takut celah tipis dan detik cepat membuat Hetty mempunyai waktu luang mendekati Kendranata.


”Kak Hetty nggak cari sesuatu? Ini gudangnya wanita lho, surganya hiburan ibu-ibu.” Sanya tersenyum cerah cenderung meledek.


Sanya beristigfar setelah sikapnya kurang baik.


Maaf Ya Allah, Maaf. Khilaf, takut jodoh hamba sampai tua nanti di ambil orang. Maaf. Jangan di hukum.


Sanya memasang wajah memelas seketika yang kontan di pahami Kendranata dengan raut wajah penyesalan.


Kendranata tersenyum lembut sambil menyerahkan Bramasta ke Hetty.


”Ke toilet bentar, kalian langsung aja ke tempat bermain Brama. Aku nyusul.” akunya seraya melengos pergi.


Sanya tersenyum sambil mencoba kembali menawarkan Hetty untuk melihat-lihat ke dalam dengan kata-kata yang lebih sopan.

__ADS_1


Jangan sampai aku kena karma gara-gara jahat. Amit-amit.


Hetty menggeleng seraya melangkah. ”Aku sekarang bukan aku waktu single.”


Bener banget itu, kamu menyedihkan Hetty. Kamu dulu dari sepatu sampai jepit rambutmu glamor, sekarang... Turun kasta jadi memperihatinkan.


Sanya memencet tombol lift setelah Hetty menyebutkan di lantai berapa mereka akan bermain.


”Waktu single dulu memangnya kak Hetty itu ya, mewah? Suka belanja-belanja?” tanya Sanya basa-basi.


“Dua-duanya benar, tapi itu lebih ke pemborosan dan gengsi. Sekarang...”


Sanya sangat paham kenapa dua alasan itu di sebut. Orang kaya memang suka aneh-aneh kalau kebanyakan uang, termasuk Indri yang memberikan sejumlah uang untuk membungkam harga dirinya dari rindu yang diberikan Kendranata. Tapi berhubung dia pintar dan cenderung tidak suka menyimpan beban alias suka ember, dia ungkapkan kelakuan Bu Indri yang berakhir dengan piknik rahasia di kota Semarang.


”Sekarang udah beda kak? Semenjak mas Pranata wafat ya? Aduh...” dengan mimik prihatin Sanya ngelus-elus punggung Hetty. ”Strong women pasti, banyak sabarnya ini. Keren.”


Hetty mendengus dalam hati. Pujian Sanya tidak berguna, dia tidak tersentuh sama sekali dan iri tiba-tiba.


“Mama Indri pasti senang banget punya calon mantu sepertimu, Sa. Udah santun, baik lagi.”


Mendekat ke wahana permainan indoor, suara-suara permainan yang berirama ceria tak membuat wajah Sanya yang mendadak kecut menjadi ceria.


Untuk masalah yang satu aku harus diam saja, aku jawab bohongan karena kita sama apesnya. Dipandang sebelah mata sama Bu Indri.


Sanya mengangguk sambil ngelus dadanya yang berdetak cepat.


__ADS_1


__ADS_2