
Hetty terpantau wira-wiri di dalam rumah sambil memandangi jalan komplek perumahannya yang sepi. Pikirannya riuh pada janji Kendranata yang terucap. Wajahnya cemas, khawatir laki-laki itu membohonginya seperti yang dilakukan Pranata. Belum lagi putranya yang terus mencarinya membuat kepalanya dilanda beban baru.
Seribu satu dalih sudah sering ia katakan, begitu juga plesiran ke tempat-tempat baru untuk mengalihkan perhatian Bramasta sudah ia usahakan dan semalam ia sudah mengumumkan jika Kendranata akan datang hari ini, di Sabtu pagi yang ia sambut manis dan penuh semangat.
Mengepalkan kedua tangan, Hetty yang sudah lelah berharap duduk di sofa. Wajahnya yang memakai riasan tak bisa menutupi rasa sedihnya.
“Ini sudah pukul delapan kenapa si judes nggak datang-datang!” gumamnya muram. “Kalau nggak datang gimana ini? Aduh, puyeng kepalaku dengar tangisan Bramasta.”
Memijat kening, Hetty tidak tahu jika Kendranata bahkan Sanya yang tetap santai tidur di mobil masih hanyut dalam mimpi.
”Lagian cuma dimintai nomer hp pelitnya setengah mati. Kalau begini aku yang bingung sendiri, aku yang... susah lagi. Ampun... royal iya, pelit iya. Jangan-jangan punya kepribadian campuran dia.”
Hetty menggaruk kepalanya seraya mendesah frustasi bersama datangnya Marsudi yang berteriak sayur... sayur...
“Belanja aja terus masak biar waktu dia ke sini udah ada makanan. Nggak perlu masak karena pasti dia cuma masak sup ayam. Bosen ya ampun! Hari-hari sup ayam terus.” Hetty berdiri, membuka pintu rumah sambil memanggil Marsudi.
“Mau belanja apa, jeng?” Marsudi meringis dengan aneh. “Mau masak apa hari ini? Ibu sampean bilang ambil saja yang enak-enak biar sehat.”
Hetty mengernyit dan batal mengambil sotong di kotak yang mengeluarkan bau amis.
”Kemarin aku tanya mama kalau dia nggak bayar belanjaku, Mang?” Sorot matanya setajam beling. ”Mama malah curiga kalo mamang pakai trik itu buat jebak aku biar utangku banyak terus aku harus nikah sama engkau gara-gara nggak bisa bayar.” Berkacak pinggang Hetty menantang tatapan Marsudi.
Di dekat tumpukan bumbu-bumbu instan yang mengeluarkan aroma rempah-rempah, Marsudi terkekeh-kekeh. Bau bawang goreng dan petai keluar dari mulutnya.
”Mamang emang catat daftar pembelian jeng Hetty setiap ambil dagangan, tapi bukan berarti mama sampaen yang bayar, tapi mama yang lain gitu.” Marsudi berkata lalu menyeringai. Dalam benak ia teringat pesan Kendranata kala ia mangkal di depan kompleks pun dengan ancaman agar ia tidak mengganggu Hetty.
__ADS_1
Marsudi yang menciut nyalinya pada akhirnya tidak akan menggodanya lagi. Masih banyak janda-janda yang lain, pikirnya santai.
Hetty mendengus. Sering dibohongi dan diberi janji-janji palsu lantas membuat Hetty kapok dan tidak mudah percaya. Dia mendekati Marsudi seperti preman yang hendak menagih hutang.
“Siapa yang nyuruh?” katanya serius. Matanya melotot, tangannya mengambil kangkung yang akan dia injak-injak jika Marsudi diam saja. “Ngomong nggak, kalau nggak. Oh, aku jatuhin ini semua ke tanah.”
”Gampang.” Marsudi meringis. “Tinggal catat terus ada yang bayar... Hari ini dia datang toh?” Ia menengok ke dalam rumah Hetty.
“Sepi?” Marsudi mendadak muram seperti kelakuan Hetty tadi. ”Belum datang toh?”
“Maksudmu siapa, Mang? Mama yang lain siapa yang bayar belanjaku? Mamaku cuma satu ya, nggak ada dua atau papa jangan-jangan punya istri lagi?” desak Hetty tak sabar lalu menduga-duga yang tidak-tidak.
Marsudi terbahak dan nyaris menyumpal mulut Hetty dengan tomat saking gobloknya janda satu anak itu berpikir.
Pantas gampang di bohongi. Sepele gini susah jawab.
Hetty melongo perlahan-lahan sambil meyakinkan diri ucapan Marsudi menjurus pada Kendranata. Tapi dia tak langsung percaya, Hetty menatap Marsudi dengan muka penasaran seraya berlari kecil ke rumah.
”Bentar, aku ambil hp dulu. Jangan pergi, mang.” teriak Hetty di depan pintu.
“Tidak akan.” Marsudi menggeleng kuat-kuat, “Rugi aku kalau sampai dia tidak datang.”
Hetty memilih foto Pranata yang paling mirip dengan Kendranata.
“Orangnya kayak gini, Mang?” Hetty menunjukkan layar ponselnya di depan wajah Marsudi.
__ADS_1
“Betul banget, jeng. Dimana dia sekarang? Mau ngasih tagihan belanjamu aku.” Marsudi berkacak pinggang. “Harus balik modal ini.”
Alih-alih menjawabnya, Hetty justru berjingkrak-jingkrak dengan senang.
“Si judes perhatian sama aku, si judes perhatian. Terima kasih Tuhan Engkau mendengar doa-doaku.” soraknya bahagia.
Marsudi ngelus dada seraya masuk ke mobil. ”Untung dapat peringatan, kalau nggak bonyok sendiri aku nurutin butuhnya.”
Hetty melongok di jendela tiba-tiba mobil yang tidak pernah Marsudi tutup sampai laki-laki itu tersentak. “Dia belum datang, Mang. Tinggal aja biar nggak ganggu kami nanti... terus biar aku kasih tahu di cari kang sayur tadi, ya.”
“Yakin nggak ngepet uangku?” Marsudi menyipit curiga.
Hetty menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya di depan wajah. Bau pete.
Membuat jarak Hetty memberikan jari janji. “Gak akan, Mang. Aku terlalu cantik kalau harus jadi babii.”
Marsudi menghidupkan mesin seraya melepas rem tangan. Laju mobilnya yang lambat membuat Hetty bisa mengambil sotong, kangkung dan cabe hijau secepat kemampuan ibu-ibu yang tidak perlu diragukan lagi skillnya.
”Mang...” teriak Hetty sambil menunjukkan belanjaan.
Dari spion mobil Marsudi melihat tiga barang itu dan mencatatnya dalam kepala.
⏭️⏭️⏭️
Dear reader, yang tanya Paijo atau Michelle kenapa hilang. Novel mereka aku skip dulu ya. Vi susah konsentrasi dan bagi waktunya nanti pas bulan puasa. Ini murni salahku, maafin ya buru-buru rilis mereka.
__ADS_1
Saat Bertemu Kamu akan tayang setelah ini tamat. See you. Paijo, Icel ( ˘ ³˘)♥