
Kendranata menjangkau daun pintu setelah ketukan di rumah Bu Sri terdengar merambang. Berdiri mengenakan terusan batik, Ratih tersenyum, alamat yang dituju betul.
“Ingat saya nak Kendra?” tanya Ratih, seorang diri ia menuju Surakarta demi mencari sang anak dan cucunya yang tidak ada kabar.
Kendranata sekilas terpukau dengan kedatangan ibunya Hetty, tetapi dengan mudah ia mengatasi keterkejutannya.
“Saya masih ingat.” Kendranata melebarkan daun pintu, “Silahkan masuk.” katanya sopan, pria yang mengenakan pakaian formal untuk memimpin rapat holding company itu tersenyum sekenanya.
Tanpa berbasa-basi Kendranata tak perlu mempertanyakan maksud kedatangan Ratih ke sana. Dia tahu segalanya tentang keluarga Hetty, pun kedatangan wanita itu di rumah orang tuanya.
Ratih mengangguk sopan seraya menyaksikan isi rumah itu sepi. Tidak ada suara bocah yang ia rindukan, tidak ada apa pun di sana kecuali mertua Kendranata yang menyambutnya dari arah dapur.
“Siapa, Le?” tanya Bu Sri kepada Kendranata yang mengetik pesan di ponselnya.
“Ibunya Hetty, Buk. Bu Ratih.” Kendranata menyimpan ponselnya di saku celana.
“Oh, nggih... nggih...” Bu Sri mempersiapkan Bu Ratih duduk. “Saya buatkan minum sebentar.”
“Tidak perlu repot-repot, Bu.” Ratih menggeleng, “Hanya sebentar.”
”Saya juga hanya sebentar.” Bu Sri tersenyum sambil pergi ke dapur.
Berdua saja dengan Kendranata, Ratih mencari Hetty dengan tatapan matanya yang pindah dari satu sudut ke sudut tempat itu.
“Hetty belum pulang dari Kalimantan, Bu. Dia betah di sana.” ucap Kendranata, duduk di sebrang Ratih yang tampak kurang sehat.
“Dia sudah pamit kemarin untuk kerja di sana bukan?”
Ratih mengiyakan dengan anggukan, sorot matanya terlihat sendu oleh rasa rindu yang sudah lama ia simpan. ”Dia sehat?”
Laporan dari Sugandi jika wanita itu sangat energik dan pengganggu membuatnya tersenyum lebar. “Sehat.” Kendranata mengangguk.
“Nak Kendra bisa memberikan saya alamat Hetty di sana? Saya ingin ketemu, saya kangen banget dengan Hetty. Saya pengen lihat dia.”
Kendranata tidak bisa menjawabnya langsung, dia harus mencari persetujuan dari Hetty. Walau dia bisa menebak sebesar apa rindu Bu Ratih kepada anaknya.
__ADS_1
“Saya coba hubungi Hetty sebentar.” Kendra berdiri bersamaan dengan Bu Sri yang membawa secangkir teh dan kue lapis ke ruang tamu.
“Aku telepon Sanya dan Hetty sebentar, Bu. Biar Bama ketemu neneknya sebelum paud.” ucap Kendranata.
Bu Sri menganggukkan kepala seraya mempersilahkan Bu Ratih meminum jamuannya.
Di luar rumah, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi lewat sepuluh menit. Rutinitas Hetty jam-jam segitu hanyalah mandi, sarapan seperlunya, dan dandan. Dengan begitu, dia mudah untuk menghubungi wanita yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
“Assalamualaikum, bosku. Cie, tumben telepon aku duluan kangen ya? Sanya belum kasih jatah?” seloroh Hetty.
Kebiasaan.. pantes Sugandi minta resign.
Kendranata mengangkat dagunya seraya menghela napas.
”Yang kangen ibumu, beliau minta alamatmu dan sekarang ada di dalam rumah.”
Hetty langsung menaruh hairdryer dan mengigit bibirnya.
“Beneran mama datang? Sama siapa?”
“Sendiri. Ibumu terlihat kurang sehat.”
“Yah mama bikin khawatir.” Hetty mengerucutkan bibirnya. Raut wajah ibunya langsung terlihat di pelupuk matanya. “Terus ada apa lagi, bos Ken-ken tahu mama kenapa?”
“Saya tidak yakin ada apa, mungkin bisa saja penyesalan orang tua.” Lagi-lagi ucapan Kendranata membuat Hetty kepikiran.
“Aduh kasian mama pasti ya, cuma aku nggak mau kalau kedatangan mama tidak jelas maksudnya di sini. Aku lho baru berusaha move on. Tapi kalau cuma mau ketemu Bramasta, kasih izin aja bos.”
Bas bos bas bos... Kendranata mematikan sambungan teleponnya, sementara Sanya dan Bramasta juga baru saja pulang dari belanja jajanan pasar.
“Ada tamu mas?” tanya Sanya sembari menunjuk sendal selop wanita.
“Ibunya Hetty. Masuk, urusan Hetty belum kelar.”
Sanya menggandeng Bramasta dengan senyum kecut.
__ADS_1
“Wanita satu itu memang di takdirkan sebagai pengganggu.” gumam Sanya, tetapi Kendranata yang mendengarnya menoleh.
“Jangan begitu, kamu dapat balasannya nanti.”
“Habisnya kalau Sugandi sampai menyerah, dia bakal ganggu kamu lagi mas'e.” kata Sanya sedikit ngegas. “Perutku lihat, hampir buncit isi anak kembarmu.”
“Iya...” Kendranata mengusap perut Sanya lalu pipinya. “Jangan galak-galak begitu, kasian semuanya.”
“Sugandi kasih tambah gaji, biar betah!”
”Baru aku pikirkan, Sya. Sudah ayo masuk.”
Cemberut Sanya mengikuti Kendranata masuk ke dalam rumah, di sana Bu Ratih yang melihat Bramasta sudah tumbuh pesat merentangkan kedua tangannya. Namun ingatan kecil Bramasta yang tidak pernah menangkap sering kedatangan wanita itu hidupnya memilih berlari ke Bu Sri.
Menahan rasa kecewa, Bu Ratih tersenyum kecil lalu menatap Kendranata yang bergeming di belakang Sanya.
“Bagaimana nak Kendra? Mama boleh nyusul ke tempat Hetty kerja?”
“Boleh banget Bu ratih.” jawab Sanya dengan spontan. ”Hetty sangat membutuhkan ibu di sana.”
Kendranata menghela napas. “Saya harus bertanya lebih dulu, adakah tujuan lain Bu Ratih menemui Hetty? Dia sedang berjuang memulihkan kondisinya yang berantakan, akan sangat membantu jika ibu datang untuk memberinya semangat bukan untuk yang lain.”
Bibir Ratih bergetar, cucunya sudah lupa, tetapi Hetty mungkin tidak. Hubungannya dengan Hetty masih bisa di perbaiki dan ia yakin tak masalah suaminya tidak mendukung keputusan-keputusannya. Ratih yakin Hetty bisa maklum dan memaafkannya.
“Ibu ingin memperbaiki hubungan dengan Hetty, bagaimana pun satu-satunya anak perempuan yang saya miliki hanya dia.”
”Apa karena ibu sudah sepuh, takut tidak ada yang mengurus?” timpal Sanya.
“Cukup.” Bu Sri menengahi. ”Kasih saja alamat Hetty ke ibunya, jangan durhaka!”
Kendranata mengelus kepala istrinya. “Hormon kehamilan, Bu. Sensitif. Ini juga karena Sugandi berkali-kali minta resign, nggak kuat Hetty minta perhatian terus. Takut cinlok dia tapi juga takut di tolak.”
Ratih menunduk kepala sambil tersenyum samar. Hetty putrinya, masih tak berubah.
...----------------...
__ADS_1