Rekah Hati

Rekah Hati
Sugandi dan Gas.


__ADS_3

Meninggalkan pengantin baru yang sedang menjajaki pendekatan ragawi di malam yang wening dan syahdu. Hetty menanti sepasang tangan yang bisa membantunya memasang gas di regulator. Ia duduk-duduk manis di ambang pintu sambil mengetik sesuatu di ponselnya, membiarkan pintu terbuka mengeluarkan aroma gas yang menyengat di dari dalam kostnya.


Tak lama, ojek daring membawakan makan malamnya dalam kemasan styrofoam yang di titipkan di pos satpam. Hetty menerimanya sembari tersenyum lega.


“Walau aku masih berharap ada yang menolongku, sekarang lebih baik makan dulu.” gumam Hetty, ayam cabai hijau ia review dan rekam di ponselnya. Kegiatannya semasa jauh dari sempurna, masih ia lakukan di waktu senggang.


Di sebrang bangunan kost-kostan ekslusif yang memiliki tiga lantai, rumah kontrakan yang di tempati orang suruhan Kendranata seorang pria mengamati pagar rumah itu dengan teliti.


“Saya sangat beruntung wanita itu hanya pergi ke kantor, pasar, swalayan dan rumah. Tidak macam-macam.” ucap Sugandi, pria berusia nyaris tiga puluh empat tahun itu


Menyesap rokoknya dengan ditemani secangkir kopi, dia masih mengamati Hetty seraya memeriksa ponselnya saat nada pesan berbunyi.


‘Pasang gas di kost Hetty!’


Sugandi mengepalkan tangan kirinya seraya memukul keningnya perlahan.


‘Apa iya harus aku, bos?’


Kendranata yang menemani Sanya menonton film ayat-ayat cinta 2 mendengus.


‘Lakukan atau minta orang lain! Wanita itu akan mengganggu malam pertama saja dengan chat tidak pentingnya!’


Sugandi menggaruk keningnya. Ada-ada saja pikirnya. Kenapa tidak diizinkan saja wanita yang pintar mengolah keistimewaan yang dimilikinya tinggal bersamanya agar semuanya mudah di jaga.


Sugandi menggaruk keningnya semakin frustasi. “Minta tolong siapa ini?” tanyanya pada udara.


Beranjak, seraya mengambil gagang cangkir Sugandi menyesap kopi hitamnya. Matanya menatap nyalang kost itu sebelum memasukkan ponselnya di kantong celana jins dan menghabiskan kopinya.

__ADS_1


“Mari kita selesaikan urusan gas dan regulator sebelum tidur nyenyak.” Ia menarik pintu gerbang seraya menyebrangi jalan.


Di pos satpam, Sugandi tersenyum ramah seraya mengatakan ada rekannya bernama Hetty yang mengirim pesan untuk membantunya memasang gas.


“Hanya sebentar, selesai memasangnya saya keluar. Teman saya harus masak.” kata Sugandi serius.


Satpam membuka gembok pintu gerbang besi bercat hitam seraya mendorongnya.


“Lima belas menit!” ucap satpam tegas.


Sugandi mengangguk sembari melangkah masuk ke kost-kostan yang di jaga ketat oleh dua orang satpam dan tidak membebaskan tamu pria menginap. Salah satu fasilitas yang dipilih oleh Kendranata untuk menjaga wanita itu.


Sugandi mengingat nomer kamar Hetty sembari menghela napas. Di mencari letak anak tangga sebelum melangkah dengan gegas ke sana.


Hetty tersentak dengan pria yang mendekatinya dengan tatapan penasaran.


“Kak Hetty, betul?” tanya Sugandi.


Sugandi melihat perlawanan Hetty yang nampaknya memang menjaga baik-baik dirinya dan pesan Bu Sri.


“Saya di suruh bos untuk memasang gas di sini, jadi waktu saya cuma lima belas menit.”


Sugandi langsung masuk ke kamar Hetty yang di hiasi banyak foto Bramasta. Lelaki itu menghela napas seraya berjongkok.


Di belakangnya, Hetty membuntutinya seraya berkacak pinggang.


“Kendranata hubungi kamu?”

__ADS_1


“Sudah jelas jawabannya!” Sugandi mencari karet merah pengganti saat regulator yang di pasang masih mendesis tajam.


Matanya jelalatan di seluruh permukaan dapur Hetty yang bersih, tak menemukannya dia menunjukkan karet gas itu ke depan wajah Hetty.


“Punya serep tidak?” Sugandi berdehem, ”Benda seperti ini penting untuk mengganti size karet yang tidak cocok, jangan di buang. Kumpulkan!”


Hetty menahan napas sambil menggeleng. “Bukannya bentuk semua gas sama, kenapa size karetnya berbeda-beda?”


Mata Sugandi naik turun. Wanita dari mana ini, ngakunya dewasa tapi hal seperti itu yang seharusnya dia paham malah begitu membuatnya susah napas.


“Saya juga tidak paham kenapa ukuran karetnya berbeda-beda. Sebentar...” Mengetahui di kost itu juga tinggal pemiliknya yang seorang janda, Sugandi meminta izin satpam untuk menemui ibu kost.


Tanpa basa-basi ia langsung mempertanyakan maksud tujuannya dan tak berselang lama, Sugandi membawa lima karet gas dari ibu kost yang memakai pakaian syar'i.


Di kamar Hetty, pria yang memakai setelan santai itu langsung mencoba satu persatu karet dan berhenti di percobaan ke tiga. Kompor menyala Hetty pun lega.


Dia mencuci tangan sambil tersenyum lebar. “Makasih ya.”


“Lain kali minta tolong satpam atau ibu kost, jangan mengganggu bos.” Sugandi mencuci tangannya seraya mengeringkannya di kain lap.


Hetty menghela napas. “Dia sudah nikah hari ini. Aku galau, siapa namamu?”


Sugandi mengetik laporan. ‘Misi selesai.’ Dan langsung ia kirim ke Kendranata.


“Suga... Saya permisi.”


Hetty hanya bisa eh... eh... saat pria itu melengos pergi dari kamarnya dengan langkah cepat.

__ADS_1


“Main kabur saja, padahal kan seru bisa ngobrol-ngobrol dulu.” Menguncupkan bibir, Hetty menutup kamar kostnya yang kembali terasa sepi.


...----------------...


__ADS_2