
Kendranata terdiam sejenak, berusaha menduga apa yang sesungguhnya sedang terjadi di rumah yang tampak lebih mencekam dari rumah hantu. Hening merambat ke seluruh penjuru atas suasana payah yang diciptakan Lambang.
Kendranata menggaruk tengkuknya sambil mencerna arti dari ekspresi Hetty, Rani, dan Lambang yang duduk santai ditemani secangkir kopi.
Hetty terlihat bukan lagi nelangsa seperti saat ia tinggalkan. Tetapi dia terlihat marah dan kesal.
Tangannya menenteng tas besarnya yang ia ketahui berisi perlengkapannya di samping Rani yang ingin sekali menumpahkan segala hal yang ia ketahui akan tetapi wanita berjilbab biru langit yang menemaninya pulang menyita logikanya. Kendranata memiliki kekasih.
”Mau pulang?” tanya Kendranata.
Hetty berpikir dalam, mencari kalimat terbaik untuk menjelaskan situasi yang ia hadapi.
Tidak mungkin aku bicara sejujurnya, yang ada makin hancur ini rumah. Tapi aku juga harus bilang ke Kendranata, hanya dia yang bisa jaga aku dan berbeda dari tabiat bapaknya apalagi Pranata.
Hetty yang takut menimbulkan kekeliruan besar menganggukkan kepala, ia harus lari dari keluarga itu tetapi Kendranata dan Herlambang mengungkapkan satu cara terbaik menghadapi masa lalu. Berdiri dan mulailah berdamai, tidak perlu melawannya, apalagi dilupakan, untuk apa? Hanya dengan cara itu semua kepahitan masa lalu perlahan-lahan akan memudar sendiri ke bagian lain hidup ini.
“Iya mau pulang, udah lama aku di sini nggak enak. Mama nanti cari aku apalagi mamang Marsudi, sayurnya nggak ada yang beli. Heww...” ucap Hetty mati-matian mengendalikan suaranya agar tidak bergetar.
Bukan itu alasannya pulang, bukan, dia menyembunyikan sesuatu dan aku sangat tahu watak perempuan ular itu.
Kendranata meraih Bramasta yang di gendong Rani. ”Bama mau jalan-jalan dulu sama suster Rani, bunda Sanya dan Om Kendra sebelum naik kereta?”
“KRL paling malam jam delapan, Ken. Gak usah jalan-jalan.” sergah Hetty cemas. ”Antar kita aja ke stasiun. Tolong.” pintanya terdengar serius.
”Baik...” Mengalah dalam dusta Kendranata mengangguk seraya menatap Sanya, urung ia mendekatkan kembali Sanya dalam keluarganya. Waktunya tidak pas, tidak juga buruk, yang penting Sanya tahu kejujurannya nyata.
”Kita makan malam di luar sekalian, Sanya baru saja pulang kerja kasian dia belum makan.”
Sanya yang tertawan sepenuhnya oleh dusta Kendranata tersenyum rikuh, kembali ke rumah Herlambang dengan status baru yang lebih serius membuatnya mengomel sepanjang perjalanan dari pusat perbelanjaan ke rumah yang di hiasi satu lampu gantung di bagian terasnya.
Pamit kepada Indri, Hetty berucap santun dan hanya mendapatkan deheman tanpa perlu bersalaman tangan. Sepenuhnya ia akan maklum, wanita itu besar egonya dan sebagai yang muda ia mengalah. Menghadap ke Lambang, jantung Hetty berdetak tak karuan, kepalanya memutar kilas balik kejadian di kamar tadi.
“Saya bisa membelikan rumah di Solo agar Bramasta bisa sering-sering main ke sini.”
__ADS_1
Penawaran itu Hetty tolak mentah-mentah. Jogja-Solo menggunakan KRL hanya perlu satu jam! Rumah di Solo tidak penting, ia hanya minta Bramasta diakui sebagai cucu, untuk bertemu pun cukup sewajarnya, tidak perlu ada skandal lagi. Apalagi kawin dengan bapak pacarnya? Setan apa yang menghasut Herlambang?
“Kehidupan mewah seperti dulu lagi saya juga sanggup memberikan.” bujuk Herlambang lagi.
Untuk yang satu itu Hetty cukup berpikir keras. Sangat keras sampai ia tidak mampu menjawab.
Herlambang mengulurkan tangannya saat Hetty berusaha bersikap ramah kepadanya dengan mengajaknya bersalaman.
Keduanya bertatapan dan hanya keduanya yang paham arti dari sorot mata penuh arti itu.
”Saya menerima Bramasta sebagai cucu kami dan untuk keperluannya akan menjadi tanggung jawab keluarga Pamungkas asalkan dia kamu rawat dengan baik dan penuh kasih sayang.”
Kendranata merasa speechless, apalagi Indri, seolah dikhianati dia merasa tidak sedikitpun lega atas keputusan suaminya yang tampak lebih wangi.
Hetty hanya mengangguk, ”Terima kasih, pak. Permisi.” Ia melempar senyum pada Mbok Tumi dan Asih yang membuka pintu gerbang sementara Kendranata mengeluarkan mobil Herlambang, New Xpander abu-abu.
Tiga orang wanita dan satu pria cilik bergabung ke dalam mobil. Kendranata menghela napas sambil mengemudikan mobil keluar rumah.
Sanya yang ikut penasaran menoleh ke belakang, ke bangku penumpang. Menatap Rani yang tidak menggunakan pakaian dinasnya.
“Rani siapanya mas Ken-ken?”
Mas Ken-ken. Batin Hetty dan Rani nyaris bersamaan.
“Perawat ibu, Sanya. Masih baru, sarjana psikologi. Cocok jadi teman ibu.”
Rani yang hanya dianggap perawat Bu Indri tersenyum. ”Kenalan dulu, Mbak.”
”Aku Sanya, teman baiknya mas Ken-ken. Teman hidupnya seumur hidup.” guraunya sambil mengulurkan tangannya.
Rani bersalaman dengan wanita yang mengugurkan cintanya sebelum berkembang untuk Kendranata.
”Seperti yang aku bilang tadi mas, Mbak Hetty dan Bapak bicara soal keputusan masalah kemarin. Dan belum ada setengah jam, Mbak Hetty keluar dan bilang biadab. Aku nggak tahu apa, mereka hanya ngobrol berdua.”
__ADS_1
Hetty yang merasa privasinya di beberkan mengerucut bibir. Setali tiga uang. Dia membeberkan informasi tambahan.
“Aku perlu bicara sama kamu, Ken. Berdua. Penting banget karena kamu harus tahu.”
Kendranata sudah menduganya, “Gimana, Sya? Boleh?” tanyanya.
Melihat kegawatan di muka Hetty Sanya mengangguk. “Boleh kok boleh. Kalau curhatnya kemalaman nanti bisa nginep di rumahku dulu daripada ngelaju... Rawan ih.” Sanya bergidik ngeri.
Rawan karena pasti Kendranata tidak membiarkan Hetty seorang diri.
Kendranata mengedipkan sebelah matanya sembari mengusap lembut jilbab wanita itu. ”Anak manis, jadi tambah sayang.”
Meski yang dipuji Sanya, dua wanita yang haus perhatian di belakang mereka ikut merasakan kasih yang diberi Kendranata lalu berandai-andai yang diusap kepalanya itu mereka.
“Iri, ya?” celetuk Sanya tiba-tiba.
Hetty dan Rani mendadak terkejut seraya meringis aneh. Mengejutkan pula Kendranata yang kembali fokus mengemudi.
“Andai bisa di bagi-bagi, Mbak. Rani mau.”
Kendranata mengerem mobilnya tiba-tiba di bahu jalan sampai tubuh mereka terhuyung ke depan. Ia menoleh.
”Rani lebih butuh gaji dua kali lipat atau saya pecat?”
“Gaji dua kali lipat, mas. Hi...”
Kendranata memberi tatapan serius mengingatkan Rani agar tidak perlu mencintainya, itu muskil dan mustahil lalu tatapannya pindah ke Hetty yang tersenyum irit.
“Kamu juga, Hett. Jangan berharap!”
“Gak kok. Nggak akan!” Hetty menggeleng. ”Tapi asal kamu tahu, Ken. Pak Lambang memintaku untuk menjadi ibu tirimu!”
“APA!!!”
__ADS_1