
Deru mesin kereta api dan roda kereta yang mengilas rel serta peringatan lonceng tanda melintasnya transportasi tersebut memekakkan telinga Kendranata yang baru pertama kali nongkrong di bawah jembatan layang Lempuyangan.
Lokasi gratis yang eksis didatangi oleh keluarga kecil untuk menghabiskan waktu dan memintal kebersamaan dengan menonton kereta lewat itu menjadi tujuan Hetty kala permintaan jalan-jalan terus menggerus kesabarannya. Mereka meninggalkan rumah menggunakan motor bebek Hetty setelah menghabiskan makan siang dan memandikan Bramasta.
“Mau makan lagi, Hett?” tanya Kendranata yang bergeming di samping odong-odong tempat Bramasta duduk menikmati wahana yang berputar-putar santai dan memutar lagu anak-anak.
Perlahan tapi pasti Kendranata sudi menghafal beragam macam lagu anak-anak dalam waktu singkat seolah mengasuh anak selama ada ibunya akan terasa mudah. Betul begitu bapak-bapak?
Ibu-ibu pasti serentak mengiyakannya dengan tampang setuju dan mengolok sang suami yang kadang absurd dalam mengasuh anak.
“Siomay boleh, Ken.. Traktir ya?” Hetty nyengir di dekat palang kereta lalu mengganti posisi Kendranata yang berlalu di dekat odong-odong, dia membeli dua porsi siomay komplit dan sepiring kentang kukus yang di beri kecap untuk Bramasta.
“Nggak minum sekalian?” seloroh Hetty saat Kendranata menjulurkan piringnya.
“Mau apa?”
“Es milo, tapi milonya dobel di satu gelas.” ucap Hetty setengah manja. ”Itu minuman favoritku dan Nata.”
Kendranata menarik kursi plastik yang warnanya telah pudar di angkringan yang mangkal di dekat odong-odong.
“Milo dobel dalam satu gelas mas.” ucapnya malas seraya melahap gulungan kubis yang telah di lumuri bumbu kacang dan kecap ke mulut. ”Sekalian es jeruk manis satu.”
“Monggo...” Si bapak angkringan menaruh dua pesanan Kendranata di meja, di depan tumpukan nasi kucing, gorengan, sate usus, sate telur puyuh dan kerupuk-kerupuk dalam kemasan seribuan.
Setelah mengantar es Milo ke Hetty yang menghadiahinya senyuman manis sebagai tanda terima kasih, kembali Kendranata nyantai di angkringan sambil sekali dua kali melihat Kendranata lewat.
”Baru pulang dari luar kota nggih, mas?” tanya si bapak angkringan setelah mengamati Hetty dan bocah yang saban sore dalam seminggu tiga kali nyantai di bawah jembatan layang Lempuyangan.
“Mbaknya sering ke sini itu berdua, baru sekarang saya lihat sampean nemenin. Mirip banget lho sampean sama Bramasta.”
__ADS_1
Kendranata mengunyah siomay sembari mengangguk. Tak perlu bohong, tak ada gunanya bersilat lidah pada orang asing. Dia minum es jeruknya seraya mengeluarkan sebatang rokok.
“Kerja di Kalimantan saya, pak. Baru putus kerjasama, makanya saya sudah pulang.” Aku Kendranata, sepenuhnya benar karena yang ia ceritakan adalah putusnya kerjasama bisnis dengan Dominic.
Tampak wajah kagum dan prihatin dari bapak angkringan. “Itu namanya ganti rezeki mas, di Kalimantan banyak uang tapi sendirian, mau seneng-senengnya bingung nggak ada yang di sikat malam-malam.” Cengiran bapak angkringan terlihat mengerikan dan penuh ambigu. ”Di sini enak, dekat bojo, dekat anak, cari kerja gampang, pokoknya mandali mas.”
Kendranata tersenyum sembari mengembuskan asap rokok.
Bojo? Anak? Enak? Di sikat malam-malam? Sepatu? Kok jadi prihatin sama diriku sendiri.
Kendranata merenung, dari semua yang terjadi pada Hetty, kesehariannya dalam mengasuh Bramasta cukup unik, keterbatasan finansial nyatanya tetap mampu memberi edukasi dan kesenangan bagi Bramasta.
”Papa... ayow... pu... lang.” Tangan mungil Bramasta menarik kemeja Kendranata yang kusut setelah berjalan tertatih ke arahnya.
Kendranata menoleh dan menunduk. Senyumnya terlihat. Usai merajut obrolan santai yang lebih manusiawi baginya dengan pedagang sate ayam kaki lima yang ikut mangkal di bawah jembatan layang dan pedagang angkringan yang hafal betul kecantikan Hetty, Kendranata akhirnya pamit.
“Bawa saya ke supermarket.” kata Kendranata sembari naik ke atas motor, “Kau yang bawa motor.”
“Saya ini bukan siapa-siapa kamu! Jangan begitu.” Air muka Kendranata kecut. “Jangan berharap saya luluh akan kelakuanmu dan batal pulang ke Surakarta.”
Hetty mencibirnya sembari naik ke atas motor setelah membayar parkir dari uang recehan yang beruntung ada dashboard motor.
”Kita itu partner, jadi harus kerjasama. Toh apa salahnya aku cuma pakaiin helm di kepalamu?” Hetty menyipit mata. ”Oh... iya... ya... Maaf nggak sopan, ya?”
Tangan Kendranata menahan tubuh Bramasta agar tetap aman berdiri di tengah-tengah mereka sementara motor mulai melaju. Melintasi rel kereta yang bergeronjal sebelum melaju mulus ke supermarket di bawah teduhnya langit Jogja di penghujung sore.
“Kamu cari keperluan Bramasta dan keperluanmu sendiri.” ucap Kendranata, menarik troli belanja dan menaruh Bramasta di dudukkan dalam troli.
Hetty menyamakan langkah mereka di dalam supermarket. “Kamu serius, Ken? Aku tadi cuma iseng-iseng berhadiah.”
__ADS_1
Kendranata menilik Hetty yang kelihatannya memang iseng, wajahnya jadi kuyu dan malu setelah ia menyebutkan suruhannya.
“Kamu bisa menganggap ini sebagai hadiah sudah merawat Bramasta dengan baik terlepas dari rasa dukamu kehilangan Pranata dan cara keluargaku menyelesaikan masalah ini.” Kendranata mengarahkan dagunya ke penjuru supermarket.
“Lakukan sebelum saya berubah pikiran dan menyakitimu.”
Hetty manggut-manggut. Kakinya yang sempat ragu langsung bergerak mengambil keperluan dapur satu persatu, bahkan total beras seberat 20kg ia taruh di troli tambahan, kakinya terus bergerak lincah pada tempat-tempat yang sudah ia hafal betul untuk menyempurnakan kesempatan berharga itu dengan baik sampai di titik paling menggiurkan yang sudah jarang ia sambangi. Namun untuk yang satu itu ia bertanya dulu pada Kendranata yang tetap memasang wajah datar melihat sebegitu banyak belanja Hetty.
“Boleh, Ken?”
“Mau beli make up?”
“Iya.”
“Pilih saja, satu set, jangan leb—”
Sebelum Kendranata menyelesaikan suaranya, Hetty sudah keburu melesat ke counter make up seraya memilih satu set hang dia incar selama ini.
Hetty menyerahkan selarik kertas nota pembeliannya kepada Kendranata.
“Di tebus ya, jangan bilang jangan.” Senyumnya merekah, kelegaan sangat jelas di wajahnya atas rezeki nomplok hari ini.
Kendranata menghela napas, melihat banyaknya jumlah belanja hari ini, ia yakin tak cukup satu juta untuk memenuhi kebutuhan Hetty dan Bramasta selama ia tinggal.
Benar-benar rakus. Pacar orang di embat, dapat hadiah cuma-cuma langsung seisi toko di ambil satu-satu. Dasar perempuan ular.
Hetty menyentuh kedua bahu Kendranata dari belakang. “Makasih ya.” katanya tulus.
Kendranata mendengus. “Sewa taksi online kamu, sekalian bawa sendiri barang-barang ini keluar.”
__ADS_1
”Ya elah, Ken. Kalau baik itu baik terus dong, jangan setengah-setengah.”
Cuih, ngerayu.